"Mengapa jalanan ini semakin kita lewati semakin menyempit Bamba?" tanya Barli
"Jalanannya agak mengerikan, hati-hati Bamba di setiap kiri dan kanannya tertutup oleh semak berduri dan di balik semak itu terdapat jurang yang sangat dalam.
"Ya Barli kamu juga berhati-hati Barli, bila kamu jatuh kamu tak akan pernah bisa diselamatkan"
"Iya iya Bamba",
Kami telusuri jalan setapak yang sempit, semakin di lalui jalan itu semakin rimbun bersemak dan berduri,
"Bamba apa yang ada didepan kita Bamba ?"
"Ssst... Jangan bersuara barli, itu adalah mayat ksatrya yang berdiri mati di topang oleh pedangnya"
"Barli kita harus berjalan cepat, karena aku merasakan signal bahaya yang sedang mengintai kita"
"Ya ya Bamba" sambil tergopoh gopoh kami berjalan
Mereka berjalan dengan penuh hati hati, mereka berjalan sambil menoleh ke kiri dan ke kanan, waspada dan bersiaga selalu
"Bamba!! Suara apa itu? Seperti suara hewan besar yang mendengkur tertidur"
"Ssst... jangan bersuara Barli !, aku takut itu adalah Beruang langit yang sedang tertidur"
Saat Bamba menghalang semak yang menutupi jalannya terlihat seekor Rubah hitam raksaksa yang sedang bersujud diatas akar yang ditumbuhi oleh lumut yang hijau
"Berhenti Barli!! Jalan kita terhalang oleh rubah hitam yang sedang bersujud"
"Bamba besar sekali binatang itu Bamba !, jangan sampai ia terbangun Bamba"
"Ya ya... Jalanan kita tertutup oleh rubah hitam yang sedang bersujud"
"Lihat Bamba, terlihat olehku aliran sungai kecil dibawah kolong sujudnya, sepertinya itu adalah aliran air yang keluar dari mata rubah hitam itu Bamba"
"Ya ya Barli, aku tidak pernah tahu hewan apa yang ada didepan kita, aku tidak tahu jadinya kalau rubah hitam ini terbangun, mungkin ksatrya yang mati betdiri itu adalah korban dari rubah hitam ini"
"Lalu bagaimana kita melewatinya Bamba? Sementar jalan kita tertutup oleh rubah hitam"
"Sebaiknya kita ambil jalan memutar Barli, karena tidak ada pilihan lain"
"Baiklah Bamba"
Kami telusuri jalan memuutar walau jalan tertutup oleh semak belukar
"Bamba lihat ada prasasti berdiri megah di dekat mu Bamba"
"Bamba terkejut, waaah prasasti apa ini? Sejauh aku menelusuri alam mimpi theta 2, baru kali ini aku bertemu dengan prasati seperti ini"
"Bamba kau lihat, ada. Beberapa tulisan di prasasti itu, apakah kamu bisa membacanya Bamba"
"Tulisan ini sangat kuno sekali Barli, bahkan satu hurufpun tak ada yang aku mengerti"
"Apa ya kira kira isi tulisan ini. ?"
Mungkin kah salah satu bahasa di alam nyata Barli?
Hmmm... Aku tidak mengerti Bamba, sepertinya ini adalah sebuah petunjuk atas apa yang sedang dilakukan rubah itu
Tapi tulisan ini sepertinya dibuat bukan dengan pahat yang kebanyakan dipakai di alam nyata... Sepertinya ukiran ini dibuat dari cakaran kuku yang berulang, detail nya sangat sempurna, cukilannya tidak menunjukan kalau pahatnya bukan dari alat biasa
"Kayu ini sangat keras Barli, aku tidak tahu jenis pohon apa yang seperti ini, melebihi kerasnya baja murni",
"Sebentar Bamba, aroma kayu ini seperti tidak asing di penciumanku"
Kemudian aku mendekat prasasti itu dan mengendusnya... Yaaa aku ingat, aroma ini adalah aroma pedang Putri Carla yang mana bila ia gunakan mengeluarkan aroma yang sama dengan pohon kayu ini
"Jadi maksudmu pedang putri Carla terbuat dari kayu ini?" Tanya Bamba
"Yaaa aku sangat yakin ! pedang yang putri Carla gunakan terbuat dari kayu ini"
"Waaah itu menandakan betapa kuatnya pedang putri Carla?" Ujar Bamba
Dengan rasa penasaran yang tinggi dan mengagumi relief yg berbentuk tulisan itu dengan pelan aku meraba tulisan itu...
Tiba tiba ...aku terasa terhipnotis dengan tulisan yang aku raba, aku terdiam dan tanpa ada perintah siapapun aku memejamkan mata, relief yang ada di batang kaya itu mengeluarkan sinar yang lembut kemudian hurufnya bergerak gerak dan berubah ubah setelah ku perhatikan terbaca olehku tulisan kuno yang terukir di batang kayu tua itu berubah menjadi tulisan yang bisa kubaca,
"Bamba simak bacaan ini yang akan kubacakan juga untukmu"
" Akulah Rubah hitam sipendosa yang selalu mendapat catatan buruk diseluruh cakrawala alam mimpi, catatan dosaku melebihi banyaknya bulu semua hewan yang tercipta, dan jumlahnya selalu bertambah disetiap detiknya, karena aku lah rubah hitam yang melakukan pembunuhan pertama kali yang terjadi di alam mimpi ini, rasa iri, dengki, tamak yang mengantarkan aku membunuh saudaraku dengan keji, dan kemudian aku menguburkannya di anak tangga gerbang nafsu, aku menanggung dosa atas perbuatan yang aku lakukan dan akupun mendapatkan dosa disetiap kejadian dosa-dosa berikutnya, kini aku yang bersujud hanya bisa meminta ampun kepada MAHA SEGALA sampai semua alam berakhir, ku buat monumen ukiran ini di badan Pohon Sabda, kuperingatan bagi kalian semua untuk tidak melakukan hal yg sama" Rubah hitam si pendosa
Kemudian aku membuka mataku yang terpejam, terasa lemas dan gelisah setelah aku tau prasasti yang telah kubaca
"Barli apakah kamu baik baik saja?" Tanya Bamba
"Aku baik Bamba, hanya saja setelah aku membaca tulisan itu, tak terbayangkan bagaimana ia melakukan pembunuhan pertama kali di alam mimpi yang artinya umur rubah hitam ini sangatlah tua sekali, dan yang lebih mengerikan lagi adalah dimana disetiap kali ada pembunuhan di alam mimpi rubah hitam ini kebagian dosanya, karena ia pelopor perbuatan buruk"
"Iya Barli, aku mengerti dengan tulisan yang kau bacakan kepadaku, sepertinya tempat ini sangat mengerikan, tempat ini juga merupakan tempat berkumpulnya aura kutukan, sebaiknya cepat kita meninggalkan tempat ini Barli"
"Ya ya!!! Bamba kita harus cepat meninggalkan tempat ini"
"Kami meninggalkan tempat itu",
"Bamba pengalaman hari ini sangat mengerikan, akan aku catat di catatan mimpiku, dan tak terlewatkan tulisan prasasti yang dibuat oleh rubah hitam itu"
"Ya Barli... Dengan berjalan agak cepat kami meninggalkan tempat itu"....
Setelah ia cukup lama berjalan meninggalkan Rubah hitam yang bersujud
"Bamba hampir 2x balikan waktu kosmik kita berjalan, apakah sudah ada tanda tanda dimana makan ratu mimpi berada yang mana disamping makam itu terdapat pohon kamboja yang sedang kita tuju?"