Malam semakin larut. Rintik hujan senantiasa menemani perjalanan. Landasan tanah becek semakin melebar oleh mobil pick up. Wiper senantiasa menyapu bersih jendela demi melihat jalan yang tersorot lampu mobil.
Semakin lama memasuki area pepohonan dan rerumputan liar, Om Bayu semakin dekat dengan lokasi tujuan. Melalui waktu hampir satu jam perjalanan, telah nampak lahan yang lebih luas dipandang. Kecepatan mobil semakin bertambah.
Om Bayu tidak merasa heran jika jalan yang dilalui terlihat sepi. Tidak ada perumahan maupun toko kelontong. Hanya jalan searah menuju rumah yang diketahui sebagai hunian penjahat yang dikejar Om Bayu sejak lama. Tempat yang diduga sebagai lokasi terakhir Hara saat ini.
“Itu bukan, rumahnya?” Wira menunjuk sebuah atap rumah dari jarak jauh. Hanya beberapa meter lagi saja mereka akan sampai.
“Iya. Itu pasti Engkong!” Lim mengangguk kencang.
Disinilah titik tak bernama dalam peta ponsel Lim. Rumah gaya kolonial yang masih kokoh. Satu-satunya bangunan yang berdiri selain lahan berumput. Diperkirakan oleh Om Bayu hanya memiliki satu lantai yang didukung lahan luas. Tidak ada pagar pembatas, melainkan patokan kotak pos tua nan berkarat. Tidak ada penjagaan ketat selain waspada.
Om Bayu memilih memarkir mobil pick up di bawah pohon rindang berdaun lebat—satu-satunya tumbuhan yang berdiri tegak selain semak belukar berbunga melati mengelilingi rumah tua itu.
Ia melihat sekeliling halaman rumah, terdapat garasi terbuka yang di halangi Toyota Fortuner hitam terparkir di luar. Om Bayu menarik tuas gigi dan mematikan daya mobil.
“Lim, kamu tunggu di sini. Tolong kabari Rio kita sudah sampai di lokasi. Saya dan Wira akan cari pintu belakang untuk menerobos,” jelasnya kala mempersiapkan revolver yang dikeluarkannya dari saku jaket.
“Oke, Om.” Lim mengangguk.
“Wira, kamu coba cek dalam garasi mobil itu. Siapa tahu ada jalan masuk dari garasi dan alat berguna, seperti linggis. Saya akan pergi ke sisi kiri.”
“Siap!” Wira mengangkat tangannya hormat.
Om Bayu bersama Wira lekas turun dari mobil. Noda becek tak terhindarkan saat sepatunya berjalan cepat mencari pintu belakang rumah.
Berdasarkan informasi dari Ayah Lim saat di bengkel, rumah buronan yang dicarinya memang tidak dipagari kecuali jalan menuju pintu belakang. Tidak ada tanda-tanda rumah lain nampak dari lokasi ini. Tidak banyak yang mengetahui keberadaan rumah yang berjarak lebih dari 10 kilometer dari jantung kota. Om Bayu menduga tempat ini lebih dari sekadar hunian kakek tua biasa.
Sampailah ia di pintu belakang. Pagar besi berkarat itu memisahkan pemandangan semak belukar mawar. Jalur jalan bebatuan terlihat lebih rapi dibandingkan halaman depan rumah. Dinding memanjang ke belakang dan menjulang tinggi. Tidak bisa dipanjat kecuali menggunakan tangga dan tega merusak mawar.
Gemboknya terlihat berkarat. Om Bayu berpikir lebih mudah menghancurkan gembok dengan batu daripada membuang peluru. Kebetulan ia menemukan bongkahan batu berderet rapi di sisi kanan pagar.
Om Bayu langsung menghantamnya sekuat tenaga tanpa takut ketahuan. Satu kali. Dua kali. Tiga kali. Gembok pun hancur seketika.
Segera ia mengeluarkan revolver. Secepat kilat membuka tabung silinder. Peluru masih terhitung enam buah. Setelah memastikan isinya, tabung silinder kembali di tempat. Om Bayu mengeluarkan ponsel guna memanfaatkan flashlight untuk menerangi jalan. Ia bersiaga dengan revolver di tangannya.
Petir menyambut kedatangan Om Bayu di rumah tua. Langkah lebarnya menyusuri jalan setapak yang dikelilingi mawar segar. Mengingatkannya tentang sebuket bunga mawar untuk sang kekasih beralih diberikan untuk calon mertua.
Setiap langkah tertanam kecurigaan dalam benaknya. Aroma bunga lain yang familiar di indra penciumannya pun terhirup. Firasatnya mengatakan bila ia lebih dekat dengan akses pintu belakang rumah.
Sampailah di pekarangan belakang rumah. Pohon tak berbuah dikelilingi bunga-bunga bakung seputih salju Sekilas Om Bayu teringat hari-harinya membantu teman karibnya yang telah lama berpulang 25 tahun lalu. Merawat bunga bakung, membuat buket, hingga mengantar pesanan orang yang selalu diapresiasi dengan anggukan dan senyuman.
Akan tetapi, Om Bayu merasa keganjilan. Taman bunga indah yang nampak menyimpan banyak rahasia. Ujung dinding kanan dan kiri area belakang rumah diberi wiremesh, anyaman besi yang menjadi dinding pembatas taman mini yang dikelilingi bunga mawar. Seakan menjadi pembatas dari ujung kegelapan yang tak bisa disentuhnya sembarangan.
Ketika melangkah melihat area belakang rumah lebih luas, Om Bayu menemukan pintu belakang rumah dan ruang yang terlihat menonjol dari dinding rumah belakang. Ia tertarik mendekati ruang yang diduga pintu lain. Pintu itu diberi gembok dan pengait berkarat. Sekali dicoba dengan tendangan kuat, pintu itu langsung terbuka. Flashlight menerangi bagian dalam gudang. Sekumpulan alat bercocok tanam dan pupuk menumpuk adalah penghuninya.
Om Bayu segera memasukkan revolver dan ponsel ke saku jaket. Tidak perlu berlama-lama ia menemukan alat yang berguna. Linggis yang terselip di diantara sekop dan pupuk masuk dalam jangkauan mata. Ia yakin memanfaatkan linggi sudah cukup membantunya untuk menjadi kunci alternatif
“Om Bayu!” Wira dari kejauhan memanggilnya. Panggilan yang lebih dekat dari perkiraannya. Bersamaan panggilan kedua namanya, dobrakan pintu lain menyahut bersamaan.
Segera Om Bayu bergegas menuju asal suara Wira. Napas pemuda itu tersenggal-senggal. di depan daun pintu belakang rumah utama. “Aku … aku menemukan Cici Hara!”
“Di mana dia? Ada tanda-tanda keberadaan Huan?”
“Huan gak ada, Om.” Wira kembali berdiri tegak setelah tarikan napas panjang. “Tapi Cici Hara … Cici Hara ada di ruang tengah, tapi lukanya parah banget, Om! Ayo cepat, Om!”
Mendengar penuturan Wira yang kembali berlari berbalik arah, Om Bayu langsung mengekor tanpa menyembunyikan gema langkahnya. Melewati dapur, meja makan, hingga lorong panjang yang tersambung ruang tenga. Sesekali Om Bayu menengok kanan dan kiri. Tidak ada tanda-tanda keberadaan manusia lainnya yang hadir. Meski kesunyian yang dirasakan terasa janggal, Om Bayu tetap waspada. Prioritasnya adalah menyelamatkan perempuan yang terkonfirmasi tes DNA sebagai anak kandungnya.
“Di sini, Om!”
Suara Wira yang menggema menuntunnya ke ruang tengah. Om Bayu tersentak melihat kondisi Hara terkulai dan dikelilingi genangan darah.
“Hara!”
Om Bayu langsung bersimpuh memeluk Hara ke dalam dekapan. Wajah anaknya terlampau pucat. Jarinya memastikan denyut nadi di area leher. Masih berdenyut. Saat menyentuh area kaki, tangannya terasa basah. Tanpa menggunakan bantuan cahaya, Om Bayu menyadari darah di sekitar lantai berasal dari luka di kaki Hara.
“Kamu bisa kasih pertolongan pertama? Tolong bantu saya mengobati lukanya dengan peralatan bersih yang bisa ditemukan di sini. Jika ada kotak P3K akan lebih baik,” ucap Om Bayu merasa putus asa.
“Serahin ke aku, Om!” tanggap Wira berlari menuju arah dapur secepat kilat.
“Om … Bayu?”
Om Bayu terpanggil. Terperanjat melihat Hara yang tengah berusaha mengenali wajahnya. Buru-buru ia memegang tangan perempuan itu erat. Sangat erat tak ingin terpisahkan.
“Iya, Ayah di sini.” Wajah tercengang itu menatap luka-luka di kaki Hara. Ingin rasanya memuntahkan seluruh bongkahan batu terpendam di hatinya. “Maafkan Ayah baru datang menjemputmu, Nak. Maaf Ayah terlambat ....”
Wira akhirnya kembali. Ia langsung duduk bersila di samping kaki Hara. Terdapat enam serbet bersih berbeda motif tercangklung di tangannya. Satu tangannya menggenggam gunting berujung lancip. “Om, sekarang tolong baring tubuhnya Cici ke lantai. Kakinya bisa dinaikkan ke pahaku.”
Om Bayu langsung mengikuti perintah Wira. Tubuh Hara dibaringkan kembali ke lantai, sementara kakinya yang terluka diangkat ke paha Wira. Gunting langsung bekerja membentuk pola robek di paha dan betis lebih terbuka, lalu membuang sisa bahan ke sisi lain.
Wira melipat satu serbet bersih ke paha Hara. Menekan titik pendarahan untuk mencegah darah mengalir deras. “Om, tolong tekan kain ini.”
Om Bayu menuruti. Satu tangannya menghalau titik pendarahan paha Hara. Perempuan itu tak mengeluarkan suara apa pun selain bulir-bulir keringat sebiji jagung keluar dari kening hingga leher.
Tanpa merasa terganggu oleh suara guntur, Wira membalut paha Hara dengan serbet baru. Kemudian mengambil serbet baru untuk menutup luka di betis dan atas mata kaki dengan cara yang sama. Pertolongan pertama selesai.
“Selesai!” ujar Wira mengusap peluh di dahi. “Untunglah aku masih ingat ajaran kakakku.”
“Terima kasih, Wira. Terima kasih!” Om Bayu mengusap sisi wajah Hara. Keringat dingin bertambah banyak dari pelipis Hara. “Sekarang saya harus bobol pintu depan sebelum Huan datang. Tolong bawa anak saya dengan hati-hati.”
“Baik, Om.” Wira mengangguk.
Om Bayu bangkit untuk mencongkel kenop pintu utama. Memukulnya berkali-kali. Melihat celah kenop mulai kendor, ia baru menarik kenop pintu sekuat tenaga. Akhirnya Om Bayu berhasil mematahkan kenop pintu rumah sang penjahat.
Sebelum menarik pintu, Om Bayu menarik napas sebanyak-banyaknya sebelum cahaya malam menyeruak masuk ke dalam rumah. Pintu terbuka selebar-lebarnya tanpa halangan.
Akhirnya. Akhirnya dia akan membawa pulang sang buah hati. Anak yang telah lama menghilang keberadaannya sejak kematian istrinya yang tragis. Tungkai kakinya melangkah mantap menuju teras.
Akan tetapi, perasaan lega di hati luntur seketika. Kakinya terpaku hawa dingin nan ganjil.
“Om, ada ap—”
Tanpa melihat, Om Bayu langsung merentangkan satu tangannya sebelum Wira yang menggendong anaknya di belakang menyusul. Ia dapat melihat mata pemuda itu terbelalak melihat pemandangan di hadapan mereka dan berseru panik.
“Lim!”
Om Bayu tidak akan mengira harus menghadapi rintangan berat yang tak terpikirkan dari rencana awal. Lim berlutut di bawah revolver seorang pria paruh baya berkumis uban. Anak muda yang membantu membawanya ke rumah tua tengah memejam ketakutan kala moncong pistol di belakang kepala..
“Om Bayu, Koh Wira …. Tolong,” cicit Lim ketakutan di bawah ancaman.
Petir berkelakar. Rintik hujan semakin membasahi bumi. Tangan Om Bayu terkepal dalam-dalam ketika matanya beradu pandang dengan tamu tak diundang. Namun, ia menarik napas dan bersikap tenang demi mengendalikan situasi.
“Kamu pasti kebosanan di rumah Bu Nia, sampai-sampai masih ada tenaga untuk menyusulku?” tanya Om Bayu kepada tamu tak diundang. “Atau jangan-jangan, kamu ingin membersihkan kotoran cucu pemilik rumah ini, Zaidan?”
Dialah Pak Zaidan. Rekan sejawatnya yang selama ini selalu berada disisinya di segala kondisi tersenyum mengejek. “Kenapa aku harus berurusan dengan cucu si gila itu? Aku sengaja kemari demi menyusulmu.”
Walau rahang mulai mengeras, Om Bayu memasang senyum palsu demi berbincang dengan rekannya. “Lantas kenapa kamu menodong pistol ke anak tak bersalah itu? Dia tidak ada urusannya denganmu.” Om Bayu semakin menggenggam linggis lebih erat. “Kamu berurusan denganku. Ayo kita bicarakan bersama. Ada perlu apa kamu menyusulku?”
“Sejak awal aku tidak ingin berurusan denganmu. Terlebih persoalan sialan ini. Sayangnya, keadaan membuatku terpaksa menerima tawaran orang tua bangsat itu.”
Kilat petir mengakar ke bumi. Om Bayu memperhatikan Lim menutup matanya tanpa berpindah sedikit pun. Pemuda itu tak berani bersuara atau melihat keadaan terkini, bahkan menyentuh ponsel kesayangan di tanah.
“Sudah kuduga. Tidak mungkin kasus Penguburan Mayat menjadi sulit dipecahkan jika bukan karena orang sepertimu sengaja menghalangiku. Begitu juga dengan kasus Putri Tidur.” Om Bayu menahan emosi di pangkal lehernya. Ia tetap menjaga ketenangan demi keselamatan para pemuda yang membantunya.
“Oke. Langsung saja pertanyaan pertamaku. Sejak kapan kamu menjadi kaki tangan Lian? Yang aku tahu, dia selalu mengandalkan adiknya.”
“Benar. Dia selalu mengandalkan adiknya, tapi dia merasa ada yang tidak beres. Bertepatan hubungan adik kakak gila itu renggang, kebetulan sekali aku memergoki Bos kolot kita bersama si Tua Bangka itu.”