Sudah enam bulan ini Ibuku sakit. Mulanya, dia didiagnosis dengan saraf terjepit dan kemudian ketahuan memiliki mag akut dan terakhir dikabarkan menderita hipertensi pula. Sekarang, Ibuku yang sudah tiga tahun pensiun itu lebih banyak berbaring di rumah. Sejak Ibuku sakit, Bang Ridwan pindah kembali ke rumah Ayah dan Mamak lalu merawat mereka berdua.
Saat Ibu mulai sakit, Bang Ridwan berulang kali menghubungiku untuk dapat pulang lebih sering dari biasanya. Sebenarnya, jarak tempatku lulus PNS dari kampung halaman hanya empat jam perjalanan darat saja. Aku yang bekerja sebagai guru SD tentu bisa meluangkan waktu dengan berbagai rencana. Semisal, aku bisa pulang setiap Sabtu pagi lalu bergerak dari kampung halaman pada Minggu sore atau malam. Itu masih cukup, tapi aku tetap jarang pulang sebab bingung menjawab semua pertanyaan Ibu.
Dua tahun setelah lulus PNS di kota ini, aku masih rutin pulang sekitar seminggu atau dua minggu sekali. Kepulangan itu mulai kukurangi sebab Ibu selalu menanyakan kepadaku perihal mutasi daerah. Ibu selalu merasa pantas untuk mengkhawatirkanku yang tinggal seorang diri di kampung orang lain dan memintaku untuk segera mencari cara agar bisa dimutasi ke kampung halaman kami.
Uang bukan masalah, Ibu dan Ayahku adalah pensiunan PNS. Keduanya bekerja sebagai guru. Itu pula yang kemudian membuat aku dan abangku juga menjadi guru. Tunggu dulu, aku tidak ingin kau berpikir bahwa Ibu dan Ayahku sangat ketat sehingga memaksa anak-anaknya menjadi guru sehingga meninggalkan trauma di dalam hidupku dan sebab itu aku tidak mau menikah. Salah, Kawan, aku tidak pernah terpaksa menjadi guru.
Kedua orang tua kami memberikan kebebasan untuk menjadi apa pun. Kami berdua yang memilih menjadi guru sebab melihat kedua orang tua sebagai role model itu. Jadi, ini bukan paksaan dan tudinganmu yang mengatakan aku trauma jelas berhasil dibantahkan.
Ya, uang bukan masalah. Meskipun kami tidak kaya raya, tapi kami sejak kecil hidup berkecukupan. Menyediakan uang mengurus mutasi 100-150 juta bukanlah hal yang sulit bagi keluargaku. Aku yang mengulur waktu, aku masih ragu apakah akan tetap tinggal di kampung halaman atau menikmati kota tempat tugasku sekarang. Lambat laun, aku semakin mencintai kesendirian di kota ini dan akhirnya mulai menghindari percakapan tentang mutasi itu.
Saat pertama kali aku mengatakan tidak ingin mutasi, Ibuku mencoba meyakinkanku dengan dalih, “Tidak ada yang mengurusmu di sana.” Aku melihat wajahnya yang samar menggariskan kesedihan dan tidak mau memperpanjang percakapan itu. Dalihnya itu kujawab dengan senyum dan Ibu merasa senyumku pertanda setuju untuk mutasi sehingga terus membahasnya hingga hari ini.
Sejak malas mendengar perintah mutasi itulah aku mulai jarang pulang ke rumah. Selain hari raya-hari raya, atau pesta-pesta, atau kemalangan keluarga, aku hampir tidak pernah pulang. Sesekali Ibuku menghubungi untuk memintaku pulang dengan alasan rindu, aku terkadang mengiyakan, terkadang mengatakan tidak bisa pulang.
Jadi saat Ibu sakit, aku memutuskan untuk pulang. Tiga hari di kampung halaman sudah cukup bagiku untuk kebingungan dengan apa yang dikhawatirkan oleh Ibuku. Saat Ayah sedang tak di rumah, Bang Ridwan dan istrinya juga sedang pergi entah ke mana, Ibu mengajakku bercerita sambil terus berbaring sambil mengeluh sebab saraf terjepit di pinggangnya.