Desau angin meniup rambut Binar yang terurai. Suara ombak yang menghantam karang bak nyanyian pengantar tidur bagi Binar. Resah dan tangis yang ia simpan membuat dadanya sesak. Badai bergumul tak kasat sementara hujan turun dengan tenang.
Binar tak mengusapnya dengan jemarinya. Dibiarkannya hujan-hujan itu menggenang melintasi pipi yang terasa dingin. Hembusan napasnya berat, diiringi tangis dan isakan. Binar memeluk tubuhnya sendiri. Ia berdiri ditepi laut. Sepi. ia sendiri.
Mungkin air matanya sebanding dengan lautan. Tubuhnya terlalu ringkih menopang sekian luka berpuluh tahun. Luka yang ia kira telah kering, nyatanya masih saja perih. Pertanyaan yang menyusup dikepalanya terdengar seperti pernyataan. Ia tak mendapati jawaban, hanya makian teriakan penuh ketakutan dari dirinya sendiri.
Selamat, Binar selamat. Seperti sebuah kalimat yang tajam. Ia seperti selamat dari kecelakaan, namun cacat.
Tidak ada rengkuhan, ataupun kata maaf yang ia dengar. Hari itu Binar masih hafal bagaimana kehidupannya seperti berakhir. Dan bagaimana ia bangun dalam keadaan ditampar kenyataan. Bahwa itu bukanlah mimpi buruk yang panjang, itu takdir atas hidupnya.
Rumah bukanlah rumah, tempat untuk pulang. Ketakutan membuatnya berani pergi jauh dari Ibunya.