Cawan Kosong

Celica Yuzi
Chapter #34

20 | PENGAKUAN DOSA [2]

Hara terperanjat dari mimpi buruknya. Kegelisahan mengguyur sekujur tubuhnya melalui keringat dingin. Pening langsung menyerang sampai dahinya berkerut. Kesadarannya belum terlalu pulih. Mata mengerjap-ngerjap agar pupil mata bekerja menyesuaikan situasi. Ia sempat merasakan bawah matanya basah. Entah karena menangis atau keringat.

Apa yang kulihat tadi? Siapa mereka?

Bertanya-tanya dalam kebingungan, lambat laun ia menyadari dirinya berada di suatu tempat. Matanya menyapu interior ruangan yang termakan bayang-bayang lampu rendah watt. Lampu operasi, ranjang operasi, tirai plastik bercak kecoklatan, troli medis, hingga benda-benda tertutup kain.

Hara menduga dia berada di klinik terbengkalai. Ia mencoba mencoba untuk berbicara demi meminta pertolongan. Sayangnya yang keluar dari bibirnya hanya gumam tak bernada.

Kini Hara mengerti. Bibirnya dibungkam suatu kain. Ingin berteriak pun tak akan ada yang mendengar. Ketika menggerakkan tangan dan tubuh, tak bisa dilepas begitu saja. Dua tangannya terikat ke belakang, seluruh permukaan jari yang tak bersarung tangan dapat meraba sela-sela sandaran kursi. Ikatannya kuat hingga menimbulkan ritme goyang bertempo. Bergoyang ke depan dan ke belakang. Entah milik siapa kursi goyang yang didudukinya.

"Oh, Tuan Putri kita sudah bangun rupanya."

Suara lelaki yang familier di telinga datang tak diundang. Hara dapat mendengar tirai plastik tersibak di tempat yang tak terlihat. Derap langkahnya menggema mengguyur kengerian Hara. Petir kembali menggema lebih jelas ketika pria itu datang ke hadapannya.

Tidak salah lagi. Dialah Huan. Tubuhnya menjulang tinggi dengan pakaian serba hitam. Kaos turtle neck-nya mencapai bawah dagu. Sepatu hitam mengilat itu tak ragu meninggalkan jejak di lantai berdebu. Begitu pula celana yang senada rambut kelamnya.

Lampu temaram yang terhalang punggung pria itu menciptakan bayang mengerikan di mata Hara. Jantung perempuan berkucir kuda itu hampir melompat ketika mata mereka bertemu.

"Apakah kamu bermimpi indah, cantikku?" Jari jemari bersarung tangan itu meraih dagunya. Tubuh yang terikat di kursi goyang pun turut mengikuti sudut tubuh Hara yang maju beberapa senti. Huan tersenyum lebar bagai menemukan buruan. Sesaat sambaran petir kedua kalinya menghentikan Hara bernapas bebas.

"Sudah kuduga, kamu terlihat nyaman duduk di kursi goyang milik Engkong." Huan melihat arloji tersembunyi di lengan "Tidur tiga jam. Tidak buruk untuk peminum pemula."

Peminum pemula ...?

Hara tidak mengerti mengapa dia disebut peminum pemula. Dahinya mengernyit. Berpikir keras aktivitas yang dilakukannya sebelum berakhir di sini.

Aku hanya minum teh.... Tunggu, apakah dalam teh yang aku minum—

"Jangan bilang kamu baru sadar? Iya sih, 'kan aku tidak kasih tau kamu." Huan menahan gelak tawa di balik kepalan tangan. "Kemarin malam, kita minum teh paling spesial."

Huan mengusap pipinya. Permukaan dingin sarung tangan Huan menyentuh pipi lembut Hara. Kemudian, berbisik lembut bagai angin berembus, "Teh racikan yang hanya kubuat untukmu seorang. Dengan tambahan rum berkualitas yang aku curi dari ayahku."

Hara mengingat kejadian acak yang terjadi beberapa jam lalu di rumah makan Seribu Teratai. Perasaannya begitu bahagia. Lepas. Tidak ragu melakukan apapun. Melupakan segalanya. Kemudian terlelap dengan perasaan was was untuk segera pulang. Namun, dia lebih tidak menyangka dirinya tersekap dalam ruangan asing ini.

Tempat apa ini? Mengapa hawanya gak enak sekali?

"Oh. Aku baru ingat ini pertama kalinya kamu ke rumah Engkong. Selamat datang. Sekarang kita berada di rubanah Engkong. Tempat yang dulu dipakai Engkong untuk praktek rahasianya. Sekarang aku akan perkenalkan kamu dengan orang tuaku."

Tiba-tiba Huan memutar kursi goyangnya di hadapan tirai berplastik sisi kirinya. Sisi tergelap yang tidak ingin Hara ketahui selain mencoba melepaskan diri. Dua manusia tengah memperhatikannya di sofa bersama balik tirai.

"Ma, Pa, coba lihat siapa yang datang!"

Lihat selengkapnya