Cawan Kosong

Celica Yuzi
Chapter #36

21 | KARAM DI DARAT [1]

Inilah upaya Jian menyelamatkan nyawa terakhir.

Setiap tapak kaki lambannya menggema di koridor rumah, jejak darah mengekor tepat di belakangnya. Tendon achilles kirinya telah disayat, begitu pula jari jemari dan tumitnya dipatahkan. Wajahnya semakin buruk rupa oleh lebam, luka robek di bibir, hingga keringat di pelipis bercucuran darah.

Ia tak akan berhenti melangkah menggendong bayi dalam bedongan titi nada bernoda darah sampai pintu utama. Tangannya abai dengan luka tusuk di perut kanannya. Namun, fisiknya yang lemah akibat luka-luka diseluruh tubuh membuatnya tumbang di ruang tengah.

Tak akan berhenti sampai melihat secercah cahaya dari ruang tengah.

Bayi dalam gendongannya untunglah tidak terluka. Jian menarik napas sebanyak-banyaknya sebelum menyeret tubuh berlumuran darah keluar dari neraka.

Sayangnya paru-paru tak bisa diajak bekerja sama. Bernapas saja terasa sulit sampai terbatuk-batuk. Sejak dibawa paksa ke rubanah, kakaknya telah berniat menghancurkan Jian hingga ke tulang. Klinik ilegal tersembunyi itu hampir menjadi kuburannya kalau saja Jian tidak berhasil melepaskan diri dari jeratan tali, lalu menumbangkan kakaknya dengan troli medis secara telak.

Jian menatap si kecil menggeliat tak nyaman di balik selimut. Tengkurap menjadi kura-kura demi memeluk sang bayi yang merengek.

“Jangan khawatir … kamu akan selamat ….”

Jian tak bisa menghindari gema alas sepatu sandal datang yang mendekat Tiba-tiba betisnya pun terinjak. Bibir Jian menganga bagai ikan mencari air. Menahan erangan kesakitan di ujung lidah. Kaki kanannya pun ditarik paksa hingga ke udara.

Tatkala tendon achilles kanannya dilukai dalam satu sayatan terdalam, Jian memekik kesakitan. Darah mengalir bagai curug. Air mata luruh dari sudut mata.

Tubuh lemahnya dipaksa berbalik menghadap langit. Wajahnya disepak bagai bola. Beberapa kali Jian terbatuk kala darah telah menyumbat di kerongkongan. Sesakit apa pun, Jian masih memeluk sang bayi.

Dengan penglihatan berkunang-kunang, Jian dapat merasakan tatapan kakak sulungnya yang menusuk ulu hati. Wajahnya semakin dekat kepadanya sampai terlihat jelas jejak darah di pelipis membasahi kelopak mata kanan, hingga lebam di bibir dan pipi. Masih ada sisa-sisa bercak darah di sekitar wajah hingga leher.

Serta sebilah pisau berlumuran darah di tangan keriput Lian yang terangkat di udara.

“Oh, Jian. Adikku sayang.” Lian menyambut sang adik tanpa ekspresi. “Setelah kamu pergi dari rumah ini dan menerima hadiah di wajahmu, aku sudah memaafkanmu. Bahkan seandainya jika kamu mengadu kejahatan kita pada polisi, aku akan berusaha mengeluarkan kamu dari sana. Tapi, di antara banyaknya polisi yang kukenal, kenapa harus dengan si bajingan itu?”

“Dia … orang yang mulia ….” Jian menatap Lian tanpa gentar walau gelombang ucapannya bergetar. “Dia tidak seperti polisi-polisi yang berada dalam genggamanmu. Dia … berbeda dengan polisi lain ….”

Lihat selengkapnya