Catatan merah Binar

Mentari sendja
Chapter #9

#9


Jam pulang sekolah sudah berdering sejak lima belas menit yang lalu. Binar tidak beranjak dari tempat duduknya. Ia duduk sendiri di taman sekolah. Ia takut untuk pulang ke rumah. Tadi pagi Ibu datang untuk memenuhi panggilan wali kelas.

Kepala Binar berdenyut. Semalam ia susah tidur. Perdebatan dengan Ibu membuat dadanya sakit. Semuanya terasa menyesakkan. Kadang terbersit di kepala Binar, ia ingin pergi dari rumah. Tapi hal yang membuatnya berpikir seribu kali adalah Ibu. 

Bagaimana jika Alan nekat melukai Ibu?

Binar lelah. Perdebatan dengan Ibunya tidak ada hentinya. Rasanya seperti terkurung di dalam jeruji besi. Ia selalu takut untuk pulang ke rumah. Takut jika Ibu marah padanya. Takut mendapatkan tamparan dari Ibu. 

Memang, Binar tidak tahu apa yang dibicarakan antara Ibunya dengan wali kelas. Namun ia tetap merasa was-was.

Binar membuka tasnya. Mengeluarkan buku catatannya. Untuk saat ini, menurut Binar, lebih baik ia menuliskan semua yang terjadi padanya. Sebab Ibu bukan lagi pendengar untuknya.

Semalam Binar kelabakan mencari buku catatannya. Ia sudah mengobrak-abrik tasnya. Mencari ke seluruh sudut kamarnya, namun nihil. Keesokannya Binar sengaja berangkat lebih awal. Barangkali bukunya tertinggal di laci mejanya. 

Dan dugaan Binar benar. Buku catatannya tergeletak di sana. Binar merasa lega saat itu juga. Buku itu menyimpan rahasia besar Binar. Ia sangat berhati-hati menyimpannya.

BRAK!

Binar terkejut. Ia langsung berdiri. Jantungnya berdegup kencang ketika sesuatu jatuh dari atas pohon. Untungnya Binar sempat menghindar.

Di hamparan rumput, Fiki meringis sambil memeluk seekor anak kucing. Rambut laki-laki itu berantakan. Seragamnya sobek di bagian punggung.

Binar memeluk kucing yang berlari ke arahnya. Ia kembali duduk di kursi taman. Sepertinya kucing itu menyukai Binar.

Fiki bangkit lalu ikut duduk di kursi taman. Ia sibuk meniup-niup luka di tangannya. Sesekali Fiki melirik Binar. Kalau seperti ini, Binar terlihat seperti Binar yang dulu. Tenang dan ceria. Bukan Binar yang pendiam dengan tatapan kosong.


"Sakit banget Bin," keluh Fiki.

"Bersihin aja lukanya," jawab Binar datar, tapi matanya masih fokus ke anak kucing.

Fiki berdecak. Ia melirik Binar yang tidak berhenti menciumi anak kucing itu. Pandangannya lalu jatuh pada buku catatan Binar yang tergeletak di rumput.

Fiki teringat pagi tadi. Ia sengaja berangkat pagi, bahkan sebelum satpam membuka pintu kelas. Yang Fiki tahu soal Binar, gadis itu selalu berangkat paling awal. Karena itu Fiki berangkat sepagi itu juga, lalu melanjutkan tidurnya di kelas sebelum bel masuk berbunyi. 

Ia hanya takut... takut Binar menjauhinya jika tidak sengaja menemukan buku catatan Binar.

"Itu buku lo?"

Binar menoleh. Kucing yang dipangkuannya langsung berlari. Mata Binar membelalak saat melihat bukunya tergeletak di atas rumput. Ia bergegas mengambilnya, lalu mengelap covernya pelan-pelan. 

Gadis itu buru-buru memasukkan buku itu ke dalam tasnya. Fiki hanya mengamati gerak-gerik Binar. Cara Binar yang sangat berhati-hati menyimpan buku itu membuat Fiki semakin yakin. Yang Binar tulis di sana bukan sekadar tulisan. Ada luka yang Binar tutup rapat-rapat.

Binar lalu mengeluarkan sebuah kotak kecil dari tasnya. Ia menyodorkannya pada Fiki. Sebuah kotak P3K kecil. Fiki menatap Binar penuh tanya.

Lihat selengkapnya