Catatan Suami Gebleg

Firmansyah Slamet
Chapter #27

Kedua puluh empat



Rena sedang melamun, sudah pasti pikirannya melayang tidak karuan.


"Ngapain?" tanya Rena melihatku mencoba menangkap sesuatu di udara.


"Aku enggak tahu isi pikiranmu, jadi aku nyoba tangkap pikiranmu yang melayang-layang," ucapku konyol tidak ada otak, "Aku mau tahu karena kamu selalu diam"


Tawa Rena pecah saat itu juga, selalu melihatnya tersenyum dan tertawa adalah prioritas utamaku saat ini.


"Aku sering bantu Nerissa, sepertinya aku juga bisa merasakan bagaimana rasanya menjadi wanita seutuhnya," ujar Rena kini menatapku, "Aku mohon ... jangan marah, ya..."


"Aku enggak akan melarang," Aku setuju tanpa berpikir, kebahagiaan Rena adalah yang utama, "kalau bisa, kita bantu sama-sama"


Rena melirik dengan wajah penuh tanya.


"Enggak akan baper, sumpah" kataku serayaenunjukkan dua jari.


"Sumpah?


"Pakai pocong juga boleh!"


Tiba-tiba terdengar suara lantang memanggil namaku disertai umpatan yang membawa pasukan kebun binatang. Jiwa untuk bertempur seakan bangkit meladeni panggilan itu.

Ada Papa yang sedang marah di depan, bukan padaku melainkan pada pria paruh baya yang mengeluarkan makian padaku.


"Apa-apaan, bangsaat!" Aku sudah siap untuk berkelahi.


"Anjing, kau!" Teriak pria itu, "Enggak cukup sama satu wanita kau?!"


"Apa maksudmu bangsat!"


"Kau mau rusak anakku? Anakku masih sekolah!" Kata pria itu dengan marah dan tentu saja aku tidak mengerti sama sekali.


"Apa hubungannya sama aku? Aku enggak kenal anakmu!!" balasku tidak kalah sengit, "Bangsat!!"


"Enggak mungkin enggak kenal! Ini WA isinya kau gombalin anakku!!"


"Mana? Kapan aku gombalin anakmu, kenal aja enggak!"


Lalu anak perempuan pria itu muncul, aku masih tidak mengenalinya. Walaupun cantik, aku tidak mengenalnya apalagi saling mengirim pesan.


"Kau main pelet! Anakku sampai kirim foto telanjang!"


Semua kaget! Aku? Sama saja!


Dengan wajah musang birahi aku bertanya, "mana, mana?"


Sapu melayang mendarat di kepalaku.


"Banyak cing cong!" Pria itu melayangkan tinjuan.


Tentu saja aku membalas tapi malah meleset mengenai Papa yang ikut campur.


"Goblok!"

Lihat selengkapnya