"Bosen?" tanya Rena.
"Iya... " jawab ku penuh kebosanan.
"Kita bikin video bokep, yuk!" Ajakan Rena memang bodoh, "kita jual di situs porno biar jadi duit"
"Siapa yang mau lihat badanmu yang gembrot?"
"Bener juga," Rena menimbang segala kemungkinan, "gak ada yang on juga lihat badanmu yang buncit itu"
Aku hanya meliriknya sinis. Demam membuat Rena berpikir jauh lebih bodoh dari biasanya.
"Kok enggak ada bahasan lagi?" Rena merengek.
"Mau bahas apa lagi?" Aku mematikan game.
"Bahas apa gitu ..., aku demam, jangan di cuekin dong!"
Aku beranjak mengambil obat untuknya, atau aku ambil arak untuk membuatnya mabuk dan terlelap? Pilihan yang sulit.
"Ren, ini obatnya diminum pakai air atau arak?"
"Kalau ada racun tikus juga enggak masalah."
Aku diam sejenak.
Rena membentak buat aku kaget, "Ayolah, aku demam... Nanti aja bercandanya"
Rena benar, mungkin bukan saatnya bercanda. Apalagi sudah malam dan saatnya istirahat. Setelah meminum obat, aku kembali duduk bersama Rena, merapikan kasur agar ia bisa istirahat dengan tenang.
"Jangan cium, nanti ketularan!" kata Rena.
"Mana ada, demam itu enggak nular!" jawabku, "Lagipula aku mau kamu cepat sembuh"
Langsung saja aku cium dengan brutal, cumbuan terasa sedikit aneh saat Rena sedang demam. Perasaanku terasa tidak enak! Dan benar saja, Rena muntah saat aku kokop mulutnya!. Alhasil isi perutnya masuk mulutku. Otomatis aku juga muntah mengeluarkan keripik kentang yang aku makan sebagai teman bermain game.
"Anak Dajjal!!" Aku mengumpat dan Rena masih muntah menyembur seperti pemadam kebakaran.
Ia tak bisa menahan tawa sambil muntah.
"Kenapa ribut malam-malam?!" teriak Papa.
Aku keluar kamar karena jijik dengan Rena yang baru saja selesai muntah.
"Anakmu kurang ajar! Aku suaminya malah dimuntahin!" Ujarku segera ke kemar mandi guna membersihkan diri dan mulut dari muntahan Rena.
Ada rasa obat cair khas untuk meredakan masuk angin malah tercampur dengan rasa keripik kentang yang masih tertinggal di mulut. Papa tertawa keras mendengar kronologi kejadian malapetaka luar biasa dahsyatnya malam ini. Untungnya Mama mau membantu merapikan dan membersihkan ulah Rena.
****
"Kenapa malah ngehindar?" tanya Rena seperti tidak punya dosa setelah muntah di mulutku.
"Trauma!"
Rena yang masih demam menggunakan dadaku sebagai bantal.
"Enggak akan aneh-aneh lagi, kok" balas Rena, "peluk aku, ya"
Permintaan Rena aku turuti, tentu saja tidak ada ruginya. Tetapi salah! Setelah beberapa saat ia terlelap, ia kembali muntah!
BAJINGAN!