Pria perawakan tegap dengan jaket hitam bicara dengan Ibu di ruang depan. Aku mencuri dengar dari balik gorden. Siapa dia? Wajahnya bukan pria kemarin yang bicara juga dengan Ibu.
“Terima kasih, Pak, atas tawarannya. Saya sebenarnya sudah rida suami berpulang. Tak perlu ganti rugi juga tak apa. Saya cuma bingung sama nasib anak-anak. Siapa yang akan membiayai mereka?”
“Baik, Bu. Itu jadi catatan kami dan keluarga. Mulai besok Ibu bisa ke alamat ini.”
“Aduh!” Neha dan Dea tiba-tiba menerobos gorden dari dalam rumah. Sontak aku terkejut dan hampir jatuh. Gorden pembatas ruang depan dan tengah pun berkibar satu-dua kali.
Pria dan Ibu menoleh ke arah gorden. Aku buru-buru kabur ke belakang. Jangan sampai Ibu marah karena aku menguping.
Apa pun yang bersangkutan dengan kepergian Ayah, dan urusannya, semoga lekas selesai. Meskipun tidak bodoh, aku tiidak mengerti masalah yang berkaitan dengan orang dewasa. Yang aku pahami, ayah meninggal dunia karena kecelakaan.
Aku akan coba penuhi pesan Ayah kemarin, yaitu menjaga Ibu dan adik-adik. Semoga Ayah bahagia di sana. Meskipun, aku belum tahu bagaimana caranya menjaga mereka.
Berhubung hari makin siang, aku bergegas ke sekolah setelah pamit dengan Ibu. Saat melintas di ruang depan, pria tadi sudah tidak ada. Entah, siapa dia? Hanya wajah dan perawakannya saja yang teringat.
Seperti biasa aku berjalan kaki ke sekolah, melewati trotoar baru yang di bagian tengahnya ada ubin kotak-kotak timbul warna kuning. Sepanjang jalan, ubin seperti itu selalu ada. Mungkin, itu penanda khusus untuk orang-orang tertentu. Meskipun begitu, aku kadang berjalan di atasnya, terutama saat hujan atau setelah hujan. Selain kaki seperti punya mata, rasanya tidak licin dan lebih aman, karena sepatuku sudah halus alasnya.
Seandainya masih ada Ayah, pasti aku akan minta dibelikan sepatu baru. Sayangnya, tinggal ada Ibu, kakek, dan adik-adik di rumah. Belum tentu Ibu punya uang untuk beli sepatu baru. Melihatnya bekerja keras saja, makanan kami tiap hari lebih sering berlauk ikan kecil-kecil yang rasanya sangat asin.
Untungnya, ada pembagian makanan gratis di sekolah. Walaupun teman-teman bilang makanan gratis itu tidak enak, bagi aku tak masalah. Setidaknya, perutku tidak kelaparan. Apalagi, uang jajan tidak ada. Jikalau ada, hanya cukup untuk membeli minuman.
Menjelang bel berbunyi, aku sampai di sekolah. Suasana sudah ramai. Beberapa murid bermain di lapangan. Sebagian lainnya berdiri di sekitar lapangan. Mungkin, mereka bersiap mengikuti upacara bendera.
“Minggir-minggir! Dasar orang miskin!” hardik Haikal saat aku bertemu di sekolahan pagi itu.
Mengapa Haikal mengusir aku? Seolah-olah, dia yang punya sekolah. Aku diam, bukan tak berani melawan. Jika membalas perlakuannya, ujung-ujungnya … ah, pasti aku yang akan menyesal.
Lingkungan sekolah yang agak aneh. Yang salah sering dimaafkan, dimaklumi, dan dianakemaskan. Apa karena Haikal anak orang kaya? Berbeda dengan aku, kaum papa. Apa karena pekerjaan Ibu? Yang selalu membawa keranjang pakaian kotor untuk dibersihkan? Termasuk pakaian Haikal dan keluarganya.
Begitu hinakah derajat kami di mata orang-orang?
Aku masih ingat pertama kali Haikal memukul. Waktu itu, kami baru kelas empat sekolah dasar (SD). Entah salah apa, tiba-tiba Haikal memukul aku di pipi sambil mencengkram kerah kemeja. Awalnya aku melawan dia. Namun, teman-teman Haikal spontan menghina ramai-ramai, “anak gatel! Sama kaya emaknya! Gatel!”
“Apa kau bilang?”