CATATAN MIMPI

ichwan susandi
Chapter #15

BAB 15 - Reuni Kecil Teman Kecil


"Pisang Goreng dipasar, masih ingatkah kau Maul?"

"Iya iya Barli, aku sangat mengingatnya"

"Dan cerita Itulah yang masih selalu aku ingat Barli"

"Dulu Wati sipenjual pisang goreng di kampung kita, bukan hanya pisang goreng saja bahkan ia juga menjual getuk saat di sore harinya" cerita Maulana kepada Barli

"Ya benar Maul !!" Jawabku

"Hanya saja yang aku heran sampai sekarang, kenapa Wati dagangannya selalu banyak, apakah ibunya tidak berpikir kalau Wati bisa menjual dagangannya sebanyak itu?" Sahut Maul

"Itulah yang juga masih aku ingat tentangmu Barli, diantara kami bertiga kamulah yang selalu memberikan solusi atau gagasan, masih ingatkah kau Barli? Dimana saat itu kita sangat ingin membantu Wati agar dagangannya cepat laku dan habis, karena bilamana dagangan Wati habis maka ia mempunyai banyak waktu untuk bisa bermain dengan kita, ide itu akhirnya. Tercetus dari mu Barli, kamu menstrategikan penjualan dagangan Wati agar cepat habis"

Barli yang hanya mendengarkan Maulana bercerita ia hanya bisa tersenyum bahagia mendengar masa-masa mereka waktu kecil

"Idenya adalah, pisang goreng yang jumlahnya banyak itu kita bagi menjadi tiga, Wati berjualan di kampung2, kamu di pasar dan aku jual di dekat sekolahan hahaha"

"Anehnya dagangan kita selalu habis, dan saat itu watipun sangat senang padahal itu adalah siasat kita bagaimana caranya agar Wati bisa punya waktu lama bermain dengan kita... Hahahah 

"Akupun juga masih ingat Maul, Bagaimana disaat itu aku membawa nampah yang penuh berisi pisang goreng, sampai suatu waktu aku melihat ibuku berada dipasar, untungnya ibuku tak melihatku"

tapi ibuku dilain waktu pernah bertanya kepadaku 

"Barli apakah kamu menjual pisang goreng dipasar?,"

"Lalu aku menjawab tidak bu, aku tidak pernah menjual pisang goreng dipasar, aku yakin ibuku tidak percaya begitu saja, dan aku yakin ia mencari tahu kepada teman atau kawan dekatnya"

"Hingga suatu hari saat dimana aku sangat yakin kalau ibuku tidak tahu bahwa aku menjual pisang goreng di pasar"

"Saat aku pulang dari bermain hampir setiap hari aku melihat ibu membagi bagikan pisang goreng untuk para tetangga, yang anehnya pisang goreng itu mirip sekali dengan pisang goreng yang aku jual dipasar"

"Ya ya aku tahu cerita itu Barli hahahaah..." celetuk Maulana kepada Barli

"Ternyata hampir setiap hari daganganmu ibu nita dan ibu titin yang memborong semua pisang gorengmu dilalahnya ternyata adalah suruhan ibumu hahahahaha..."

Kami tertawa bersama, hanya saja tawaku terbatasi oleh rasa sakitku

"Itulah kenapa kamu selalu unggul dalam berjualan, itu semua karena bantuan ibumu, aku tahu sekali ibumu Barli, ibumu adalah orang baik yang pernah aku kenal, ada sedikit cerita yang seharusnya tidak aku ceritakan kepadamu Barli, cerita ini akan terungkap hari ini yang seharusnya tak perlu aku ceritakan kepadamu. Barli"

" ketahuilah Barli, ibumu dahulu yang selalu membayarkan uang sekolahku, dulu setiap tanggal 2 ibumu kerumah aku dan memberikan uang bayaran sekolahku ke rumahku, dan aku selalu lihat kejadian saat itu, ibumu selalu berpesan setelah ia memberikan uang sekolah kepada ibuku, jangan bilang-bilang sama Barli yaaa Maulana... Itu yang selalu aku ingat, aku sangat terkesan dengan ibumu Barli bahkan semenjak kepergiannya aku sangat kehilangan, ibumu adalah panutanku Barli" 

"Iya Maulana, aku sangat rindu pada ibuku"

"Maul, dahulu ibuku sangat sayang kepada Wati, bahkan ibuku yang tidak mempunyai anak perempuan ia ingin mengadopsi wati sebagai anaknya, 

Disaat kami akan pindah ke jakarta menyusul ayahku yang dinas disana, aku pernah mendengar obrolan ayah dan ibuku, kalau nanti kami pindah ke jakarta wati akan ikut bersama kami pindah ke jakarta"

"Dan ibuku juga pernah meminta kepada ibu wati meminta izin untuk membawa wati ikut bersama keluargaku, ibuku berjanji kepada ibu wati untuk merawat wati seperti layaknya anaknya sendiri"

"Ibuku ingin membawanya ke jakarta bersama keluargaku tetapi ibu wati tidak mengizinkan karena wati adalah. Anak kesayang dan dapat dihandalkan"

"Akhirnya wati tidak ikut bersama kami, sejak saat itu lah aku berpisah dengan wati, ingat sekali saat aku ibu dan abangku berpamitan untuk pergi kejakarta, menuju rumah wati, saat itu wati tidak mau keluar dari kamarnya karena ia tahu kalau aku dan keluargaku akan pamit pergi ke kota Jakarta"

"Ibuku yang membujuk Wati di dalam kamarnya untuk keluar menemui kami, akhirnya Wati membuka kamarnya dan langsung memeluk ibuku, sambil menangis ia merangkul erat ibuku, dimana setelah itu ia menghampiriku dan meraih tangan kananku kemudian ia mencium tanganku terasa sedih suasana saat itu. Kemudian ia juga menghampiri abangku kemudian ia mencium tangan abangku.... Ibuku yang hanya bisa memandang sedih kemudian ibuku mengambil sesuatu didalam tasnya, tak aku sangka ternyata ibu sudah mempersiapkan kado kecil kenang kenangan untuk Wati ibu memberi boneka kecil winie the pooh, saat itulah wati mulai tersenyum dari tangisnya dan kami lalu Berpamitan"

"Terakhir aku bertemu dengan wati saat ibuku sakit, ia pernah datang ketempatku di jakarta, ibuku sangat senang atas kedatangan Wati, 

"Watilah yang menunggu ibuku di rs... Saat itu aku masih sekolah sma, dan wati saat itu ia sekolah di pesantren, ia pamit cuti kepada kiyainya untuk menjaga ibuku, hampir sebulan wati menunggu ibuku dan mengurus ibuku, bahkan aku masih ingat kalau ibuku berpesan sebelum ia wafat agar aku selalu menjaga wati"

"40 tahun berlalu semoga hari ini kita dipertemukan Barli" ujar Maulana kepada Barli 

Setelah itu terdengar suara orang masuk ke ruangku... Dan bertanya kepada suster jaga di depan pintu masuk... 

"Selamat siang dimana ruang pasien Barli suster? "

Suster menjawab " di tempat yang hordengnya tertutup jawab suster itu 

"Terima kasih suster"

Saat wati datang...

"Assalamualaikum... Yaaa ampun mas Maulana, kamukah ini ? Wati langsung mengambil tangan mas Maulana dan mencium tangannya sambil memeluk mas Maulana. Kemudian ia beralih ke hadapanku, 

"Mas Barliiiii... Kamu kenapa mas?" Sambil ia mengambil tanganku dan mencium tanganku 

Kemudian ia memelukku yang terbaring ditempat tidur dengan erat.... 

"Mas kamu kenapa mas? " dengan nada yang sedih ia memeluk aku... Susahnya ia melepaskan pelukannya 

"Mas bertahun tahun aku mencarimu mas, kenapa baru hari ini kita dipertemukan" Terisak Wati menangis sambil memelukku 

Iya Wati... Maafkan aku Wati aku tak pernah berusaha untuk mencarimu bahkan aku tidak tahu kabarmu setelah ibuku wafat 

"Iya iya mas... Sudah hampirr 40 tahun kita tidak bertemu" sambil wati menghapus air matanya dengan tisu 

Kemudian Wati melepaskan pelukannya kepadaku

Maulana bertanya kepada Wati... "Wat kamu kesini sama siapa? "

"Alhamdulillah mas aku kesini diantar supir mas, untungnya supirku tahu lokasi rs ini makanya aku datang lebih cepat"

"Mas Barli... Kamu kenapa bisa sakit mas ?, sudah lama aku mencari kabar tentangmu"

"Iya Wati aku sakit kelainan jantung jadi aku berada lama di rs ini... 

"Iya mas... Aku doain kamu biar kamu cepat sehat ya mas"

Akhirnya kami mengobrol bersama melepas rindu dengan waktu durasi yang lumayan lama 

Hingga masuk waktunya tiba tiba seorang suster mengingatkan kami kalau waktu kunjungan sudah habis 

"Maaf pak, ibu... waktu kunjungan pasien sudah habis, Pasien kami harus istirahat " dengan ramah suster itu mengingatkan akan jam besuk

Kami bertiga saling bertatapan

"Sekarang kalian pergilah ujarku 

Salamkan aku kepada keluarga kalian dan terima kasih atas kunjungan kalian"

"Mas barli nanti sore aku kesini lagi yaaa, masih belum cukup aku bertemu kamu mas" 

"Ya sudah kalau kamu mau kesini lagi Wati".. Jawabku 

"Lalu kamu gimana mas Maulana? Apa nanti sore kamu mau kesini lagi?" tanya Wati ke Maulana 

"Sore ini aku harus berangkat ke Semarang Wat, aku sudah punya tiket untuk berangkat sudah kelamaan aku di Jakarta, sudah bosan aku disini" 

"Jakarta terlalu sibuk untuk seorang pensiunan tua sepertiku ini...hahaha"

Lihat selengkapnya