Rena berkacak pinggang.
“Yang sebenarnya nggak berkontribusi itu kau! Cuma numpang, ngabisin beras, nggak bantu nyuci piring, dan sekarang kau ngeluh soal nyuci baju? Hei! Manusia! Kau nyuci pakai mesin cuci, ambil air pakai pompa air... Kau kira yang bayar listrik siapa? Sabunnya juga? Kau kira itu rupiah dapat dari AdSense? Endorse? Giveaway artis? ... Kau jemur baju juga pakai sinar matahari dan itu gratis, kenapa nggak kau tiup aja sampai kering? Sekarang aku tanya, selain jadi beban, apa kontribusimu di rumah ini?” tanyaku.
Rena berkacak pinggang dan menunjuk wajahku dengan telunjuknya yang lentik.
“EH! KURANG AJAR!”
“Kau senior tapi malah jadi beban!” ucapku.
*Spoiler for Flashback*
“Eh, udah sarapan?” tanya Rena sambil membetulkan dasi.
“Belumlah... Makanya aku ke sini buat minta makan,” jawabku.
“Ya udah, tunggu bentar. Aku mau sarapan dulu,” kata Rena.
“Aku belum sarapan, Ren. Tadi minta dijemput... Kasih apa gitu, kek.”
“Ngapain juga kau nggak sarapan.”
“Ibuku ngomel tadi pagi, nggak dibikinin sarapan.”
“Ya itu kan nasibmu.”
“Sumpah, kau pelit jadi orang! Orang pelit matinya dimutilasi, digiling jadi adonan bakso! Dimasak, dimakan, keluar jadi tai! Dimakan lele, dijadiin pecel lele! Dimakan lagi, keluar lagi jadi tai! Gitu aja seterusnya, mau?”
“Peduli amat!” balas Rena.
“Ya Tuhan... Aku kelaparan!”
“Bukan urusanku.” Rena tak peduli.
Kami masih debat, hingga Mama Rena mengajak untuk sarapan bareng. Aku sarapan bareng Rena saja karena orang tuanya segera pergi untuk suatu urusan.
“Itu jatah nasi goreng dibagi dua! Perusuh kau, emang!” kata Rena.
“Biarin, yang penting sarapan! Ntar kalau upacara aku pingsan, kau mau gendong?” tanyaku.
“Enak aja!”
Selesai sarapan, Rena segera mengunci rumah dan gerbang, lalu melompat tepat di bagian belakang sepeda. Saat itulah ban meletus.
Gerutuan keluar dari mulut Rena tanpa kendali, “Udah minta sarapan! Sekarang malah bikin susah!”
“Kebanyakan dosa! Berat kau,” ucapku membalas gerutuan Rena.
Daripada susah, kami berangkat dengan motor. Tangan segera memutar gas menuju sekolah! Beruntungnya kami belum terlambat. Dan bisa mengikuti upacara hari Senin.
“Masih lapar nggak?” tanya Rena.
“Ya, sama.”
“Nah! Kau sih ganggu acara sarapanku!”
“Tapi aku nggak ada duit nih, nggak dikasih duit hari ini,” ucapku.
“Kita target aja, deh.”
“Tumben punya ide bagus!” kataku.
Selesai upacara, aku segera menghampiri kawan laknat.
“Cok! Kau kemarin minta CD porno belum bayar! Bayar sekarang.” ucapku tanpa malu.
“Nggak ada duit nih, sumpah!” ucapnya.