Kali ini aku berada di dalam sebuah ruang karaoke, ditemani beberapa wanita cantik sebagai pendamping. Teman-teman sialanku menghiburku dengan cara yang aneh, bahkan ajaib. Mereka mengerti. Ternyata mereka pernah mengalami hal yang sama denganku.
Mereka tahu cara paling mudah keluar dari masalah ini. Tapi tidak denganku.
Maka mereka memancing pikiranku, memaksanya bekerja.
Kami mengobrol santai tentang hidup yang menyedihkan ini. Salah satu wanita bangkit untuk mengambil beberapa botol bir yang dipesan temanku. Setelah bir datang, ia kembali duduk di sampingku. Ia membuka botolnya, lalu menyerahkannya padaku.
Dan tiba-tiba... Nerissa muncul.
Dari mana dia tahu aku di sini?
"Ayo keluar!" kata Nerissa.
Aku mengabaikannya.
"Ayo!" paksa Nerissa, menarik tanganku dengan cukup keras.
Aku menariknya kembali. Kududukkan dia di sampingku. Kubuka botol bir itu dan kudesak dia untuk ikut menikmati.
"Ayo pulang."
"Kamu istriku? Untuk apa menyuruhku pulang?"
"Ayo kita keluar dari tempat ini," kata Nerissa.
"Untuk apa? Karena kamu... kamu yang menghancurkan rumah tanggaku!!!" bentakku.
Seketika, semua membeku. Musik pun berhenti.
"Nyanyi! Semuanya nyanyi!" perintahku pada para pemandu itu.
Suasana kembali normal. Ribuan tanya di kepala mereka, kubiarkan tenggelam bersama musik.
"Nih," kataku, masih menyodorkan bir itu.
Nerissa diam. Kutuangkan bir ke dalam gelas besar, tapi dia tetap menolak. Maka kusiramkan bir itu ke kepalanya. Nerissa terkejut dengan perlakuanku.
Dia langsung berlari keluar. Aku kembali menikmati birku, diiringi pemandangan para LC yang meliukkan tubuhnya. Menggoda. Nanti, akan kusewa semuanya!
"Ikut aku!!" Nerissa menarik tanganku dengan kasar.
Aku mengikutinya keluar dari ruangan.
"Kamu mau apa?!" tanyaku.
"Ayo kita keluar dari sini."
"Apa yang mau kau luruskan? Kamu sudah menghancurkan satu-satunya yang kumiliki. Masih kurang?"
"Iya!! Aku yang mengirim fitnah itu! Aku tidak mau melihatmu bahagia. Aku tidak rela kamu menikah dengan Rena!" teriak Nerissa.
PLAK!!
Tamparan itu mendarat di pipinya. Kejutan yang tidak dia duga.
Nerissa menatapku dengan air mata. Dari ekspresinya, aku tahu dia sengaja mengaku. Hanya untuk membuatku keluar dari tempat itu.
"Menunggu aku menamparmu dulu, baru mengaku?"
"Iya! Aku mengaku!!"
Aku hendak kembali ke ruangan, tapi Nerissa menahanku.
"Ikut aku, tolong... Rena ada di rumah sakit," kata Nerissa.
Aku menatapnya. Kaget.
---
Mobilku kupacu sekencang mungkin. Tikungan tak mampu menghentikanku. Derit ban dan bau gosongnya membuat adrenalinku naik. Di jalan lurus, aku menekan gas sampai mentok. Tikungan di depan membuat mobilku selip dan terhempas setelah melewati rel kereta. Di kepalaku, hanya ada nama Rena.
Aku berlari menuju ruangan yang ditunjukkan. Di sana, Rena terbaring lemah. Kubelai keningnya. Rena membuka mata, mencoba memelukku sambil menangis. Bibirnya terus mengucap maaf... karena keegoisannya.
"Tidak, aku yang harus minta maaf... Aku khilaf meninggalkanmu," kataku.
Rena masih menangis, mengucap maaf berulang kali. Kucium keningnya. Kubiarkan dia berbaring. Rena menangis mengingat kami kehilangan anak kami. Kuhapus air matanya. Menenangkannya... tidak mudah.
"Sudah ya... Jangan menangis lagi."
"Tapi... anak kita..."
"Sudah... Mungkin memang sudah takdir," kataku, membelai rambutnya.
Rena masih menangis. Kutahan dia sampai akhirnya dia tenang.
"Maafkan aku, Ren," suara lain terdengar dari belakangku. Nerissa.