Catatan Suami Gebleg

Firmansyah Slamet
Chapter #22

Kesembilan belas




"Mau kemana sih! Surabaya?? Jakarta??" tanya Rena tak peduli.


"Kita ke kita ke Australia, kita mulai hidup baru lagi"


"Enggak! Enggak mau! Aku enggak bisa ngomong bahasa inggris"


"Kita bisa hidup layak disana" jawabku.


"Enggak mau! Kau cuma mau jauh aja dari mantanmu!" kata Rena


Aku diam memikirkan bagaimana cara membujuk Rena.


"Kalau mau cerai, aku siap, kok!" kata Rena


"Hei, jangan ngomong gitu," kataku kaget dengan Rena yang siap untuk bercerai.


"Apa yang kau harapkan dariku? Aku mandul! Aku enggak bisa kasih anak" kata Rena ingin menangis lagi.


"Apa aku pernah menuntut anak darimu? Enggak, kan??"


"Enggak usah bercanda, ceraikan saja aku." kata Rena tanpa menatapku.

"Kalau kau sibuk, aku yang akan ngurusin sendiri ke pengadilan"


"Jangan ngomong gitu, Ren," Aku berusaha sebisa mungkin agar Rena tidak hilang akal dan membuat keputusan konyol, "Kita saling berjanji buat setia"


"Cuma aku yang janji buat enggak ninggalin kamu, jadi... kau bebas kalau mau ninggalin aku kapan aja" kata Rena


"Kau kira ijab yang aku ucapin cuma mainan?? Ijab itu adalah janji dariku untuk mencintaimu seumur hidup, bersamamu saat susah dan senang, saat untung atau malang, baik sehat maupun sakit" kataku,

"Aku enggak akan pernah ninggalin kamu sendirian! Kau tahu aku enggak pernah main main" Aku menatapnya yang bahkan Rena tidak memperdulikan omonganku.


Tangan tergerak untuk ambil sebatang menthol, Rena menerimanya. Aku menyalakan rokok di mulutnya.Rena menghisap dalam lalu menghembuskan ke udara. Seperti asap rokok itu, aku harap kesedihan yang membuatnya berlarut-larut hilang ditelan angin malam.



*****




Suatu hari, Rena masih asyik menghisap rokok. Melihatnya dengan kebiasaan baru seperti ini berhasil membuatku sedih. Terlebih beberapa bulan terakhir ia selalu memastikan dirinya sebagai wanita seutuhnya dengan testpack. Seolah apa yang ia alami hanya sebuah mimpi belaka.


"Cukup, jangan dihabisin, ya..." ucapku agar ia tidak menghabiskan rokok.


"Beli lagi" jawab Rena singkat.


"Rokok itu enggak baik buat kesehatan," kataku lemah lembut, "Rokok itu menghancurkan kehormatan bagi wanita"


"Jadi, maksudnya wanita enggak punya paru-paru dan pria enggak punya kehormatan?" Rena menyanggah.


Lihat selengkapnya