Cawan Kosong

Celica Yuzi
Chapter #35

20 | PENGAKUAN DOSA [3]

Hara tidak mengerti. Nama Engkong Lian kembali disebutkan lagi secara ambigu. Namun, kali ini firasatnya tidak mengenakkan.

“Engkong Lian? Apa yang dia lakukan?”

"Hei, memangnya tidak penasaran kenapa sejak kecil Engkong sangat menyayangimu? Itu karena kamu adalah anak dari perempuan yang dia sukai. Ibumu sendiri.”

Bagai petir menyambar seluruh tubuhnya, Hara terhenyak di posisinya. Dia semakin tidak mengerti. Pembunuh di hadapannya dengan berani menyebutkan kata ‘ibumu’. Sosok yang tak pernah Hara lihat dalam hidupnya memiliki sangkut paut dengan kakek si pembunuh.

"A— Apa?" Hara menahan napasnya.

“Karena Engkong sudah mati, akan kuceritakan saja semua yang aku tahu.” Huan bangkit dari duduknya. Hara tak bisa melepaskan pandangannya menatap pria itu, bahkan ketika mereka kembali berhadapan kembali. Hara merasa dirinya menciut di hadapan monster.

“Engkong Lian yang kamu tahu bukan orang sebaik itu. Aku tahu perbuatannya lebih jahat dari yang dilakukan orang tuaku sendiri. Walau ada rasa bersalah memisahkan kamu dengan ibumu, dia memilih egois. Dia tidak tahan karena dijauhi oleh pujaan hatinya sendiri. Cintanya bertepuk sebelah tangan. Dia sadar penolakan dan terus-terusan dibenci oleh ibumu akan berujung pada pekerjaan lamanya. Oleh karena itu….”

Huan mendekatkan bibirnya ke telinga Hara. 

"Katanya, hanya dengan cara tersebut dia bisa merelakan ibumu.”

Hara teringat dengan bunga tidur menyeramkan kala kesadarannya menipis yang masih melekat di ingatannya. Lalu Hara menghubungkannya dengan mimpi dini hari 

Satu pria, perempuan dengan bayinya, dan pria jahat yang memiliki paras dan sorot mata mirip Huan. Apakah mungkin … pria dan perempuan itu … Engkong Lian dan … ibuku?

Hara selama ini tak ingin memercayai kemampuannya melihat kisah kelam sebuah benda mati. Namun, mengingat Huan berkata kursi goyang ini peninggalan Engkong Lian. Tidak salah lagi kisah itu benar adanya. 

Ketakutan mencekik lehernya. Air mata hampir tak terbendung, hingga luruh membasahi pipi. Ia ingin memastikan satu hal tentang kebenaran yang didengarnya. “Bagaimana … bagaimana bisa …. Bagaimana bisa kamu mengetahui cerita itu?”

Pria rupawan itu memandang Hara tanpa minat. "Dia selalu menceritakan sepenggal kisah masa lalunya setiap mabuk. Selalu saat aku di rumah sendirian bersamanya. Mulai dari pekerjaannya yang berbahaya. Mengenal pejabat tinggi yang memesan banyak organ. Menunjukkan klinik rubanah ini sebagai bagian warisan untukku. Juga membicarakan segala hal tentangmu. Kadang dia memaki-maki Om yang kamu sukai itu.

“Satu jam sebelum aku memberikan makanan, Engkong sedang mabuk-mabukan di siang hari. Dia mengaku padaku sebelum pensiun dari pekerjaannya, dia memilih mengakhiri nyawa ibumu atas dasar cinta yang tak bisa dimiliki. Dia menunjukkan kamarnya—tepat di atas kita. Tempat di mana dia mengambil sesuatu yang berharga dari ibumu. Dia sama sekali tidak menyesal menyingkirkan adiknya juga. Karena dia berasumsi pamanku yang tidak aku ketahui wajahnya itu berniat merebut ibumu."

Huan menyentuh dagu dan bibir Hara bersamaan. “Coba tebak, apa yang diambil olehnya?” Ia pun tak dapat menahan senyum lebar lebih lama. “Jantungnya. Jantung ibumu terkubur di rumah ini!”

“BAJINGAN!!” Hara meronta-ronta di kursi. Keinginannya mencabik-cabik wajah Huan tak tertahankan. Dadanya kembali sedak mendengar cerita si pembunuh. “Aku bersumpah akan akan membunuhmu! Aku akan membunuh—” 

"Ssst! Sayang, tidak boleh berteriak kasar seperti itu," sambar Huan kala mencengkeram rahang Hara dalam sekejap. "Karena aku tahu letaknya, aku dapat mengambil jantung itu untukmu dengan satu syarat." 

Gelak kesenangan Huan membuat bulu kuduk Hara bergidik ngeri. “Menikahlah denganku. Mari kita hidup bersama-sama dalam suka dan duka. Berikan tubuh dan jiwamu untukku, sebagaimana aku selalu bertahan demi bertemu denganmu lagi. Mungkin, akan lebih baik jika aku mengawetkan tubuhmu agar rupa tubuh dan wajahmu abadi. Setuju, sayangku?”

Perjanjian itu disambut ludah Hara. Ia menatap pria itu setajam belati. "Lebih baik aku dikubur hidup-hidup daripada membangun rumah-rumahan denganmu. Matilah! Matilah kamu lebih menyedihkan seperti kakekmu!”

Huan mengusap wajahnya. Menatap sisa ludah di tangan terkekeh geli. Tanpa tahu malu mencicip ludah Hara di telapaknya dalam sekali jilatan. “Ini baru surga dunia. Lebih manis dari secangkir anggur. Aku tidak menyangka kamu lebih pintar menggodaku,” puji Huan dengan senyum selebar sabit bulan.

Detik berikutnya bibir pria itu melengkung datar. Tangan besar Huan melayang ke pipi Hara. Suara nyaring memenuhi rubanah. 

Wajah Hara terlempar ke samping. Jejak panas menjalar seluruh sisi wajahnya. Kursi goyang berumur tua untunglah masih dapat menahan keseimbangan. 

Huan kembali mencengkeram wajahnya, tak peduli jejak kemerahan tertinggal di pipi Hara. "Inilah akibatnya jika tak menghormati calon suamimu. Dari awal aku mencoba memaklumi tingkahmu yang sedikit nakal. No problem, tidak apa, sayangku." Ucapannya melembut, seperti sedia kala. "Aku bisa mengajarimu tata krama yang baik. Lebih baik dari ajaran orang tuaku yang selalu memaksakan kehendakku....”

Huan mengangkat serpihan tajam dari saku belakang celananya. Serpihan cawan pecah dari rumah makan Seribu Teratai. Permukaan licin memantulkan sinar. Huan menyeringai lebar. Ia telah lama menantikan momen ini.

Lihat selengkapnya