Catatan Suami Gebleg

Firmansyah Slamet
Chapter #18

Kelima belas

"Kamu beneran hamil?" tanyaku, suara tercekat.


Rena mengangguk pelan sambil menyodorkan test pack dengan dua garis merah yang jelas. Tangannya gemetar.


"Aku… bakal jadi ayah beneran?" tanyaku lagi. Dadaku rasanya mau meledak.


Rena mengangguk sekali lagi. Seketika aku memeluknya erat sampai dia mendesah. Rasanya dada mau pecah. Alhamdulillah, aku bersyukur setinggi langit. Akan kucurahkan semua cinta, lahir dan batin, untuk belahan jiwaku ini. Kulekatkan kecupan lembut di keningnya.


"Puji Tuhan, kita diberi momongan," kata Rena sambil menghapus air mata yang jatuh di pipinya.


Aku melepaskan pelukan, tapi di dalam dada ada rasa takut yang menyelinap. Bayangan lama tentang kehilangan menyeruak tanpa izin. Rupanya Rena bisa membacanya dari sorot mataku.


"Sayang… jangan takut. Tuhan nggak akan kasih ujian yang sama dua kali," katanya menenangkan sambil menggenggam tanganku erat.


Dadaku masih sesak. Kubaca Al-Ikhlas berkali-kali dalam hati sampai napasku teratur.


"Ya sudah. Kali ini aku mau masak enak! Buat kamu dan anak kita!" seruku, semangatku naik tiba-tiba.


Aku ke dapur, membersihkan ikan, menggorengnya sampai garing. Merebus sayuran, mengulek sambal terasi yang rasanya nendang seperti tendangan penalti David Beckham, lengkap dengan lalapan. Rena makan dengan lahap. Melihat dia bahagia, rasanya semua lelah hilang seketika.


....


"Sayang…" panggil Rena manja dari kamar.


Aku yang sedang utak-atik TV karena kabel dayanya sudah getas dan mengelupas dimakan tikus.


"Ada apa, Sayang?" tanyaku tanpa menoleh.


"Laper…"


"Ya sudah, aku bikinin mi rebus telur kocok ya?" kataku sambil membelai rambutnya sekilas.


"Hmm… nggak mau."


"Mau apa?" tanyaku.


"Terserah…"


"Kalau sate dan gulai bagaimana, buat Dede?"


Rena nyengir lebar.


"Siap-siap dulu," kataku.


"Nggak mau sekarang. Nanti saja… Dede masih mau main sama Ayah," kata Rena sambil mengelus perutnya lembut.


Kupeluk dia dari belakang, kuusap perutnya pelan. Senyumku tidak bisa lagi ditahan.


"Anak Ayah mau dikasih nama apa?" tanyaku, menempelkan wajah ke perut Rena.


"Kalau laki-laki, Mama mau kasih nama Ethan Matthew Hunt," katanya mantap.


"Kok kayak Mission Impossible?" tanyaku melot kaget.


"Kan keren…" jawab Rena santai.


"Kalau aku mau kasih nama Brian Earl Spilner."


"Kayak nama pembunuh berantai," Rena mendengus jijik.


"Ya sudah, kasih saja Satrio Boyo Totonegoro Mangku Wanito Limo Tanpo Busono Sedoyo."


"Najis!" Rena menutup telinga.


"Terus?" tantangku.


"Biasanya kan gitu. Kecuali anak cewek, dekatnya sama ayahnya."


"Aku kasih nama Madeleine Elizabeth Swann."


"Itu kan nama mantanmu di Australia!?" tanya Rena, matanya mulai menyipit seolah ingin menyelidik lalu menghakimi.


"Ya sudah, aku kasih nama Mary Elizabeth Winstead."


"Jangan… ke-Barat-baratan."


"Ya sudah! Aku kasih nama Siti Plekenut Mutmainah," kataku, pura-pura kesal.


"Bercanda terus…"


"Oke! Yang terakhir, Nerissa Arviana Pramudita," kataku nyengir lebar.


"Ooo, dibaptis juga nggak?!" tanya Rena, makin jengkel.


Aku cuma nyengir.


"Udah ah… malas aku! Bikin bete," gerutunya.


Rena main ponsel membuka media sosial untuk mencari nama-nama kekinian. Biarkan saja dia asyik dengan ponselnya.


"Sosial mediamu isinya kok motor, mobil, meme… gitu doang," kata Rena tanpa menoleh.


"Emang kenapa? Kemarin kamu ngamuk aku lihatin Tante Ernie."


Rena mendengus kesal, masih asyik cek media sosial. Aku kembali fokus ke TV.


"Ngomong-ngomong nama Nerissa bagus juga… Aku juga pengin kalau anak kita cantik kayak gitu."


Aku hanya memandangnya sejenak.


"Cantik kan, Nerissa?" tanya Rena.


"Hmm…"


"Kalau anak kita cewek, aku mau kayak gini deh… Anggun gitu."


"Hmm…"


"Cantik, ya…"


"Hmm…"


"Kenapa nggak jawab?" kata Rena kesal.


"Emang harus aku jawab?" balasku datar.


"Ya jawablah, kan aku nanya! Sombong banget lahir batin!"


"Hmm…"

Lihat selengkapnya