Catatan Suami Gebleg

Firmansyah Slamet
Chapter #19

Keenam belas


"Ngapain masih di situ??" teriak Rena dari bawah.


"Ini baru selesai membetulkan genteng," jawabku tanpa menoleh. Tanganku masih menata genteng yang miring.


"Turun, sebentar lagi waktu berbuka," desak Rena.


Aku menoleh dengan wajah polos, lalu bercanda, "Ya sudah, antar aja ke atas."


Rena mendelik lalu pergi. Aku mengira dia menyerah. Ternyata beberapa menit kemudian dia muncul lagi di atas genteng sambil membawa tas yang menumpang di punggungnya berisi bekal dan dua botol minuman.


"Eh, aku bercanda tadi," seruku panik.


Rena duduk bersila di sampingku dengan santai. "Aku ingin mencoba makan di atas genteng."


Kami duduk berdampingan sambil sesekali melempar candaan untuk mengusir bosan menunggu azan magrib.


"Eh, melihat sunset dari atas genteng asik juga ya..." gumam Rena.


"Bagaimana kalau besok kita bangun sampai lantai 17? Pasti lebih enak melihat sunsetnya," kataku iseng.


"Ngaco!" Rena langsung menoyor lenganku keras sampai aku meringis.


Adzan magrib berkumandang. Kami membatalkan puasa dengan hidangan sederhana di atas genteng, kaki menggantung di tepi seperti dua orang gila yang sedang piknik.


"Nah ... gini dong, sudah mulai berkembang," kataku sambil menyuapi Rena dengan masakannya sendiri.


"Jelas dong, masa tidak berkembang terus? Istri macam apa aku kalau begitu," balasnya sambil berganti menyuapiku.


Kami masih menikmati makanan, sesekali saling menyuapi. Orang-orang di bawah berteriak, mungkin mengira kami akan bunuh diri bersama. Kami hanya membalas dengan lambaian tangan. Akhirnya kami memutuskan turun setelah diteriaki Papa yang baru saja datang.


......


"Ayo kita tarawih," ajak Rena malamnya.


"Iya... kapan-kapan saja," jawabku lemas.


"Sekarang!" tegasnya.


"Iya..." Aku pasrah mengambil sarung dan bersiap berangkat bersama Rena. Padahal di dalam hati aku masih ingin bermalas-malasan.


"Sudah lama kau enggak tarawih, ini kan Ramadan pertama kita lalui sebagai suami istri," kata Rena sambil merapikan sarungku.


"Iya sayang..."


Kami berjalan ke masjid yang jaraknya tidak jauh. Sesampainya di masjid aku berputar arah ke tempat wudu.


"Mau ke mana??" Rena langsung curiga.


"Ambil wudu," jawabku santai.


"Ya sudah, hati-hati licin," katanya lalu masuk ke masjid.


Rena masuk ke masjid. Aku mengendap-endap ke samping. Bukan untuk wudu, melainkan kabur pulang. Sesampainya di rumah aku main game satu ronde saja dan kalah telak. Aku mematikan game lalu memilih istirahat sampai terlelap.


Aku terjaga ketika wajahku beberapa kali dihantam bantal. Rena sudah berdiri di depan kasur dengan wajah marah melihat kelakuanku yang mengalahkan setan.


"Seharian aku kerja, capek lho sayang!" kataku sambil memeluk kucing kesayangan sebagai tameng.


"Bohong aja terus!" sergah Rena.


"Kau tahu sendiri, dari pagi sampai sore kerja terus," belaku.


"Kerja apa?? Kerja tidur saja seharian! Benerin genteng saja cuma sebentar!"


"Iya... janji besok berangkat tarawih," kataku menunduk.


"Meong..." kata si kucing seolah jadi saksi palsu.


Sepertinya Rena akan makin ngamuk nih... Bahaya!!




***



Keesokan harinya aku masih bingung dengan bengkel yang sepi! Semua kendaraan berhenti total. Meskipun ada beberapa yang masih bisa berkeliaran, tetapi mereka tetap dibatasi.


"Kenapa??" gumam Rena.


"Kok bisa-bisanya pandemi begini kita malah jatuh miskin," keluhku.


"Biasanya aku tidak pernah hidup susah, kok jadi istri kamu aku jadi susah begini? Apa jangan-jangan kamu pembawa sial??" tanya Rena menatapku tajam.


Aku memandangnya malas.


"Uang kita menipis, aku mau menjual saja si Ninja," kataku sambil menatap ZX-636 itu dengan berat hati.


"Jangan, itu aset," Rena langsung menolak.


"Aset apa kalau nilainya bikin menyusut," kataku berat hati.


"Jangan dong..." pintanya.


Aku menarik napas, memilih pergi untuk mencoba mencari pekerjaan apa pun itu. Aku masih berjalan sambil sesekali menendang batu.


"Woi! Ngapain kamu??" tanya kawanku.


"Biasa," jawabku singkat.


"Bantuin aku pindahan adikku nih... Nanti aku kasih upah!"


Aku langsung membantu mengangkat barang ini itu ke truk. Seperti janjinya dia segera memberiku upah, maka aku segera pulang.


"Ini apa??" tanya Rena saat aku menyodorkan uang itu.


Lihat selengkapnya