Celana Biru yang Sobek

Dewi Fortuna
Chapter #5

Bab 4

Perjalanan ke sekolah pagi itu rasanya berbeda. Ada sesuatu yang tidak aku tahu. Ibu hanya berpesan, setelah pulang sekolah harus jaga adik. Tidak seperti biasanya. Jika aku jaga adik, siapa yang jemur pakaian? Bukankah Ibu harus mencuci pakaian juga agar kami bisa tetap hidup? Kata Ibu, pakaian kotor itu sumber kehidupan kami. Atau, Ibu pergi bersama orang-orang yang kemarin ke rumah?


Pagi yang tak biasa bagiku meskipun tak ada yang berbeda. Teman-teman masih bermain di halaman saat aku tiba di sekolah. Masih ada juga sebagian teman, berdiri di depan kelas, biasanya anak perempuan yang berada di sana. Aku pun ke kelas seperti hari-hari sebelumnya. 


Yang berbeda, Haikal tidak menghadang aku di halaman. Entah, ke mana dia? Di antara teman yang kujumpai, dan teman yang sering bersama Haikal, tak kulihat batang hidungnya. Apa dia di kantin? Atau sedang jajan ke luar sekolah? Ah! Mengapa aku malah mencari Haikal? Justru lebih nyaman jika tidak ada dia lagi di sekolah. 


Aku berjalan di koridor. Ruang kelasku ada di sisi kiri berhadapan dengan belokan koridor ke ruang guru. Suasana kian ramai. Mungkin bel masuk hampir berbunyi. Teman sebangku juga sudah datang, aku melihat tasnya sudah diletakkan di kursi. Entah, ke mana dia? Mungkin sedang bersama teman lain. Aku menyimpan tas di bangku, lalu duduk sebentar.


Walaupun berada di sekolah, tapi pikiranku masih tertuju pada pesan Ibu. Ada apa sebenarnya? Apa ada masalah dengan kecelakaan Ayah? Sejak Ayah dimakamkan, teman-teman Ayah sering datang menemui Ibu. Ingin rasanya bertanya pada Ibu, tapi aku takut Ibu marah. 


Hari itu, sejak jam pertama sampai jam terakhir aku kehilangan fokus belajar. Aku ingin cepat-cepat pulang ke rumah. Jika Ibu pergi, adik-adik sama siapa? Kakek, siapa yang jaga? Harusnya aku di rumah menjaga mereka, bukan di sini. 


Pelajaran demi pelajaran hari itu seakan-akan berlalu dari mata ke telinga, lalu kembali ke mata, dan ke telinga. Pikiranku penuh dengan hal lain. Sepertinya, aku tidak mampu mencerna pelajaran dengan baik. Tugas yang diberikan guru pun asal dikerjakan, meniru contoh yang dijelaskan guru di papan tulis. Entah, benar atau salah? Yang penting sudah mengumpulkan tugas.


Waktu istirahat yang biasanya digunakan untuk mengambil makanan gratis pun ternyata lupa aku tunaikan. Untung saja ada teman yang baik hati mengambilkan makanan. Jika tidak kebagian, pasti aku seharian menanggung lapar dan dahaga. 


“Makasih, Cin,” jawabku setelah menerima seplastik makanan gratis itu.


“Kirain lu kagak masuk kaya Haikal.”


“Jadi Haikal tidak masuk?” Aku merespons dengan bertanya balik. Teman yang kutanya mengangguk sambil mengunyah makanan.


Rasanya merdeka tanpa gangguan siapa-siapa. Biasanya ada saja insiden jika anak itu di sekolah. Ada saja ulahnya yang memancing emosi. Namun, suasana yang lebih nyaman dari biasanya tersebut seolah-olah tak ada dampak apa-apa perihal pemahamanku pada pelajaran hari itu. Bukan aku tak menyimak, bukan tak peduli. Tak cuma sekali aku coba memeras otak. Namun, hasilnya entahlah ….


Fokusku hari itu hanya Ibu. Tak ada yang lain.


Lihat selengkapnya