CATATAN MIMPI

ichwan susandi
Chapter #27

#27 Bahasa Langit Milik Marni

Sementara itu di alam nyata - Di ruang kamar ICU Pak Barli -


"Marni apakah itu kamu?" Tanyaku. 

"Iya pak Barli, aku masih disini pak!, seperti biasa setelah bapak cerita tentang mimpi pasti bapak selalu tertidur" jawab Marni

"Marni kemarin mimpiku sangat sedih Marni, dan rasanya sulit sekali untuk menceritakannya, untuk dituliskan di buku Catatan Mimpi"

"Iya pak, aku juga merasakannya karena saat Bapak tertidur dan bermimpi, tangan Bapak mengepal sangat keras dan berkeringat, mata Bapak mengeluarkan air mata saat tertidur dan Bapak berbisik menyebut nama Bamba, aku mau membangunkan Bapak tapi aku canggung untuk membangunkan, karena aku takut menganggu Bapak yang sedang bermimpi." 


Kemudian aku menoleh ke meja yang berada di samping ku, karena aku tak ingin terlihat oleh Marni kalau aku sedang menangis.


"Ceritakan saja semuanya, Marni selalu siap untuk mencatatnya"

"Marni ingin semua mimpi yang aku alami tercatat dengan lengkap, karena dengan seperti itu menjadikan buku ini bukan hanya sekedar buku Catatan Mimpi biasa."

"Apakah ini semua mengenai Bamba?" tanya Marni 


Aku menoleh dan memandang Marni refleks dan aku menangis mengingat semua kejadian itu, tak terbendung air mataku mengalir dengan deras. 


"Pak Barli, bagiku buku ini bukan hanya cerita biasa, menurutku buku ini dapat membuat langit yang cerah berubah menjadi mendung, dari mendung menjadi hujan sementara hujan bisa menjadi badai, setelah badai cuaca akan kembali menjadi cerah."


Aku kembali tersenyum mendengar metafora yang dikatakan Marni kepadaku, "Marni sejak kapan kamu pintar menggunakan bahasa-bahasa langit?"

"Sejak aku selalu mencatat cerita mimpi Bapak, hihihi ..."

"Iya, iya, iya, ... Marni sejauh ini dengan apa yang kamu lakukan, menungguku, menjagaku bahkan mencatat mimpi yang selalu aku ceritakan, apakah kamu tidak bosan?" tanyaku.

"Tidak sama sekali Pak Barli, justru sebaliknya aku menjadi senang bila selesai aku mencatat mimpi Bapak di buku, bahkan aku banyak terinspirasi dari cerita tentang mimpi-mimpi Bapak mengenai kehidupanku sehari-hari"

"Oooo kalau memang seperti itu, aku senang mendengarnya Marni"


Marni mencoba menenangkan aku dengan menggenggam tanganku.


"Tenang pak Barli, menurutku sebaiknya Bapak ceritakan semuanya tentang cerita Bamba, aku yakin Bamba adalah teman baik Bapak di alam mimpi" 

"Dari mana kamu tahu Marni kalau ini semua mengenai Bamba,? Karena baru sebagian aku bercerita tentang Bamba kepadamu" 

Marni menjawab, "Seperti yang Marni katakan tadi pak, bapak mengigau saat bermimpi dan berulang kali menyebut nama Bamba".


Aku yang hanya termenung menatap botol infus yang tergantung dan mendengar kata-kata Marni agar aku menceritakannya dan mencatat di buku Catatan Mimpi.


"Baiklah Marni aku akan menceritakan cerita ini kepadamu, siapkan alat tulismu Marni karena untuk cerita yang ini aku berusaha menceritakannya sebaik mungkin. 

"Baik Pak," 

Setelah kami berpamitan dengan Tigakorak Bersaudara kami berdua melanjutkan perjalanan kembali dengan tujuan menuju rumah Leli Menyani, dimana disebutkan bahwa tempat tinggal Leli Menyani terdapat pohon besar yang bernama pohon Saga Dewa. 


Tidak terlalu jauh kami menelusuri jalan yang dipenuhi tumbuhan hutan yang besar-besar

Lihat selengkapnya