"PAKEEET!" Seseorang berteriak di luar.
"Wohooooo!!!" Aku loncat dari kasur.
Ambil paket, sobek. Knalpot baru Knalpot yang kalau dipasang auto digebukin warga. Langsung amboksing + rifiu ala motovlog sekaligus pamer suara menggelegar macam petir.
"Berapa itu harganya?" Mama nongol dari dapur.
"Cuma 500 ribu, Ma..." Jawabku ngasal.
"Bohong! Itu harganya lima juta!" Rena menyahut sambil menyalakan kompor. Kode memulai keributan.
"Astagfirullah, Nak! Duit segitu cuma buat knalpot nggak jelas?"
"Ma... Ini biar suara Ninja makin adem," bohongku lancar. Padahal niat asli hanya untuk melawan sound hajatan tetangga yang putar DJ Jedag-Jedug dari subuh.
"Ninja-mu yang gede itu?"
"Iya, Ma. Kan Rena kalau bawa suka geber-geber. Kasihan tetangga, di sono ada bayi," kataku sok bijak.
"Nah... gitu, toleransi antar tetangga," Mama manggut-manggut terus balik ke mesin jahit.
"Ini beneran adem?" tanya Rena curiga.
Tanganku reflek garuk kepala padahal tidak gatal. "Jangan, lah. Austin Racing aja enak. Aku nggak mau ganti knalpot."
"Yakali, ini suaranya adem," ucapku sambil main alis.
Rena cek sosial media. Mukanya langsung berbinar, joget kayak orang kesurupan. Padahal emang gila, tetapi sebagai suami yang baik, aku tidak tega memasukkannya ke RSJ. Daripada lihat dia tambah gila, lebih baik langsung aku pasang.
Segera buka garasi yang hanya dibuka jika ingin mengeluarkan mobil, disitulah bencana muncul. Motor kesayanganku tidak ada di garasi rumah Rena. Lebih tepatnya: garasi rumah kami.
"Astagfirullah, Rena! Mana motorku, Ren!"
"Ya, nggak tahu," jawabnya enteng sambil main HP.
"Ya Tuhan, jangan bohong Ren. Motor mahal!!"
"Aku nggak tahu..." mukanya datar.
"Beneran dong! Becanda mulu!" darahku mulai naik.
"Jangan asal tuduh. Aku nggak bawa motormu, ya."
"Yang bener?!"
"Iya!!"
"Sumpah?" tanyaku tak yakin dengan dirinya.
"Pakai pocong juga boleh!!"
Aku langsung telepon rumahku sendiri.
"Ra... Motorku ada di sana?" tanyaku ke Kinara, sepupuku yang menempati rumahku
"Yang mana? Ninja? Kan masih distandar, nggak pernah dipakai sepulang dari Australia."
"Beneran?"
"Iya... Nih Ninja mendiang istrimu masih ada."
"Bukan Ninja 2-tak itu... Ninja yang gede," ucapku mulai galau merana.
"Mana kutahu, tolol! Udah lama nggak ada di rumah," jawab Kinara.
"Serius?"
"Ke sini aja kalau nggak percaya! Kau kira aku bohong?"
Tutup telepon. Hubungi bengkel langganan.
"Mas, motorku ada di situ?"
"Iya, nih masih belum selesai... Cari crankcase sama bloknya susah," kata Mas Montir.
"Lho, emang kenapa Ninjaku? Kok sampai cari blok silinder?"
"Motor bebekmu, Bro. Kau lupa? Natal dua tahun lalu kau masuk rumah sakit gara-gara nih motor."