Catatan merah Binar

Mentari sendja
Chapter #10

#10

"Sekolah itu, Bin?" 

Binar mengangguk lemas. Sebenarnya ia muak mengingat-ingat hal ini. Ia sudah menganggap ini hanya senjata Ibunya. Binar berharap jika ia merayu, pasti Ibu luluh.

"Bin, susah ya posisi kamu?" 

Binar hanya terdiam. Ia yakin Rosa sudah tahu jawabannya. Pikiran Binar kacau. Ia tidak tidur semalaman.

"Bin! Aku ingat sesuatu!" ujar Rosa sambil menjentikkan jarinya.

"Apa?" 

Rosa menunduk, bersiap berbisik-bisik. "Seingat aku ya, sepupu aku sekolah di sana. Aku pernah dengar ada guru yang melakukan pelecehan ke muridnya."

Mata Binar membelalak. Bukan tidak percaya. Ia hanya kaget. Ia tidak heran. Alan memang gila. Berapa banyak siswi yang sudah jadi korban predator itu?

"Kamu serius, Ros? Jangan mentang-mentang mau bela aku terus bikin berita bohong gini ya."

Rosa berdecak. "Aku yakin, Bin. Tante sama Om aku sempat kepikiran buat pindahin sepupu aku ke sekolah lain."

"Terus sekarang gimana?" 

"Ya karena gurunya itu dipecat, jadi sepupu aku nggak jadi pindah."

Binar memutar bola matanya. "Itu berarti beda orang."

Binar merenung. Ia sadar satu hal: berarti banyak predator seperti Alan di luar sana. Dan ia tinggal serumah dengan predator itu. Binar bergidik ngeri.

Seharusnya sekolah itu aman karena oknumnya sudah dipecat. Tapi siapa sangka, ada Alan yang memakai topeng. Binar tidak bisa membayangkan reaksi Ibunya jika tahu Ibu menikah dengan predator.

Jika diingat-ingat, ada kejanggalan. Bukan karena Binar peduli pada Alan. Tapi ia jadi pengamat untuk melindungi dirinya sendiri. Ia hafal jam berapa Alan di rumah. Ia tahu kapan Alan tidak ada.

Benar, ini janggal. Sering kali saat ia di rumah sendirian, Alan pulang, lalu pergi lagi sebelum Ibu pulang. Dan Alan sering mengikuti Binar ke mana pun.

Seperti waktu di pemandian umum. Binar tidak menyangka Alan tahu persis jadwalnya. Pria paruh baya itu menguntitnya.

Lain waktu, Binar benar-benar melihat Alan mengikutinya. Binar selalu sadar jika ada yang membuntuti. Saat itu ia sedang mengerjakan tugas bersama Rosa di warnet. Alan duduk bersembunyi di balik motornya yang terparkir di seberang. Binar ingat, Alan masih pakai seragam mengajarnya.

"Rosa?" 

"Iya, Bin? Kenapa?" 

"Boleh aku minta tolong tanyain ke kakak sepupu kamu itu?" tanya Binar berbisik. 

"Soal apa?" 

"Soal guru yang kamu ceritakan tadi. Siapa namanya. Aku merasa janggal."

"Oke, Bin. Secepatnya aku cari info."

Binar mengangguk. Jika benar yang dimaksud Rosa itu Alan, maka Binar berani bertaruh. Sebentar lagi ia akan membawa bukti pada Ibunya.

Satu, dua minggu berlalu. Binar, dengan dibantu Rosa, mencoba mengumpulkan bukti-bukti yang valid tentang Alan yang melakukan tindak asusila di lingkungan sekolah.

 

Lihat selengkapnya