Sudah tiga hari Bayu tinggal di posko bantuan Rumah Sakit Samudera Biru. Dia melepas seragamnya sejak mendapat pengobatan dari dokter. Hanya tersisa kaos oblong dan celana pemberian sang kawan yang dibeli dari toko terdekat.
Menurut dokter, beruntung kaki Bayu tidak mengalami luka fatal yang melumpuhkan. Tidak ada peluru bersarang di otot kaki, melainkan luka yang merobek kulitnya cukup dalam akibat peluru meleset. Oleh sebab demikian, Bayu dipaksa Zaidan untuk dirawat sampai pulih. Sementara Zaidan sibuk mengurus kerusuhan bersama tim kepolisian dan berjanji mencari keberadaan keluarga Bayu.
Di tengah memulihkan luka, Bayu mengajukan diri menjadi relawan. Membantu penyaluran logistik untuk para korban, menjadi teman berbicara orang-orang yang menanti kabar keluarga, dan pekerjaan ringan yang mampu dilakukannya.
Akan tetapi, sejak hari pertama di rumah sakit, Zaidan mengingatkan untuk tidak menyebutkan identitasnya sebagai polisi kepada siapa pun. “Demi mengurangi risiko yang tidak pernah kita tahu”, begitu alasan yang dikemukakan. Seragam Bayu pun disimpan oleh temannya.
Meski sudah membunuh waktu dengan kebaikan, sampai saat ini Bayu belum mendapatkan kabar tentang Sima dan anaknya. Begitu pula keberadaan Jian.
Bayu agaknya menyesal tak bisa menepati janji bertemu Jian di pagi buta sesuai rencana. Ponsel pemberian Jian menghilang. Kemungkinan besar terjatuh saat kerusuhan di Senayan. Dia tak bisa menggunakan telepon rumah sakit karena selalu berdering setiap menit.
Yang bisa diandalkan Bayu hanyalah omong-omongan paramedis, masyarakat yang berada di posko bantuan, hingga sopir ambulans yang kadangkala mengajaknya makan bersama.
Hari kemarin sekitar jam satu siang, Bayu mendengar dari paramedis jika seluruh rekan mereka turun lapangan untuk membawa para korban kebakaran di mall Yogya Plaza Klender. Malamnya, banyak pasien terluka hingga kantong jenazah diturunkan dari ambulans di sepanjang koridor.
Dengar-dengar dari para korban di posko juga, terjadi penjarahan besar oleh massa di area Glodok. Mungkin, karena itulah Jian tak bisa dihubungi—demi menyelamatkan diri dari kerusuhan yang terjadi sejak tanggal 13 Mei lalu.
Harap cemas menanti kabar Sima dan anaknya, Bayu masih tetap melakukan tugasnya sebisa mungkin. Ketika telepon rumah sakit sedang tenang di jam 12 siang, Bayu memanfaatkannya dengan menelepon ponsel Jian. Tidak diangkat selama dihubungi lima kali. Menanti Zaidan yang tak kunjung datang juga tak ada gunanya. Pastilah kawannya itu masih menangani kerusuhan massa.
Menjelang jam empat sore, matanya mulai lelah. Tenaga Bayu cukup terkuras membantu menyalurkan logistik posko bersama rekan-rekan sopir ambulans yang berganti sif. Kakinya yang sedari tadi berkeliling rumah sakit diajak berhenti di kursi tunggu koridor terbuka menghadap taman. Pilar di sampingnya menjadi tempat bersandar kepalanya sejenak. Ia enggan menutup mata, tetapi terlalu berat ditolak.
Berkali-kali hatinya berbisik agar istri dan anaknya selamat. Berkali-kali ia berdoa dapat memeluk istri dan anaknya setelah kembali ke rumah. Berkali-kali ia memohon dalam kebingungan tiada tara untuk dapat melihat senyum indah terpatri di bibir kekasihnya kembali.
Bayu berharap ini semua hanya mimpi. Memastikan kabar baik sampai di telinganya.
+++
Langit begitu cerah. Aroma teh melati menguar terhidu indra penciuman. Nyanyian dengung nan merdu terdengar sampai telinga. Sementara tangan Bayu bergerak memukul punggung sang bayi yang terlelap di perutnya.
Walau tidak seindah dongeng, area belakang rumah keluarga kecil Bayu adalah markas rahasia terindah yang tak boleh diusik siapa pun. Mau cerah atau hujan, Bayu tetap akan mempertahankan pekarangan belakang rumah yang ditumbuhi bunga-bunga dan rumput hijau itu sampai si kecil tumbuh dewasa.
Siluet istrinya tercetak pada setiap lembar kain putih yang berkibar-kibar di atas tali jemuran. Tangannya cukup lincah menaruh baju-baju dewasa di hanger. Pakaian buah hati yang serba biru dan merah muda pun dijemur rapi.
Bayu sempat menawarkan diri untuk membantu, tetapi istrinya menyuruh tetap menjaga anak dan menikmati tehnya.
Selesai menjemur, Sima membawa keranjang jemuran menuju kursi di seberang Bayu. Terlihat kelelahan, tetapi merasa puas dengan hasil jemurannya. Sorot matanya memandang langit teduh. Semilir angin pun menyapa, menari bersama genta angin di atas kepala mereka.
“Sayang, apa kamu pernah memikirkan tentang kehidupan tanpaku?”
Bayu sejujurnya belum memikirkan pertanyaan dadakan tersebut. Sehingga ia menjawab sekadarnya, “Belum. Bahkan tidak terlintas di otakku. Apa kamu pernah?”
“Belum juga,” jawabnya seraya tersenyum kecil. “Tapi, Bayu. Jika nanti aku meninggalkanmu duluan, apakah kamu akan tetap mencintai Hara?”
“T-tentu saja.” Bayu mendadak gugup. Firasatnya mendadak buruk. “Memangnya … kamu mau pergi ke mana?” tanya Bayu lembut. Tak ingin menuduh sang istri berniat meninggalkannya.
“Pergi ke suatu tempat yang cukup jauh.” Sima tersenyum kecil. “Tapi, bisakah kamu berjanji padaku untuk selalu menyayangi anak kita di mana pun dia berada?”
Lidah Bayu mendadak kelu. Ada ucapan yang tersangkut di kerongkongannya. Hatinya mendadak tak rela jika ia harus berjanji sekarang. Ketakutan itu merayap ke seluruh dada.
“Bagaimana jika aku gagal menjaganya? Apa kamu akan tetap pergi?”
“Tidak. Kamu tidak akan gagal.” Sima menggeleng kepala. “Jika waktunya aku pergi, maka sudah waktu aku pergi. Jadi, seandainya kamu amnesia dan melupakan anak kita, aku yakin kamu pasti tetap menyayanginya. Karena kamu adalah ayahnya.”
Bayu menarik napas selambat mungkin. Dia mempersiapkan diri membalas ucapan sang kekasih, “Seandainya kamu pergi mendahului kami, bahkan ketika kamu memisahkanku dengan Hara, aku akan berusaha mencarinya. Aku pasti akan mengetahui di mana anak kita meskipun ingatanku memudar. Aku menyayangi anakku. Aku akan melindunginya sampai akhir hayatku.”
Senyum lebar terpatri di wajah Sima. “Terima kasih telah berjanji padaku.”
Bayu tak bisa membuka mulutnya lagi. Hanya bisa diam melihat Sima bangkit membawa keranjang jemuran. Menjauh dari Bayu menuju lautan jemuran kain yang tengah berkibar lembut.
Bayu tak dapat menyusulnya seolah paku besar menancap di bumi. Tangannya tak mampu bergerak menggapai Sima yang terhalau sinar mentari.
“Sampai jumpa di lain waktu.”
+++
“Bayu! Bayu! Bangun Bayu!”
Guncangan tubuh berhasil menyadarkan Bayu dari tidur lelapnya. Nyawa terkumpul lebih cepat. Bayu mendapati Zaidan berjongkok di hadapannya.
“Aku hampir terkena serangan jantung!” Zaidan mengusap dadanya berkali-kali. “Kamu tertidur seperti orang mati! Sudah aku katakan padamu untuk istirahat yang cukup, bukannya mengitari satu rumah sakit.”
“Oh, Zaidan ….” Matanya mengerjap beberapa kali. Terasa basah dan tidak nyaman, punggung tangan mengusap seluruh sudut mata. “Aku hanya bantu-bantu paramedis yang kerepotan. Tidak perlu cemas.”
Aneh. Dia menyadari baru saja ketiduran dan bermimpi aneh tentang istrinya. Namun, ia tak menyangka matanya mengeluarkan air mata.