Blurb
Alma hidup dalam keteraturan mutlak. Segala hal—dari target karier kuartalan hingga rencana hidupnya—tersusun rapi dalam spreadsheet digital yang tidak memberi ruang bagi kesalahan maupun kejutan. Bagi Alma, waktu adalah detik-detik yang harus dikendalikan agar tidak terbuang sia-sia.
Sebaliknya, Aldo memandang dunia sebagai kanvas luas yang berjalan tanpa aturan baku. Seniman berjiwa bebas itu hidup mengalir mengikuti angin, menolak segala bentuk kekangan, dan percaya bahwa hidup harus dinikmati apa adanya.
Ketika takdir mempertemukan kedua kepribadian yang bertolak belakang ini di sebuah kedai kopi lokal, benturan hebat pun tak terhindarkan. Pertengkaran demi pertengkaran lahir dari perbedaan prinsip yang kaku, menyeret mereka ke dalam jurang kelelahan mental, ekspektasi keluarga yang mencekik, hingga perpisahan lintas benua yang menyakitkan.
Namun, jarak dan badai kehidupan perlahan meruntuhkan ego keduanya. Alma belajar merelakan kontrol mutlak dan membiarkan hidup mengalir, sementara Aldo memahami arti sebuah komitmen dan batasan yang sehat. Di antara cangkir teh hangat dan biskuit yang tercelup perlahan, keduanya menemukan satu kebenaran sederhana: kesempurnaan cinta bukan tentang menyamakan ritme, melainkan keberanian untuk saling melengkapi di atas kanvas waktu yang terus berjalan.