Catatan Suami Gebleg

Firmansyah Slamet
Chapter #4

Ketiga

Re


“Semoga apa yang kamu inginkan selalu kamu dapatkan,” kata Nerissa sebelum pergi.


Aku menarik napas lalu menghembuskannya. Nerissa sudah bukan bagian dari hatiku lagi. Aku tidak ingin dia ada di sekitarku, apalagi di pikiranku.


“Kenapa sih... jangan jahat gitu, kasihan Nerissa,” kata Rena.  

“Aku dan dia itu ibarat barang rusak yang nggak bisa diperbaiki. Kamu tahu apa yang akan kulakukan?” tanyaku. “Aku hancurkan sekalian.”  

“Jangan gitu, dia itu temanmu. Nggak boleh musuhan,” kata Rena.  

“Tumben...,” kataku curiga. Biasanya mereka berdua selalu bertikai sebelum aku menikah dengan Rena.  

“Manusia itu nggak boleh bermusuhan. Kita ini makhluk sosial. Besok-besok harus baikan,” kata Rena.  

“Enggak, aku nggak mau! Aku tetap pada pendirian!” ucapku.


Rena diam lalu duduk kembali. Aku kembali memikirkan betapa jahatnya sikapku pada Nerissa. Tapi ini yang terbaik bagi kami berdua. Kami tidak bisa lagi berhubungan bebas seperti dulu. Aku hanya takut perasaan yang pernah ada kembali muncul dan menguji kesetiaanku. Aku juga melihat wajah Nerissa yang seperti menahan sesuatu. Mungkin memang lebih baik jika aku tidak mengetahuinya.

Ketidaktahuan adalah senjataku sekarang. Lebih baik aku tidak tahu apa-apa. Dengan begitu aku bisa terus bersama Rena, istriku.


Lalu Bagus sahabatku datang setelah menghabiskan rokok di luar area rumah sakit. Ia sesekali menemaniku agar Rena tidak terlalu lelah.  

“Si dokter kenapa? Udah bisu? Aku sapa diem aja. Kayak habis kena masalah gitu,” kata Bagus.  

“Masa sih?” tanya Rena menutupi.  

“Iya...”  

“Ya mana kutahu. Urusannya dia banyak. Paling juga PMS,” jawab Rena masih menutupi.  

“Yaudah, aku mau balik aja. Aku mau kerja. Besok sore aku ke sini lagi,” kata Bagus mengambil tasnya dan segera pergi.


---


*21 Januari 2020*


Aku terbangun dan membuka mata. Wanita ini telah menjadi teman seumur hidupku. Wajahnya ayu, tersenyum menyambut pagi yang indah. Dia yang selalu ada saat susah maupun senang. Aku masih tidak percaya dia ada di sini, tepat di sampingku.


“Bangun, sayang...” sapaku lembut sambil mengelus pipinya.  

Dia membuka mata dengan senyum. Suatu kebahagiaan tiada tara bisa bersama dalam ikatan resmi. Aku akan menjaganya dengan segenap hati dan jiwa.


Di hari Rabu pagi ini Rena terlihat cantik. Ia membantu membersihkan halaman belakang karena hari ini aku benar-benar menganggur. Mertua hanya diam memperhatikan sambil memegang kopi, tapi hari ini raut wajahnya tampak cemberut. Aku sama sekali tidak mengerti maunya apa. Namanya juga wanita... terpaksa aku harus bermain tebak-tebakan.

Lihat selengkapnya