Flashback!
Aku melemparkan batu sejauh-jauhnya di pantai ini. Suasana hatiku mulai membaik. Aku tidak percaya Rena bisa membuat suasana hatiku membaik secepat itu.
"Perasaanmu ke aku gimana, sih?" tanya Rena tiba-tiba.
Pertanyaannya membuatku aneh dan memicu gejolak kilas balik masa lalu. Ingatanku mundur, melangkah jauh melewati batas.
"Tumben nanya gitu," kataku. Aku berhenti melempar batu. Banyak nelayan mulai melaut.
"Kamu nggak pernah mikirin perasaan aku selama ini?" tanya Rena.
"Memangnya kamu sendiri mikirin perasaan aku?" tanyaku balik.
Aku berjalan menyusuri bibir pantai, diikuti Rena. Dia berjalan di belakangku.
"Tahu nggak? Bagi aku, kamu itu teman terbaik" ujarku padanya.
"Teman?" tanya Rena.
"Iya, Rena... Kamu itu teman terbaik aku."
Rena diam.
"Sudah, gitu aja? Aku cuma jadi teman kamu selama ini?" kata Rena. Suaranya mulai serak. "Aku selama ini cinta kamu dari dulu sampai detik ini. Dan cuma ini balasannya?"
"Memang benar. Kamu itu cuma teman aku... Nggak ada perasaan lebih," kataku, sibuk menatap sunset.
Rena mulai menangis.
"Memang begitu adanya. Nggak lebih. Kamu masih mau kan jadi teman aku?" tanyaku.
Tangis Rena seolah mengisi pemandangan matahari terbenam.
"Iya, Ren. Kamu mau nggak jadi teman aku?" tanyaku sambil menggenggam erat tangannya. "Jadi teman hidup aku. Kita bersama, tak terpisahkan... Menua bersama. Kita sama-sama membesarkan anak-anak kita nanti," kataku meyakinkan.
Tangis Rena langsung terhenti. Dia menatapku. Kugenggam kedua tangannya, lalu kuulang kalimat yang sama untuk memastikan bahwa yang kukatakan adalah kebenaran.
Rena membisu. Pandanganku kembali ke arah laut.
"Tahu nggak isi kepala aku waktu lempar batu tadi?" tanyaku.
Rena diam, menunduk saat aku meliriknya.
"Aku baru sadar. Selama ini kamu selalu ada di sisiku. Saat aku sedih, susah, terpuruk... kamu orang pertama yang datang. Tapi saat aku senang, kamu nggak selalu ada di sisiku. Selama ini aku menyia-nyiakan waktu buat ngejar orang yang salah, ngejar hal-hal yang nggak penting. Dan kamu yang nyadarin aku hari ini. Aku bodoh. Baru sadar sekarang. Aku cuma mau kamu ada di hidup aku."
"Kamu masih mau nggak jadi teman hidup aku?" tanyaku.
Rena mengangguk sambil menghapus air mata yang masih mengalir.
"Rena, aku bodoh banget ya... Lari-lari ngejar yang nggak penting. Kamu dari belakang ikutan lari buat mastiin aku baik-baik aja. Kenapa aku nggak kepikiran kalau kamu yang selalu ada buat aku? Tahu nggak sih? Udah saatnya aku berhenti lari dan nyamperin kamu yang selama ini ngikutin aku," kataku, menyadari kebodohanku.
"Kata-katamu bagus."
"Aku nyolong dari film," jawabku sambil tersenyum.
Kami masih menatap matahari yang mulai terbenam.
"Aku bertemu orang yang tepat di waktu yang salah. Karena aku menyia-nyiakan waktu untuk orang yang salah... Bodohnya aku."
Rena tersenyum. Ia tertawa di antara sisa tangisnya.
"Aku akan melamar kamu hari ini. Di depan orang tuamu. Sekarang juga," kataku.
"Mana bisa..." kata Rena sambil mengusap air matanya.
"Kenapa?"
"Kita masih di pantai, bego..."
.....
"Kamu beneran mau ngomong sekarang?" tanya Rena.