Cawan Kosong

Celica Yuzi
Chapter #41

[FINAL] 24 | PENANTIAN PANJANG

Sepanjang bulan Mei, hujan selalu datang setiap malam. Ketika pagi tiba, semua nampak baik-baik saja. Berbeda dari hari-hari yang telah berlalu, beban yang dipikul Om Bayu terasa berkurang.

Langit biru terlihat menarik di mata. Awan-awan yang berkeliaran di bujur lintang bercorak bulu domba. Alangkah sejuknya udara menerpa kulit wajah dan tangannya yang kotor oleh tanah. Tidak peduli duduk sendirian di rerumputan basah walau sendirian.

Ia tidak menghiraukan remahan tanah menempel di sisi celana hitamnya. Tangannya juga sudah terlanjur kotor. Lengan kemejanya sudah digulung sampai siku. Setelah sepuluh menit menatap langit, ia baru meneguk air mineral dingin favoritnya.

Om Bayu membayangkan sosok istrinya ikut menatap langit tanpa melakukan apa-apa. Mengenakan gaun putih dan cardigan kuning. Duduk memeluk lutut di saat tangan lain menghalau silaunya matahari.

"Aku tidak menyangka telah membesarkan anakku sendiri tanpa aku tahu dia adalah anakku," ungkap Om Bayu. "Maksudku, aku tidak menyadari membesarkan anak sendiri. Anak kita yang menghilang, bahkan aku menganggapnya meninggal. Bertahun-tahun aku merawatnya, aku baru menyadari tahun ini paras wajahnya mirip denganmu. Dia pandai bernyanyi, sepertimu. Dia juga berbakat main gitar seperti orang tuaku."

Mungkin saja jika istri dalam lamunannya berada di sisinya, dia akan menanggapi dengan lembut, "Memangnya kamu tidak menyadari kesamaannya denganmu?"

"Jujur saja, aku tidak tahu apa-apa selain kita gemar minuman dingin. Makanan favorit kita cukup sama. Dia bisa bermain gitar karena aku sempat mengajarinya."

"Bukan salahmu jika tidak mengetahuinya. Bagaimana dengan gitarnya yang rusak?"

"Gitarnya sudah tidak bisa diperbaiki lagi, tapi aku bisa belikan yang baru. Namun, mengingat kejadian mengerikan yang dialaminya, aku khawatir jika dia ketakutan bertemu orang lain. Berhenti melakukan hal yang dia suka. Dokter mengatakan, ada kemungkinan peristiwa itu akan menghantuinya seumur hidup."

Istri dalam bayangannya mungkin sesekali akan mengangguk. "Wajar saja dia mengalami trauma. Tapi, aku yakin dia pasti bisa kembali beraktivitas selama ada kamu. Kapan kamu akan menjenguknya lagi?"

"Hari ini aku baru bisa menjenguknya lagi setelah sejak kemarin aku sibuk mengikuti rapat kasus Orang Besar. Tapi ...." Om Bayu menarik napas panjang kala embusan angin menerpa wajahnya lagi. "Menurutmu, jika aku beritahu fakta Hara adalah anakku, apakah dia akan membenciku?"

Sejenak, Om Bayu memandang amplop cokelat di sampingnya. Kegelisahan dalam dada menyerbu. "Aku pertama kali bertemu dengan anak kita saat umurnya enam tahun. Dia kabur dari panti ke taman. Banyak anak-anak mengejeknya memakai sarung tangan. Dia bilang, namanya Hara. Hanya saja, asal usul namanya berbeda dengan yang kuberikan. Fakta anak kita juga diduga kuat telah meninggal benar-benar tidak bisa dibantahkan. Karena itu, aku menganggapnya sebagai anak lain—anak panti yang kuanggap sebagai anakku sendiri. Aku baru memberanikan diri—nekat, maksudku—untuk tes DNA yang dibantu kenalanku. Ternyata hasilnya membuatku terkejut. Sangat. Terkejut."

Jari-jemari panjangnya saling bertautan satu sama lain. Kesedihan membuncah di dada. "Apakah dia akan menerima hasilnya? Apakah ... terlambat untuk mengatakan kalau aku ayahnya? Tapi kalau dia membenciku, rasanya juga menjadi hal yang wajar."

Tentu sosok istri imajiner di sampingnya tidak bisa menjawab langsung. Om Bayu hanya berbicara pada kesemuan. "Maaf ya, aku ngeluh terus. Maklum sudah tua. Tidak ada teman bicara. Mantan rekanku sendiri sudah menipuku dan menjahatimu. Sudah aku jebloskan dia ke penjara." Om Bayu menertawakan dirinya sendiri.

Istri imajinernya kembali menanggapi, "Mengetahui dia anakmu atau bukan, kamu selalu berada disisinya. Coba kamu ingat-ingat lagi, bukankah kamu selalu peduli padanya?"

Benaknya mengingat-ingat semua hal yang dilakukannya. Mengawasi Hara dari GPS. Mengingatkannya membawa pisau saku. Menasehati agar tidak dekat-dekat orang asing.Memberinya uang jajan cuma-cuma. Mentraktirnya makanan favorit. Terakhir menyelamatkannya dari penculikan. Om Bayu lupa, dia melakukan semuanya tanpa diminta karena kepedulian dan kasih sayangnya.

"Apakah dia selalu cemberut selama bersamamu?"

Tidak. Wajah sumringah anak perempuan bersarung tangan itu selalu terukir di ingatan Bayu.

"Aku yakin, dia akan mengerti. Selama ini kamu selalu memastikan keadaannya baik-baik saja tanpa kamu tahu faktanya. Jelaskan saja pelan-pelan, aku yakin dia memahami semua penjelasanmu. Jika dia kebingungan, berikan dia waktu berpikir."

Perasaan pesimis mulai pudar. Rasa percaya diri kembali tumbuh dalam hati. Om Bayu menoleh pada sosok istri imajinernya. Senyuman sang istri dalam benaknya terasa nyata hingga membuat hatinya lebih tenang. Om Bayu kini memahami langkah selanjutnya.

"Benar juga. Aku terlalu memusingkan hal ini," ujarnya kala hati pun terasa lebih tenang.

Angin bertiup lembut melewati helai-helai rambutnya. Perasaan damai merayap ke dalam hati seraya mengusap batu nisan di sampingnya penuh perhatian.

Sintia Marisa

binti

Ruslan Wasesa

Lahir: Surabaya, 31 Mei 1972

Wafat: Jakarta, 15 Mei 1998

"Saat anak kita sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit, aku akan membawanya kemari. Mengubur jantungmu bersama Hara dengan layak." Om Bayu menabur sisa kembang di atas kuburan orang tersayang. Menyingkirkan sisa rumput saat nyekar dan bangkit membawa amplop dan ember berisi sekop penuh tanah.

"Beristirahatlah dengan tenang, istriku sayang."

+

Sudah sepuluh menit berlalu Hara berdiri sendirian di depan vending machine yang terletak area koridor kamar rawat inapnya. Pantulan semu di kaca vending machine menampakkan raut kebingungan Hara memilih produk minuman. Kruk membantunya menopang tubuh sebab kaki kirinya di gips. Dua tangannya sementara waktu harus mengenakan sarung tangan medis.

Semenjak peristiwa traumatis lima hari yang lalu, Hara mulai berhati-hati untuk memilih. Ketika terbangun di rumah sakit pada hari kedua ia dirawat, seluruh tubuhnya terasa remuk. Dokter mengatakan Hara tak boleh bergerak jauh tanpa wali. Paling jauh adalah area kamar atau area lantai lima—tempatnya dirawat.

Hari ini Om Bayu mengirim pesan akan menjenguknya setelah urusan pribadi selesai. Oleh karena itu, Hara ingin menjamunya dengan minuman dingin. Namun, dia berpikir akan lebih baik menjamu selain air mineral, kecuali teh. Hara merasa muak mengingat peristiwa naas yang menimpanya adalah karena diajak minum teh oleh orang asing.

"Lu yang dulu di Kota Tua itu, 'kan?"

Hara sontak menoleh pada pria berbaju pasien dengan membawa tiang infus. Pipinya memiliki bekas luka. Tangan kirinya memakai gips. Hara mencoba mengingat-ingat siapa gerangan pria yang menyapa dengan melihat ujung sandal hingga wajah pria itu.

"Oh," gumam Hara. Sekilas peristiwa dia dimaki-maki pemilik mobil dan hampir tertabrak muncul. Sampai-sampai Om Bayu memarahi langsung di kantor polisi. "Iya."

"Lu pasien di sini? Gue juga. Baru masuk tiga hari yang lalu sih," ucapnya lagi. Hara menandai pria ini terlalu sok kenal sok dekat. Namun, ia tak bisa mengusirnya begitu saja karena masih bersikap ramah.

"Gue minta maaf ya, udah gak sopan sama lu. Gue ngaku salah waktu itu dan udah bayar denda. Jadinya gue sekarang naik motor dulu. Eh, malah kecelakaan. Mungkin ini balasan buat gue karena seenaknya sama lu."

"Gak apa-apa, Mas. Saya sudah maafin kamu. Saya turut bersedih dengan kecelakaan yang Mas alamin. Semoga lekas sembuh." Hara mengangguk kecil. Tidak berani menatap pria asing itu lebih lama, Hara berniat kabur dari percakapan ringan yang memantik rasa ketidaknyamanan.

Sayangnya tidak semudah itu untuk keluar dari percakapan ringan. "Kalau lu kenapa?"

"Saya?" Hara menunjuk dirinya sendiri. Menatap kondisi kakinya sendiri. "Kecelakaan juga."

"Semoga lekas sembuh juga, ya." Pria itu mengangguk-angguk paham. "Lu mau beli minuman? Gue perhatiin tadi kayaknya lu kesusahan milih. Mau gue bantu milihin minumannya?"

Lihat selengkapnya