Cawan Kosong

Celica Yuzi
Chapter #39

23 | SECERCAH ASA KEHIDUPAN

Enam tahun telah berlalu. Pencarian anak semata wayang Bayu tidak membuah hasil. Begitupun kematian sang istri dan teman yang mengenaskan tanpa alasan. Menjalani hidup seperti hantu bergentayangan.

Selama menjadi sukarelawan mencari jejak-jejak korban kerusuhan dua tahun lalu, Bayu berharap ada setitik cahaya mengenai jejak anaknya. Namun, tidak ada satu pun bukti selain keberadaan selimut berdarah. Biaya pemeriksaan DNA yang terlampau tinggi tak bisa menjadi alternatif.

Serta, petugas forensik tidak ada yang bisa menjelaskan keganjilan kondisi tubuh istrinya yang terluka parah di bagian dada. Konon, rusuk dan jantungnya rusak parah sehingga tak bisa diperlihatkan. Rekan yang dikenalnya—Bu Nia—tidak bisa membantu otopsi karena dimutasi di luar kota. Tubuh Jian yang hancur diduga meninggal akibat pendarahan di titik leher meninggalkan banyak tanda tanya.

Bertepatan di tahun ketiga kerusuhan Mei '98 berlalu, Bayu memilih menyerah. Ingatan terakhirnya sebelum mengisolasi diri dari dunia luar hanyalah teriknya matahari menusuk kulit selama menabur bunga di pemakaman. Juga menaruh surat pengunduran diri.

Rumah hampir menjadi sarang hantu jika Zaidan tak berkunjung setiap minggu. Keluar sebatas duduk di teras rumah. Halaman belakang rumah yang terjaga dibiarkan berantakan. Makanan terasa pahit di lidah. Andaikata rekannya tidak rutin menjenguk, Bayu telah membuang seragam kerjanya.

Tentu hal itu tidak pernah terjadi karena berhasil dicegah. Dia tak bisa mengeluarkan satu kalimat pun selain embusan napas. Terlalu larut dalam duka yang terlihat mustahil disembuhkan.

Sejak peringatan kepergian istri, anak, dan teman karibnya yang kelima tahun, rekannya mulai membujuk Bayu pergi ke psikiater. Mulanya Bayu mengabaikan. Namun, dia baru termotivasi di suatu waktu Zaidan membantu membereskan rumahnya menemukan kalung untuk istrinya di kolong kasur. Kemunculan potret anak dan istrinya dalam liontin seolah memberikan semangat. Api kehidupan perlahan muncul.

Mulai dari merapikan rambut. Mencukur kumis. Jalan-jalan keliling kompleks. Rutin konseling setiap bulan. Kembali diboyong ke markas besar kepolisian. Sebagian rekan masih mengingatnya. Begitu pula para atasan yang pernah mendepaknya dari tim menganggap dirinya pulang kampung.

Perlahan Bayu kembali beradaptasi. Tanpa embel-embel kasus Penguburan Mayat yang tak bisa disebut gamblang karena tenggelam oleh duka kerusuhan enam tahun lalu.

Selagi bekerja, Bayu menjalani pesan psikiaternya untuk kembali bersosialisasi. Salah satunya tugas lapangan untuk sosialisasi uang palsu yang sedang marak. Mulai dari warga pasar, sekolah terdekat, hingga organisasi koperasi perempuan yang dilakukan hari ini. Usai kegiatan sosialisasi, Bayu ditawari makan siang bersama anggota koperasi.

Namun, energinya hampir habis menanggapi para anggota perempuan yang terlalu bersemangat. Terpaksa dia harus tega meninggalkan Zaidan yang terjebak makan siang bersama para anggota koperasi. Untunglah alasan 'ada urusan mendesak' mudah dilakukan.

Bayu memilih istirahat di kios kecil di depan area taman kota, berseberangan dengan Panti Asuhan Kasih Ibu. Salah satu panti asuhan yang Bayu dengar dari warga sekitar telah berdiri kokoh sejak zaman kolonial di Jakarta Barat. Kebetula ia dan rekannya pada lusa mendatang memiliki jadwal sosialisasi uang palsu untuk anak-anak panti di sana.

Seraya menenggak sebotol mineral dingin, Bayu memperhatikan sekitarnya. Tepat di belakangnya adalah taman rekreasi. Akhir pekan selalu banyak orang tua muda mengajak anak-anaknya berjalan di bebatuan. Tidak heran jika melihat keluarga silih berganti menyebrang jalan ke taman untuk bermain atau beli jajan. Bahkan gadis kecil pun bisa menyebrang sendiri tanpa orang tua.

Bayu menyadari gadis kecil yang itu hanya berdiri sendiri. Bergaun merah muda bak peri mungil dengan sarung tangan. Termenung di hadapan zebra cross seolah menanti seseorang. Lampu penyeberangan jalan masih hijau. Dia terlihat ragu-ragu melangkah menyebrang jalan tanpa pengawasan orang dewasa.

Mungkinkah dia ditinggal teman-temannya? Bagaimana jika anak itu dibuang ibunya? Bagaimana jika anak itu sengaja ditinggal seseorang? Bagaimana jika anak itu ....

Prasangka buruk berputar bagai kaset rusak. Matanya masih fokus memperhatikan situasi. Saat gadis kecil itu akhirnya memutuskan menyeberang, lampu penyebrang jalan berubah merah. Bayu melihat dari arah berlawanan motor melaju cukup cepat. Akibat nyaringnya bel motor, gadis kecil itu jadi terpaku di tengah jalan.

Segera Bayu bangkit berlari ke tengah jalan. Responsnya yang cepat berhasil menyelamatkan gadis cilik tepat waktu, hingga terguling ke sisi semula. Jantungnya berpacu lebih cepat. Dia langsung memastikan bocah dalam rengkuhannya baik-baik saja.

"Nak, kamu baik-baik saja?"

Belum memastikan penuh kondisi gadis kecil, Bayu memaki si pengendara yang sempat berhenti memperhatikan mereka, "Matamu di mana?! Kemari kamu!"

Pengendara itu panik. Buru-buru kembali menyalakan motor dan menjauh dari lokasi. Bayu langsung menghafal nomor platnya agar sekali-kali menghukumnya jika bertemu lagi.

"B 2023 CWK, plat nomor sampai Agustus tahun depan. Awas saja kalau sampai bertemu lagi!" Puas menghardik, Bayu kembali fokus dengan si gadis kecil yang tak berkutik di hadapannya.

"Ada yang sakit?"

Tangannya sibuk membersihkan debu dari rok si gadis kecil yang terlihat robek. Rasanya lembap seolah ia baru terjatuh di kolam. Ia juga menyadari dua tangan mungil itu bersarung tangan putih. Lutut kanan terluka dan darahnya mengering. Wajah si gadis kecil terlihat habis menangis.

"Orang tuamu ... di mana?" Bayu bertanya lembut.

Anak gadis bergaun merah muda itu menggeleng kepala. Tangannya menunjuk ke arah seberang jalan—Panti Asuhan Kasih Ibu.

"Aku tinggal di sana," ucapnya sendu. "Aku habis main di sini. Aku ... balu mau kembali."

Bayu membulatkan bibirnya. Ternyata gadis kecil ini berniat kembali ke panti asuhan. "Tidak bersama kakak panti atau ... anak lain?"

Gadis kecil itu menggeleng kepala lagi. Terlihat enggan menjelaskan mengapa dia di sini sendirian.

Entah mengapa, dia membayangkan bagaimana jika anaknya masih hidup dan dalam penampilan seperti ini. Meski bukan urusannya ada apa gerangan dengan si gadis kecil sebelum ke zona taman rekreasi, Bayu tidak bisa membiarkan anak ini pulang dalam keadaan berantakan. Walau tidak seberantakan kondisinya dahulu.

"Ikut Om Polisi dulu, yuk? Om bantu bersihin lukanya."

Bayu mengetahui tidak ada apotek terdekat. Dia memutuskan membeli air botol mineral dan tisu kering satu pack dari kios. Mengajak anak kecil duduk di bangku beton taman yang kebetulan kosong.

Tangan Bayu sempat berkeringat. Dia menarik napas berkali-kali agar suasana hatinya lebih tenang. Terkadang kematian istri dan selimut berdarah milik anaknya kerap menghantui bila melihat luka seseorang.

Kondisi anak ini dengan kematian istri dan menghilangnya anakku berbeda. Kondisi sekarang berbeda ....

"Kalau sakit bilang, ya." Bayu menyunggingkan bibir agar si gadis kecil tidak merasa terancam.

Lihat selengkapnya