"Oooo jadi hewan Panda hitam putih itu dijadikan sebagai simbol sihir oleh Binibani!" ungkap Nunik kepada Putri Carla.
"Ya, Nunik!"
"Putri Carla apakah Putri merasakan getaran kecil dari dasar gurun ini?"
"Iya Nunik! Cepat ikat kan dirimu di pinggangku, Nunik!"
"Iya Putri!" Nunik berlari dan mengikatkan diri di pinggang Putri Carla.
Benar saja. Permukaan gurun pasir yang awalnya begitu tenang mulai bergetar, semakin lama semakin kencang. Carla memperhatikan pedang hitam yang masih tertancap di permukaan gurun.
"Nunik! Apa kamu baik-baik saja?"
"Iya Putri, aku baik-baik saja. Putri, aku merasakan aura sihir yang sangat kuat dari getaran ini!"
"Tenang Nunik! Aku akan selalu waspada."
Getaran itu semakin keras. Pasir-pasir di atas bukit berguguran seperti air. Awan gelap berdatangan bersama angin kencang. Petir yang biasanya tidak pernah ada di Theta 1, kini menyambar-nyambar. Pedang hitam yang tertancap itu mengeluarkan cahaya emas yang menyilaukan. Nunik mengintip dari balik jubah.
Pasir-pasir halus naik ke permukaan dan membentuk pasukan yang jumlahnya sangat banyak. Badai pasir berputar tidak pada porosnya. Semuanya terlihat mengerikan. Putri Carla dengan sigap mencabut pedang dari punggungnya dan menancapkan pedangnya ke permukaan gurun agar ia bisa berpegangan. Ia menunduk dengan mata sedikit terbuka dan terlihat sangat tenang.
Dari celah pedang hitam itu keluar asap pasir yang berubah menjadi raksasa yang kuat dan menyeramkan. Kemudian suasana menjadi tenang. Gurun yang tadinya penuh tulang belulang, kini berubah menjadi pasukan yang berbaris rapih dengan jubah perang dan senjata yang siap untuk bertempur. Semua pasukan menatap Putri Carla dengan wajah garang.
Putri Carla berdiri santai, mencabut pedangnya. Ia menatap raksasa pembawa pedang hitam itu tanpa rasa takut. Ia tahu kalau raksaksa itu pemimpinnya dan prajurit setia ayahnya.
Raksasa itu bertanya dengan suara yang menggelegar,
"Wahai gadis berambut putih, sedang apa kau di sini? Apakah kau dari bangsa Iblis yang ingin melanjutkan peperangan secara nyata?!" sambil bersiap mengayunkan pedang hitamnya. Ribuan pasukan di belakangnya ikut bersiap untuk menyerang.
Di saat ketegangan itu memuncak, tiba-tiba terdengar teriakan dari barisan paling depan
"BRUAAAB! BRUAAAB!!!"