
Pukul 04.30 pagi, dunia luar masih diselimuti embun dingin, tetapi bagi Alma, hari sudah berjalan di atas rel besi yang presisi. Kamarnya yang minimalis di sudut kota berangsur-angsur hidup bukan karena suara burung atau terbitnya fajar, melainkan karena getaran digital dari ponsel pintar di atas nakas yang mati-matian ia atur agar berbunyi tanpa jeda. Tidak ada tombol snooze di kamarnya; menunda alarm adalah bentuk pengkhianatan pertama terhadap hari yang baru. Alma langsung bangkit, melangkah dengan ritme tumit yang terukur di atas lantai kayu, memulai ritual skincare lima tahap yang diukur dalam hitungan detik—tiga puluh detik untuk pembersih wajah bertekstur gel, lima belas detik untuk bilasan air hangat, empat puluh lima detik untuk toner penyegar, dan seterusnya hingga kulitnya tampak kencang tanpa cacat. Di dapur, aroma kopi hitam baru terseduh berpadu dengan keheningan subuh. Ia mengambil sekotak roti gandum utuh, melempar selembar ke atas timbangan digital hingga angka merahnya berhenti di tepat 45 gram. Tidak kurang, tidak lebih. Bagi Alma, waktu dan takaran adalah entitas mutlak yang tidak boleh meleset sedetik pun; keterlambatan sekecil apa pun, atau selisih satu gram pada sarapannya, adalah awal dari kekacauan kosmik yang paling ia takuti di dunia ini.
"Kau terlalu keras pada dirimu sendiri, Alma," suara serak ibunya seringkali terngiang di kepalanya, sebuah gema dari masa lalu yang selalu ia tepis dengan kesibukan baru.
Alma menatap pantulan dirinya di cermin dapur yang memantulkan cahaya lampu putih terang. Jam di pergelangan tangannya menunjukkan angka 04.42. Semua berjalan sesuai jadwal. Ia meneguk air hangat tepat setengah gelas, lalu mengenakan mantel abu-abunya dengan gerakan mekanis. Di luar, jalanan aspal masih basah oleh sisa hujan semalam, memantulkan lampu-lampu jalan yang kekuningan. Ia berjalan menuju stasiun kereta bawah tanah dengan langkah cepat, menghitung setiap langkah kakinya untuk memastikan ia tiba di peron pada pukul 05.02 persis, waktu di mana kereta komuter jalur utara selalu membuka pintunya.
"Pagi yang dingin, Nona Alma," sapa Pak Tono, petugas tiket langganannya yang sudah hafal betul jam kedatangan Alma.
"Pagi, Pak Tono. Kereta tidak mengalami keterlambatan, kan?" tanya Alma tanpa menghentikan langkahnya, matanya melirik sekilas ke arah layar informasi kedatangan kereta di atas loket.
"Tepat waktu seperti biasa, sepuluh detik lagi keretanya muncul," jawab Pak Tono sambil tersenyum maklum melihat perangai gadis itu yang selalu gelisah jika berurusan dengan waktu.
Alma mengangguk kecil, berdiri di balik garis kuning pembatas peron. Angin dingin berhembus kencang menerbangkan helai rambut hitamnya yang terikat rapi. Jantungnya berdetak seirama dengan detik jam tangan mewahnya. Baginya, hidup adalah sebuah persamaan matematika yang rumit namun bisa diselesaikan jika rumusnya dihafalkan di luar kepala. Tidak ada ruang untuk spontanitas, tidak ada tempat untuk kebetulan. Setiap detik yang terbuang adalah lembaran hidup yang tercabik-cabik sia-sia.
❖ ❖ ❖
Di balik dinding kaca ruang kerjanya yang menghadap langsung ke deretan gedung pencakar langit kota metropolitan, tujuan hidup Alma terpampang jelas dalam bentuk grafik pertumbuhan dan angka-angka proyeksi finansial. Sebagai seorang manajer operasional di sebuah firma logistik internasional yang terkenal tanpa ampun, tujuannya hari ini sangat spesifik: menyelesaikan audit tahunan sebelum pukul 17.00 sore, mengamankan kontrak senilai sepuluh juta dolar dari klien asal Swiss, dan memastikan tidak ada satu pun kesalahan operasional sekecil debu yang lolos dari pengawasannya. Target itu bukan sekadar angan-angan; itu adalah harga mati yang harus ia bayar demi mengukuhkan posisinya sebagai direktur termuda dalam sejarah perusahaan.
"Alma, berkas dari kantor cabang Singapura sudah masuk di meja kerjamu," ujar Reno, rekan kerja sekaligus asisten setianya, sambil meletakkan tumpukan map biru tebal di sudut meja.
Alma mendongak dari layar laptopnya, kacamata bacanya memantulkan cahaya biru monitor. "Berapa lama keterlambatannya dari jadwal yang kita tentukan kemarin?"
"Hanya tiga menit, Alma. Kurasa itu masih dalam batas wajar untuk pengiriman lintas negara," jawab Reno bernada santai, mencoba meredakan ketegangan yang selalu terpancar dari raut wajah atasannya itu.
"Di kamusku, tidak ada kata 'wajar' untuk sebuah keterlambatan, Reno," balas Alma dingin, suaranya datar namun tajam bagai sembilu. "Tiga menit di Singapura bisa berakibat pada penundaan bongkar muat di pelabuhan Tanjung Priok selama dua jam, dan itu berarti kita kehilangan kepercayaan klien bernilai tinggi. Buka kembali sistem pelacakan itu, kita harus cari tahu di mana titik kemacetannya."
Reno menghela napas panjang, menarik kursi plastik di sebelah meja Alma lalu duduk tanpa diundang. "Kau mengejar apa sebenarnya, Alma? Karier ini sudah berada di genggamanmu. Tidak ada orang di gedung ini yang meragukan kapasitasmu. Tapi kulihat kau seperti orang yang berlari dari kejaran monster tak kasat mata."
"Aku tidak berlari dari apa pun, Reno. Aku sedang membangun fondasi," sangkal Alma, jemarinya kembali menari lincah di atas papan ketik mekanik dengan suara klik-klik yang konstan. "Hidupku sudah hancur sekali karena ketidakpastian di masa lalu. Aku tidak akan membiarkan hal itu terulang untuk kedua kalinya. Setiap detik yang aku kendalikan adalah perisai agar aku tidak pernah merasa rapuh lagi."
"Ketidakpastian adalah bagian dari hidup, Alma. Kau tidak bisa memprogram setiap detak jantung manusia seperti kau memprogram mesin pelacakan kontainer," tutur Reno lirih, menatap sahabatnya dengan pancaran mata penuh keprihatinan yang mendalam.
"Aku bisa, dan aku sedang melakukannya," tegas Alma tanpa mengalihkan pandangannya dari layar. Tujuannya hari ini jelas: membuktikan pada dunia bahwa kerapuhan manusia dapat dikalahkan oleh disiplin besi dan manajemen waktu yang mutlak. Target besar itu terus berputar di kepalanya, menjadi bahan bakar utama yang membuatnya terus bergerak maju tanpa kenal lelah, mengabaikan rasa lelah di tengkuknya dan denyut nyeri di pelipisnya yang mulai berdenyut pelan.
❖ ❖ ❖
Jarum jam di dinding ruang rapat besar menunjuk ke angka 11.15 siang. Udara di dalam ruangan terasa hampa akibat pendingin ruangan yang dipasang terlalu dingin. Di sekeliling meja marmer panjang, para direktur senior duduk tegang mendengarkan paparan Alma mengenai efisiensi rantai pasok global. Namun, di tengah-tengah presentasi yang berjalan mulus itu, sebuah transisi tak terduga mulai merayap masuk ke dalam hidup Alma. Ponsel di dalam saku blazernya bergetar hebat—sebuah panggilan darurat dari nomor asing dengan awalan kode area rumah sakit kota. Alma mencoba mengabaikannya, melanjutkan kalimat tentang rasio pengiriman tepat waktu, tetapi getaran itu datang lagi, kali ini lebih lama, seolah memaksa perhatiannya direnggut paksa dari dunia angka dan grafik yang selama ini ia kuasai.
"Ada masalah, Nona Alma?" tanya Pak Baskoro, komisaris utama perusahaan, ketika melihat Alma tiba-tiba terdiam di tengah kalimatnya.