Rena nyengir. Pagi ini dia membantu menyiapkan sarapan. Entah kenapa pagi ini aku ingin sekali memasak, masak hal lumrah untuk sarapan. Aku masih bosan hanya berdiam diri di rumah, ingin ke bengkel masih dilarang. Mau ke mana enaknya? Akhirnya kuputuskan untuk menyalakan PS dan memainkan game. Memang mau ngapain? Mau download game kok malas, mau ngapa-ngapain malas.
Kini aku yang malah malas bermain game karena kekalahan beruntun. Kemudian Rena masuk kamar masih dengan handuknya.
"Mau ke mana? Tumben mandi," tanyaku.
"Nggak ke mana-mana, mau mandi aja, sih. Biar segar...."
Oke, kutarik Rena dan langsung melancarkan smackdown!
"Kau mau perkosa aku?"
"Kau istriku!" jawabku dengan penuh nafsu membuka handuknya.
"Eh, aku baru mandi!"
"Justru itu."
....
"Males di rumah terus, nih!" kataku bosan bukan main.
"Ya mau gimana lagi, sabar ya... Tunggu kamu benar-benar sehat," kata Rena menyeka keringat.
Kami diam sejenak setelah menikmati pagi penuh nikmat.
"Temanku butuh mekanik panggilan," ucap Rena memeriksa ponselnya.
"Bukan Mbak Vana, kan?"
"Bukan...," kata Rena beranjak.
"Mau ke mana lagi?" tanyaku melihat Rena keluar kamar.
"Mandi lagi, lah...."
Yap! Aku memilih ikut, mungkin ada sesi pelajaran tambahan.
....
"Yang mana rumahnya?" tanyaku melihat kanan dan kiri.
"Nah, tuh. Yang ada pohon mangga."
Setelah sedikit berputar-putar, kami sampai di kediaman kawan Rena. Dan ternyata dia juga kawanku semasa SMP. Aku langsung ambil alat di penyimpanan dan memperbaiki apa yang seharusnya diperbaiki. Rena membantu memberi alat. Dia dongkrak, aku lepas ban. Macam asisten, lah...
Selain membantu memberi alat, dia juga memperhatikanku memperbaiki sistem rem. Setelah cek dan tes, akhirnya sistem rem kembali bekerja dengan optimal padahal cuma ganti kampas.
"Eh, kau masih suka c_li?" tanyaku berbisik.
"Sembarangan, b_nci!"
"Kau dulu ngefans sama Nerissa! Lihat susunya aja udah garuk k_nt_l!" kataku.
*Spoiler for Flashback*
Hari ini jadwal olahraga di jam pertama. Kebetulan guru olahraga menyatukan kelasku dengan kelas unggulan dari Nerissa. Bisa dibilang kelas 1 melawan senior kelas 3. Atau lebih tepatnya supaya hemat energi karena salah satu guru olahraga kelasku tengah tidak hadir.
"Ngapain, a_u!" kataku berbisik.
"Lihat tuh..." Tunjuk kawanku dengan jari telunjuk yang kumal dan dekil.
Mataku melihat anak ini tengah asyik menggaruk selangkangan. Aku juga melihat punggung Nerissa yang berkeringat membuat kaosnya basah, tali penahan asetnya tercipta jelas. Untuk ukuran tahun itu, anak SMP berkembang pesat dengan lekuk tubuh keparat membuat siapa saja yang melihatnya meriang tujuh turunan.
"A_u... Pengin ngintip tapi dosa! Nggak ngintip penasaran, a_u!" ucapnya berbisik. Ada rasa kesal padanya karena aku memang dekat dengan Nerissa saat itu. Aku dan Nerissa sering bermain bersama dan juga karena ia adalah ketua OSIS.
"Sembarangan, a_u!" balasku.
"Ngapain yang belakang?" tanya Pak Guru dengan suara lantang di depan memberi penjelasan soal _pivot_.
"Nggak, Pak. Ada semut masuk celana," ucapku dibalas tatapan tajam semua murid yang duduk di lapangan basket ini.