CATATAN MIMPI

ichwan susandi
Chapter #16

BAB 16 - Pertemuan Wati dengan Marni

"Rekaman juli dan agustus, Terus pantau khusus ruang icu ya pak, jangan sampai ada hal tekhnis yang dapat merusak penyelidikan saya, karena saya penanggung jawab ruang icu"

"Baik bu dokter" jawab pak Razak kepala security Rumah sakit

Kemudian dokter Ratna kembali menuju ruang ICU, dengan penuh rasa takut dan cemas ia berjalan dengan tergesa-gesa dan membuat analogi sendiri didalam hatinya 

Hmmm... Apa sebenarnya yang terjadi? Aku tidak mengerti kejadian ini adalah kejadian yang luar biasa bagiku, apa yang harus aku lakukan ? Langkah awal apa yang harus aku lakukan... Hmmm langkah awalku adalah aku harus cari tahu siapa pak Barli, ... Kemudian aku juga harus tahu siapa keluarganya 

Sampai di ruang ICU ia memanggil suster Mona yang pertama kali mengetahui kejadian ini 

"Suster Mona semua kejadian ini jangan sampai ada yang tahu, hanya kamu, aku dan pak Razak kepala security rumah sakit ini, ingat pesanku Mona" 

"Iya dok... saya berjamji untuk merahasiakan hal ini, tapi apa tidak sebaiknya bu dokter cari tahu juga dengan suster Samira, karena pak Barli lumayan dekat dengan suster Samira" suster Mona mencoba memberi informasi kepada dokter Ratna 

"Oooo... Benar begitu ?" Tanya dokter Ratna kepada suster Mona. Baiklah besok saya temui suster Mira 

Kemudian dokter ratna masuk ke ruang kantor pribadinya dan langsung membuka leptopnya ia memulai tertarik dengan kasus yang baru saja ia alami, analisanya ia buat di leptopnya 

1. Siapakah pak barli?  

2. Siapakah keluarganya? 

3. Dimana ia tinggal?  

4. Apa pekerjaannya? 

5. Aku harus tahu laporan laporan suster yang pernah merawatnya 

 Hmmm sejauh ini analisa ini sebagai langkah awalku untuk bisa tahu apa sebenarnya yang terjadi dengan pasienku yang bernama Barli?  

Tiba tiba pintu ruang dokter Ratna ada yang mengetuk... Dan memanggil dokter Ratna 

"Dok... Dokter Ratna", 

"Ya masuk! ! ! " 

"Looh ibu dokter belum pulang ? Tanya dokter muda pengganti dokter jaga diruang ICU " 

"Ooo kamu Rama, kamu hari ini jaga di ruang sini yaaa ?" tanya dokter Ratna kepada dokter Rama 

"Iya bu, kenapa ibu jam segini belum pulang? Tanya dokter Rama 

Ooo tidak terasa sudah jam 6 malam, oke oke aku sedikit lagi pulang...  

Sementara di ruang Barli... 

Aku yang masih memejamkan mata terbangun oleh suara plastik kresek yang berisik diruangku saat ku buka mataku Wati sudah datang dan sedang beres beres di meja samping tidurku

"Wati kamu sudah datang ?" tanya Barli kepada Wati  

"Iya mas aku sudah datang sejak tadi, tapi aku lihat mas Barli masih tertidur jadi aku tak ingin mengganggu tidurmu mas, aku bawa makanan yang pasti kamu suka mas, dan aku sudah konsultasikan doktermu mas 

"Memang kamu tahu dokter yang merawatku ",

 "Tenang mas, direktur rumah sakit diisini adalah kenalan baikku, jadi aku sudah hubungi dia bahwa temanku dirawat dirumah sakitnya, aku sudah menitipkan mas Barli kepadanya, doktermu dokter Syarif kan ?" 

"Mas barli sore ini kamu beda mas, tadi siang aku lihat rambutmu panjang dan tidak tertata dengan rapih, tapi sore ini mas Barli terlihat muda dan lebih tampan, Siapa yang potong rambut kamu mas ?" 

Ooo iya, tadi ada petugas dari rumah sakit mereka dari divisi kebersihan pasien rumah sakit, mereka semua lah yang memotong rambutku, kukuku bahkan mereka memandikan aku dengan wangi wangian bunga kamboja, 

Mendengar cerita Barli, Wati bingung keheranan, sejak kapan rumah sakit ada divisi seperti ini ? Nanti aku cek pihak rumah sakit disini, mungkinkah ini bagian dari service rumah sakit mereka ? 

"Apa yang kamu bawa Wati?"  

"Aku bawa makanan kesukaanmu mas, soto ceker, aku searching soto ayam yang paling enak di kota ini akhirnya aku dapatkan di daerah Casablanca"

"Hihihi... Wati kamu baik sekali, terima kasih Wat"

"Darimana kamu tau aku suka makanan itu Wat ?" 

"Aku masih ingat masa lalu kita dulu mas, waktu kita menunggu ibumu di rumah sakit saat kita berada dikantin, kita makan soto ayam bersama, saat itu aku tahu uang mas Barli pas-pasan, jadi mas Barli pesan sotonya hanya1 tapi nasinya dua, aku lihat kamu hanya makan kuahnya saja sementara saat itu aku sedang lapar sekali, jadi aku makan semuanya, kamu mengalah untuk aku, karena kamu khawatirkan aku masuk angin karena belum makan 

"Hihihihi... Hal terkecilpun kamu masih mengingatnya Wati, ya aku ingat saat itu kamu benar, uangku untuk membayar itu semua pas pasan bahkan kurang untuk membayarnya, makanya selesai makan aku menyuruhmu cepat kembali ke ruang ibu, aku ngk mau kamu melihat aku kekurangan untuk membayar"...  

"Sebenarnya aku tidak langsung pergi ke ruang ibu mas, aku lihat saat mas Barli membayar, mas Barli di judesin sama ibu-ibu warung sotonya, disitu lah mas aku sedih, dengan keadaanku yang belum bisa menolong mu mas"

"Hahahaaa sudahlah Wati, sekarang kita punya soto dan nasinya yang masing masing mendapatkan porsi satu... Ayo kita makan bersama Wati"... 

"Iya mas aku siapkan piring ya mas... Kita makan bareng, dan kita tidak perlu khawatir mengenai pembayarannya karena makanan ini semua sudah dibayar hihihihi..." 

"Iya iya Wati, terima kasih"

Setelah Wati selesai menyiapkan makanan, kami akhirnya menyantap makanan bersama 

"Wati soto ini memang benar-benar enak, aku sangat menyukainya" 

Saat aku melihat Wati yang makan dihadapanku, aku melihat wajah Wati yang sedih

"Wat kamu kenapa ?? Kamu menangis? "  

Wati sangat gugup saat ditanya olehku ia mencoba menutupi perasaannya dengan mengatakan 

"Tidak mas, aku tidak menangis aku memang seperti ini kalau kepedasan" 

"Aku yang meneruskan makan dan mencoba ber asumsi semua baik baik saja" 

"Wat kudengar kamu sekarang sudah menjadi pengusaha sukses? Benar begitu Wat ?" 

"N'dak juga to mas aku biasa-biasa saja, bahkan aku sudah merasakan bahagia yang sesungguhnya sekarang, aku kesini tadi naik bus trans jakarta lo.mas, bahkan tadi aku sempat tersesat entah dimana aku berada.. Lalu aku naik gojek motor sampai rumah sakit ini, kalau sampai ada yang tahu aku tersesat dijalan, hancur reputasiku mas hahaahaha... "

"Wati Wati kamu dari dulu n'dak berubah",

 "Kalau aku boleh jujur mas, sebenarnya aku ingin hidup biasa-biasa saja mas, bisnis itu semua serba tekanan mas, aku yang menghadapinya kadang hampir dibuat gila",

"kadang aku suka iri melihat kehidupan mas Maulana, hidupnya sangat sederhana tetapi terlihat olehku ia sangat bahagia, apalagi aku yang sudah tidak bersuami lagi mas, siapa nanti yang akan menjagaku dihari tua", 

"Iya iya wati... Kamu harus sabar Wat" 

"Ya itu tadi mas sepertinya mulai hari ini aku sedikit demi sedikit sudah menyerahkan semua usahaku sama anak-anak mas, pelan pelan biar mereka yang menjalani dan mengelolanya, aku cuma mau pensiun, punya rumah kecil di desa menanam atau berternak yaaa seperti kita waktu kecil dulu mas."...  

"Iya iya...Wati tolong ambilkan aku minum Wat..." 

"Iya iya mas, sebentar ya mas" 

Wati bergegas menyiapkan minum Untukku 

"Sudah makannya mas... ?"

"Iya Wat aku rasa aku sudah kenyang, terima kasih. Yaa Wat, Kamu sudah membawakan makanan kesukaanku"

"Sama sama mas, aku juga senang bisa makan bareng kamu lagi mas" 

Tiba-tiba. Direktur utama rumah sakit Teratai datang ke ruanganku bersama para stafnya, ruang ICU sudah seperti ruang para pejabat

"Selamat malam ibu Wati"...  

"Haaaay ... ibu Chandra apa kabar bu? Tanya Wati penuh wibawa 

"Saya baik bu"...  

"Ini bu teman baikku mas Barli, ia dirawat di rumah sakit yang kebetulan ibu pimpin" 

Akhirnya kami saling berkenalan 

"Oiya iya perkenalkan nama saya chandra"

"Iya saya Barli"

"Ibu Wati kita ke foodcourt saja yuk bu ngobrolnya disana kita lebih leluasa karena kalau kita berbincang disini bisa mengganggu pasien yang lain"

Lihat selengkapnya