Catatan Suami Gebleg

Firmansyah Slamet
Chapter #23

Kedua puluh



"Rena... Aku tahu yang kamu alami sangat berat, Aku sebagai suami juga bisa merasakannya," Tiap helaan napas terasa berat bagiku, "Aku enggak akan pernah ninggalin kamu sendirian"


Rena masih diam.


"Kalau mau, kita bisa pindah... Kita enggak perlu lagi tinggal di lingkungan ini, tetangga terlalu menyedihkan disini"


"Enggak, aku enggak mau..." Balas Rena.


Kini aku yang diam.


"Aku sedang mencoba untuk ikhlas, mungkin ini jalanku" Rena membuang testpack di tangannya yang tidak akan pernah berubah dan memberinya harapan.


Aku tersenyum, "Gitu dong" Sambil mencolek hidungnya yang tidak bisa maju.


Aku segera bangkit karena hari ini aku punya misi untuk perpanjangan pajak dan plat nomor motor. Tetapi surat dan buku kepemilikan tidak bisa kutemukan. Aku menelpon orang di rumahku untuk memastikan keberadaan BPKB tetapi nihil.


"Ren, BPKB motor mana?" tanyaku ingat, siapa lagi jika bukan Rena yang mungkin sudah mencurinya.


"Oh, f*ck!" Rena seperti menyadari sesuatu.


"Mana?" Aku mengarahkan tangan kanan.


Rena tersenyum dan berpikir untuk keluar dari situasi, "Anu... Dimakan Lighting"


"Kucing enggak makan BPKB, kucing makan ikan."


"BPKB kecemplung di aquarium Papa, Cupang makan BPKB terus ikan Cupangnya dimakan Lighting" ujar Rena meyakinkan hal goblok.


"Dari sekian hal goblok yang keluar dari mulutmu, ini hal paling goblok yang pernah kudengar," kataku tak sabar ingin tahu dimana BPKB motor, "Nice bullshit Story, Ren!"


"Ok, BPKB nya udah cair." 


"Ini jadi perkataan goblok nomer satu mengalahkan yang tadi! Itu BPKB bukan es batu." 


Rena menggaruk kepala meskipun tidak gatal.


"Maksudnya BPKB masih ada di bank"


"Di bank? Narik tunai atau jadi nasabah?" tanyaku mencoba meredakan emosi atas tingkah lakunya yang biadab bukan main, "Coba cerita kenapa bisa BPKB motorku ada di bank? Mendiang Ibuku beli cash untukku jauh sebelum kita nikah. Jadi BPKB sudah punya kaki dan bisa lari?"


"Jadi gini....." Rena memulai cerita, "karena motornya enggak pernah kau pakai, jadinya ibumu perbolehkan aku pakai karena motorku hilang di curi."


"Aku tahu itu, yang jadi pertanyaan... Kenapa BPKB bisa ada padamu?"


"Jadi, BPKB bosan dengan suasana laci mejamu... Jadi aku bawa keluar buat cari suasana baru" Rena masih berkilah, "Aku bawa ke brankas bank, biar dia kumpul dengan sesama BPKB dan dokumen lain"


Aku bosan memberi peringkat untuk banyak cerita konyolnya. Tanganku sudah gatal ingin mencekik dan membenturkan kepalanya ke dinding.


"Jadi sebelum kita nikah, aku perlu uang dan aku gadai BPKB motormu" jawab Rena mulai takut aku marah dan kesurupan.


"Jadi..., kau masuk kamarku dan curi BPKB di meja laci?"

Lihat selengkapnya