Hari-hari ini terasa seperti mimpi buruk yang tak kunjung berakhir. Setiap waktu, aku merasa seperti ada yang menghantui, membuatku tidak bisa bernapas lega.
Ingin rasanya bermain dengan teman-teman, tapi aku tidak bisa. Ibu menatap dengan mata yang seakan-akan penuh harap. Ibu berkata, “Aku tahu kamu bisa, Mal. Kamu harus kuat untuk kami semua.”
Aku ingin percaya pada kata-katanya, tapi aku tidak tahu bagaimana caranya menjadi kuat ketika aku masih merasa seperti anak kecil yang tak berdaya.
Setiap pulang sekolah, di depanku banyak pakaian basah. Entah milik siapa, tapi Ibu dengan cekatan membersihkannya. Lalu, aku harus hati-hati meletakkan pakaian itu di tali yang terikat pada tiang bambu dan tiang kanopi. Ibu juga berpesan agar aku mengangkatnya jika cuaca mendadak gelap.
Rutinitas yang menjemukan. Hingga celana merahku warnanya menjadi agak pudar, aktivitas tersebut masih sama. Ibu bahkan memintaku membantunya membawa pulang berkeranjang-keranjang pakaian kotor. Ibu hanya bilang, pakaian kotor itu sumber kehidupan kami.
Sebagai anak tertua, dengan dua adik yang masih kecil, aku hanya bisa patuh pada perintah dan nasihat Ibu. Setelah aku selesai membantu Ibu, beliau menyuruh aku dan dua adikku duduk di tikar beranyam yang digelar di ruang rumah kontrakan paling depan. Sedangkan kakek, makan di kamarnya karena kesehatannya agak memburuk.
Empat piring sudah tersedia di sana. Sebakul nasi putih yang hangat dan harum memenuhi ruangan, disertai dengan sayur asem yang tampaknya segar. Lauknya ikan kecil-kecil, gurih asin seperti air laut. Aku bisa mencium aroma makanan lezat itu, tapi aku tidak bisa menikmatinya karena pikiran masih terganggu oleh ulah Haikal, teman sekelas.
Kedua adikku, Nela dan Dea langsung berebut mengambil piring, mengisinya dengan menu yang dihidangkan, lalu menyuapkan ke mulut masing-masing. Ibu juga melakukan hal sama. Ketiga perempuan itu sepertinya mudah sekali move on dari kepergian Ayah.
Jika tak ingat kata-kata almarhum Ayah, aku pasti sudah keluar dari sekolah.
Kenapa Ayah harus menitip pesan padaku? Aku masih kecil. Sekolah dasar saja belum lulus. Kenapa aku harus jaga Ibu dan adik-adik? Benar-benar membingungkan!
“Mal, ayo! Kalau dingin nanti gak enak.”
Aku mengusap mata. Ada genangan air sedikit di sudutnya.