"Assalamualaikum, William" Aku menyapa putra kecil Nerissa.
Kini ia menjadi ibu tunggal bagi putra kecilnya, kematian suaminya beberapa waktu yang lalu masih menyisakan luka atau apapun itu bagi Nerissa. Bahkan secara pribadi ia memintaku mengumandangkan adzan untuk putra kecilnya. Dengan senang hati aku menurutinya.
Kali ini entah masih dalam kondisi mabuk kecubung atau memang otakku sudah geser 78° ke kanan, aku malah hendak beranjak pergi.
Rena menahan kerah bajuku, "Mau kemana bangsat?"
"Adzan," balasku.
"Bayi yang di kasih adzan!" ucap Rena, "Anjing goblok! Malah mau ke masjid ... Subuh aja masih lama!"
"Iya... Iya...!"
"Adzan jam segini mau bangunin cewek buat tahajud, kan? Emang buaya darat!" Cerocos Rena tanpa henti.
Apakah ini normal atau memang perasaanku saja, air mata jatuh menetes pada William saat aku mengumandangkan adzan. Tanganku bergetar dan aku terlalu emosional untuk hal ini, ada apa denganku sebenarnya?.
"Tolong, Ren... Aku enggak tahu kenapa bisa emosional dengan ini" kataku pada Rena, "Tolong, gendong William"
"William?" tanya Rena sembari menggendong putra Nerissa.
"Iya, William Jason Caulfield "
Rena yang ingin tertawa mendengar nama putra Nerissa, segera aku bungkam hingga ia susah bernapas dan wajahnya membiru seperti iklan permen.
*******
"Jangan!" Aku mencegah Rena melakukan hal konyol.
"Kenapa?" tanya Rena penuh selidik.
Pikiran dengan cepat merangkai kata-kata yang harus dihindari oleh Rena, "Buat aku aja susunya, kan bau Marlboro"
Rena memicingkan mata.
"William kasih aja susu formula" balasku.
"Anakku harus ASI!"
"IYA... iya aku tahu," jawabku harus berhati-hati, namun jika tidak menyadarkannya, akan terasa berat.
Rena menimang William dengan rasa keibuan meskipun aku yakin ia menyadari sepenuhnya jika kesempatan seperti itu tidak akan pernah ada untuknya.
"Gantian aku yang gendong, ya..."
"Enggak, aku enggak lelah" jawab Rena masih belum bosan.
Sayang seribu sayang, Nerissa datang setelah seharian bekerja. Ada rasa tidak rela dari Rena, aku bisa membaca wajahnya saat itu juga. Rasa yang sukar untuk dimengerti, antara tidak rela dan bertanya-tanya mengapa ia tidak berkesempatan merasakan hal yang sama. Saat Nerissa bekerja, William selalu ada di sini untuk Rena rawat sekaligus menjadi ibu pengganti.
"GAY!!" Rena menghinaku saat menggendong dan mengecup kening William.
"Apaan, sih?"
"Itukan dari sperma dari suaminya Nerissa!" Candaan Rena memang ampuh guna menaikkan amarah untuk sekadar KDRT.
"Kau mau aku KDRT?!"
"Boleh, aku suka disiksa kok" balas Rena yang otaknya sudah geser 84° ke kiri sudah tidak bisa diluruskan kembali.
"Bukan saatnya ngejoke! Anak kita mau tidur"
"Iya, makanya... Sebagai bunda, dia cuma mau bundanya yang gendong, bukan bapaknya yang Gebleg!"
Cukup lama Rena menggendong William agar tertidur lalu meletakkannya tepat di sebelah Nerissa yang terlelap karena Shift kerjanya cukup panjang.