Jumlah digit rekening itu tidak masuk akal. Aku berdiri mematung di depan ATM. Otak berpikir jauh karena sepertinya aku tidak memenangkan lotre atau togel atau semacamnya. Ponselku bergetar. Nomor tak dikenal. Bukan dari Indonesia.
“Sudah masuk uangnya?”
“Untuk apa?” tanyaku.
“Di sini, ibu sambungmu sedang banyak rezeki. Istilahnya... bagi-bagi,” kata Ayahku dengan suara yang tidak bisa kujelaskan, dan aku meragukannya. Mencoba memperkirakan apa yang beliau inginkan sebenarnya.
Aku terdiam.
“Tutup teleponnya. Mahal!”
Aku segera mematikan telepon. Apakah ini sebuah jebakan? Apakah Ayah ingin mencoba hal konyol?
Aku hanya mengambil yang memang milikku, lalu segera pergi.
Sesampainya di rumah, suasana tampak sepi. Tapi ternyata semua orang ada di belakang. Aku menghampiri, dan semua terkejut. Apalagi saat melihat Rena yang seperti habis menangis.
“Ada apa?” tanyaku.
Tanpa peringatan, Rena menamparku sekeras yang ia mampu. Aku terkejut.
“Apa-apaan ini?” tanyaku.
Rena menyerangku dengan tangis, meluapkan amarah yang tidak aku mengerti. Dalam satu kesempatan, aku memeluk tubuhnya erat. Tapi Rena meronta dan berhasil melepaskan diri. Papa langsung meninju wajahku hingga darah mengucur dari hidungku.
“Apa-apaan ini?!” kataku sambil menutup hidung.
Jujur aku syok apalagi pukulan Papa benar-benar keras bukan main.
“Kamu tega menyelingkuhi anak saya!” kata Papa.
“Apa maksudnya!” kataku, masih bingung.
Rena masih menangis. Tanpa memberiku kesempatan menjelaskan, Papa menendangku. Aku hanya bisa meringkuk melindungi diri. Mama menahan.
“Sudah, Mas, sudah!” kata Mama.
“Untuk apa membela dia!”
Mereka masih bertengkar, sementara aku tidak tahu mengapa aku dianggap selingkuh.
“Lima belas tahun menunggu itu sakit!” teriak Rena di sela tangisnya. “Dan tiba-tiba kamu memberiku harapan, memberiku kebahagiaan! Tapi kamu juga memberiku luka! Kamu sudah menghamili perempuan di luar sana!”
“Maksudmu apa?!” tanyaku, masih menahan sakit.
“Siapa perempuan sialan yang kamu hamili?!” kata Rena dengan nada tinggi.
Aku terdiam kaku. Apa yang terjadi sebenarnya? Ada apa ini. What the f*ck is going on?.
“Masih tidak mau mengaku?!” tanyanya.
“Mengaku apa?”
“Mana perempuan yang kamu hamili itu!”
“Aku enggak ngerti!” kataku bingung.
“Aku menyesal menikah denganmu! Kita bercerai sekarang juga, dan kamu pergi dari rumahku!”
“Hei! Jangan main-main!” kataku mencoba menenangkan Rena.
“Kamulah yang main-main dengan hubungan kita!”
“Buktikan kalau aku memang berselingkuh,” desakku.
Rena menunjukkan beberapa bukti pesan singkat dari nomor tak dikenal. Aku mengeluarkan sumpah serapah saat itu juga, lalu menunjukkan hal yang sama. Kali ini mengenai perselingkuhan yang dituduhkan pada Rena.
“Ada yang mengganggu kita. Aku enggak mau membicarakan ini karena kamu sedang hamil. Aku tidak mau kamu banyak pikiran, Ren,” kataku.
Aku menunjukkan lagi rangkaian SMS tidak jelas itu.
“Ini juga. Mau jadi apa Mama kalau Rena yang menerima SMS ini?” tanyaku.
Semua terdiam. Mereka merasa diadu domba oleh pesan berantai yang tidak jelas dari siapa yang berisi saling adu domba.
“Itulah sebabnya, Ma... Pa... SMS ini aku sembunyikan. Kondisi kita sedang tidak stabil... Sudah tahu kan akibatnya,” kataku.
Rena masih melihat satu per satu bukti yang sudah aku abadikan. Aku membantunya berdiri.
“Itu alasannya aku gonta-ganti nomor. Tapi entah bagaimana mereka selalu tahu nomor ini...” kataku.
Rena masih menangis. Aku memeluknya dan membawanya ke kamar untuk menenangkan diri. Tapi kakinya enggan melangkah, jadi aku menuntunnya perlahan.
“Kenapa ada yang ingin menghancurkan kita?” tanya Rena.
“Ini karma, Ren... Ini karma untukmu, tapi aku juga ikut kena getahnya.”
“Memangnya aku melakukan apa?”
“Ingat, kamu juga hampir menghancurkan rumah tanggaku dulu,” kataku mengingatkan bahwa entah secara sengaja atau tidak, Rena hampir membuat rumah tanggaku gonjang ganjing saat aku belum menikah dengan dirinya. Kembali aku ingatkan bahwa statusku ialah duda saat menikah dengan Rena.
Mengingat itu membuat Rena menangis memohon ampun. Aku bingung siapa yang melakukan ini, apalagi pengirimnya tahu aku sering ganti nomor. Aku teringat siapa yang menginginkan kehancuran rumah tanggaku!
Ini ulah Nerissa! Ya... Aku yakin sekali ini ulah Nerissa!
Aku berdiri.
“Kamu mau ke mana?” tanya Rena.
“Aku tahu siapa dalangnya!” kataku.
“Siapa?”
“Ini pasti ulah Nerissa! Hanya dia yang tahu kalau aku ganti nomor... Dia itu licik!”
“Tidak mungkin...”
“Aku lebih mengenalnya. Aku tahu selicik apa Nerissa.”
“Tapi kamu tidak punya bukti,” cegah Rena.
“Aku ada!” kataku, segera pergi dari rumah itu.
Amarahku memuncak. Aku menyalakan motorku dan melaju kencang menuju rumahnya.
Kariernya sebagai dokter akan aku hancurkan!
“Buka!” kataku.