Harusnya, benda tipis warna-warni yang berekor merah-putih itu mengangkasa. Menari-nari di udara, meliuk ke kanan-kiri, melambung ke atas hingga menembus langit, atau menukik tajam beberapa detik tanpa menyentuh bumi.
Benang yang terentang menjadi pengendali. Ke mana saja ia akan melayang di atas sana? Mungkin di pelukan dirgantara, dalam belaian sang bayu, yang penuh rasa bahagia jika ia berhasil memenangkan kompetisi antar sesama penggemarnya.
Faktanya, ia masih bersandar di dinding dekat lemari. Seolah-olah terduduk lesu, tanpa bisa berkata-kata. Mengapa sejak selesai dibuat, tanpa sengaja dijadikan hiasan rumah saja? Mengapa kekuatannya bertarung tak segera diujikan dengan yang lainnya? Sampai warna lapisan permukaannya kini memudar meskipun tak disentuh.