Celana Biru yang Sobek

Dewi Fortuna
Chapter #2

Bab 1

Dadaku berdebar. Keringat dingin mulai mengalir perlahan di balik baju. Kedua tangan rasanya mendadak dingin meskipun aku tidak sakit. Ada sesuatu yang lain di tubuhku hari itu, saat Bu Yazida, wali kelasku, menyuruh bersiap-siap. 


Dari ruang kelas yang letaknya di depan lapangan, kulihat panggung besar telah berdiri sejak kemarin. Tulisan warna emas menghias di sana. Nama Nabi Besar Muhammad Saw terlihat megah di antara tulisan lainnya. Sementara itu di depan panggung  terpal besar dan lebar terhampar di tanah. Sebagian besar murid sekolah dasar (SD) Pelita Harapan I sudah duduk rapi di sana.


“Teksnya sudah dibawa, Mal?” tanya Bu Yazida hampir mengejutkan aku.


Aku menunjukkan padanya selembar kertas folio yang sudah dibaca oleh beliau kemarin. Bu Yazida menyarankan aku minum air putih dulu sebelum tampil di panggung. 


Katanya, tak apa baca teks jika ada yang lupa. Yang penting, intonasi bacaan harus tepat agar pesan yang disampaikan pada pendengar-murid dan jajaran guru-staf di sekolah mengena di hati. Beliau juga sudah mengajari aku bagaimana cara membaca yang baik untuk acara hari itu.


Setelah acara pembukaan dan beberapa acara lainnya, giliranku tampil di depan. Aku mengisi tausiyah. Tulisan yang kusampaikan adalah tentang hidup berkasih sayang dengan sesama manusia yang harus tetap dijaga agar tercipta kerukunan di lingkungan warga sekolah. 


Tema bagus yang kuimpikan selama ini. Tema yang kontras dengan nasibku di bangku sekolah dasar ini. Entah apa salahku, Haikal dan teman-teman yang sekelompok dengannya sering mengejek dan menghina. Padahal, aku tidak ada masalah dengan mereka. Sungguh aneh! 


Usai membaca teks tausiyah aku turun dari panggung. Bu Yazida mendadak memeluk. Bapak Kepala Sekolah, Pak Imron, juga ada di dekat guru wali kelasku itu. Seperti ada sesuatu, tapi entah apa itu? 


Aku dibimbing ke salah satu ruangan. Mata Bu Yazida, di balik kacamatanya, beberapa kali diusap. Wajah Pak Imron juga terlihat serius, tampak dari kerutan halus di antara dua alisnya. Beliau memberikan air mineral dalam kemasan botol. Aku disuruh meminum air itu setelah tutupnya dibuka oleh Pak Imron.


Saat meneguk beberapa mililiter air putih, di depan pintu kelas ada Bang Salman, tetanggaku. Terbesit makin kuat di benak tentang keanehan ini. Ada apa? Mengapa aku tidak diizinkan duduk di depan panggung bersama murid-murid lain? Mengapa justru dibawa ke kelas? Apa aku telah melakukan kesalahan selama tampil mengisi tausiyah tadi? Ah, membingungkan.


Pak Imron menyuruh aku minum lagi ketika Bu Yazida menghampiri Bang Salman. Tak lama kemudian, tas sekolahku sudah dibawakan oleh guru yang lain. Aku diajak ke parkiran dan dibonceng oleh Bang Salman. Sedangkan Bu Yazida turut mengikuti kami dari belakang menggunakan sepeda motor juga. Entah, mau ke mana?


Sepanjang perjalanan aku mengamati, arah laju sepeda motor Bang Salman menuju jalan pulang. Rasa kekhawatiran mulai mendera di dada. Ini tidak biasa. Mengapa hanya aku yang diajak naik motor? Dan, Bu Yazida kutoleh masih mengikuti kami di belakang. 


Lihat selengkapnya