Cawan Kosong

Celica Yuzi
Chapter #33

20 | PENGAKUAN DOSA [1]

Tidak ada yang mampu menenangkan tangisan bayi dalam selimut titinada. Tidak ada yang peduli rengekan itu membangun seisi rumah. Dialah yang memegang kendali dalam minimnya penerangan.

Berkali-kali tubuhnya sengaja berayun bersama kami. Tampak menikmati bagaimana kami dapat menenangkan amarah manusia yang tak bisa berpikir jernih. Tak menghitung berapa menit telah terbuang sia-sia di tengah kegelapan.

Cahaya bulan hanya bisa mengintip melalui celah tirai yang terbuka setengah. Namun, cahayanya hanya jatuh di tengah ranjang. Sosok perempuan molek yang tidak pernah kami lihat sedang tertidur di ranjang pemilik kamar ini.

"Apakah kamu tahu, adikku? Baru-baru ini aku membeli kursi goyang dari kiriman uang anakku. Kursi ini sudah aku pesan Januari lalu demi menggendong cucuku. Namun, lucunya saat aku pertama kali mencoba kursi goyang ini, yang terbayang dalam benakku adalah ... menggendong anak Sima."

Sorot matanya yang tertunduk melihat wajah mungil sang bayi teralih pada suara bising tak jauh dari kami. Adiknya yang kami dengar telah mengkhianati kepercayaannya menjadi ulat. Tangan dan kaki diikat pemilik kami dengan tali manila sekuat tenaga. Kami dapat melihat darah kering meninggalkan jejak di pelipis pria yang mirip dengannya. Bibirnya telah dibungkam lilitan kain berlapis-lapis, tetapi suara batuk dan teriakannya masih terdengar.

Pemilik kami tak merasa khawatir sang adik mengganggu, bahkan bayi dalam gendongannya tak akan mampu menolong siapa pun. Termasuk perempuan yang terlelap di ranjang berkelambu.

Pemilik kami mulai bangkit. Menitipkan bayi dalam gendongannya kepada kami secara hati-hati. Bersenandung pelan kala melangkahi adiknya yang tak berdaya. Menghampiri sosok perempuan yang tengah terperangkap dalam mimpi sejuta bintang. Sela-sela jari yang tersorot cahaya bulan menyinari sisa darah yang tertinggal menyeka rambut sang putri tanpa gentar. Lalu turun menyentuh pipi meninggalkan noda.

"Empat bulan lalu kita berpisah, seperti empat tahun. Aku tahu ini salahku. Aku tidak bermaksud menyelakaimu bahkan anakmu. Namun, rencanaku gagal. Mau tidak mau, aku hanya bisa mengawasimu melalui kaki tanganku. Setiap foto yang aku terima, senyumanmu berhasil mengobati hari-hariku yang penuh kehampaan. Aku ingin melihatmu lagi lebih dekat untuk terakhir kalinya," bisiknya pelan bagai desir pasir.

Lihat selengkapnya