Celap Celup

Amrullah Ibrahim
Chapter #2

Aroma Cat Minyak

Kabut tipis sisa subuh sebenarnya sudah lama sirna dari langit kota, digantikan oleh sengatan matahari pukul sebelas siang yang memanggang kaca-kaca jendela studio tanpa ampun. Di dalam ruangan petak seluas kamar kos tersebut, udara terasa pekat, mengental oleh uap terpentin yang menusuk hidung dan aroma cat minyak yang mengering setengah hati di atas palet kayu. Aldo baru saja mengerjap-ngerjapkan matanya, mencoba mengumpulkan kesadaran yang tercecer di antara tumpukan sketsa arang yang berserakan di lantai papan yang berderit. Rambutnya ikal acak-acakan, mencuat ke segala arah bagaikan sarang burung pipit yang baru saja diterpa badai semalam suntuk. Ia meregangkan otot-otot lengannya yang kaku, mengeluarkan bunyi keroncongan dari perut yang sejak kemarin malam hanya diisi oleh setengah gelas kopi hitam tanpa gula. Secangkir kopi dingin itu kini tampak mengenaskan di atas meja kayu lapuk, dikerubungi oleh beberapa ekor semut kecil yang berbaris rapi di bibir cangkir.

Bagi Aldo, waktu tidak pernah diciptakan untuk dikejar-kejar dengan deru alarm atau kepanikan jadwal kereta pagi. Jam dinding di sudut ruangan yang sudah mati sejak tiga bulan lalu—menunjuk tepat pada angka empat lewat sepuluh—bukanlah sebuah simbol kemalasan, melainkan sebuah bentuk perlawanan diam-diam terhadap dunia luar yang selalu terburu-buru. Ruangan itu adalah dunianya, tempat di mana siang dan malam melebur menjadi satu entitas cair tanpa batas yang jelas. Kanvas-kanvas setengah jadi bersandar di setiap sudut dinding, menampilkan sapuan warna-warna kontras yang berteriak meminta kejelasan, namun dibiarkan menggantung begitu saja oleh sang pelukis. Di atas meja kerjanya yang penuh tumpukan kertas buram, berserakan pula beberapa lembar tagihan listrik yang belum sempat ia buka, seolah-olah kertas-kertas penagih itu hanyalah karya seni abstrak yang tidak berbahaya.

"Sial, jam sebelas lewat," gumam Aldo serak, suaranya bergesek dengan tenggorokan yang kering akibat terlalu lama menghirup udara pengap studio.

Ia bangkit dari kasur lipatnya yang tipis, menyeret sandal jepit jepangnya menuju jendela kaca yang dipenuhi debu tebal. Dari celah jendela itu, ia bisa melihat hiruk-pikuk jalanan kota yang kejam; orang-orang berdasi berjalan tergesa-gesa membawa kopor kerja, pengendara sepeda motor saling klakson di kemacetan, dan para pedagang kaki lima berteriak menawarkan barang dagangan dengan peluh yang membanjiri pelipis. Kontras itu begitu tajam, bagaikan garis batas antara dua planet yang berbeda dimensi. Di luar sana, waktu adalah uang yang harus diraih setiap detik. Di dalam sini, waktu adalah kanvas cair tempat Aldo menumpahkan sisa-sisa imajinasinya tanpa peduli apakah hari ini hari senin atau rabu. Hidupnya tidak memiliki jaminan pensiun, tidak pula memiliki kepastian finansial bulanan yang mapan. Ia menggantungkan seluruh asa dan dapurnya pada bayaran proyek ilustrasi lepas dari klien-klien maya yang pembayarannya sering kali datang entah kapan—kadang lancar di awal bulan, sering pula tertunda hingga berbulan-bulan lamanya.

Namun, alih-alih mengerutkan dahi memikirkan saldo rekeningnya yang kini mungkin hanya tinggal cukup untuk membeli dua bungkus mi instan, Aldo justru tersenyum lebar. Senyuman itu bukan senyuman keputusasaan, melainkan seringai tulus dari seseorang yang telah memilih jalannya sendiri dan menolak tunduk pada ritme konvensional. Ia meraih kuas cat minyak berukuran besar yang bulunya sudah megar, mencelupkannya sekilas ke dalam botol terpentin, lalu menggoreskannya begitu saja pada kanvas kosong di hadapannya dengan gerakan liar.

"Biarkan saja dunia luar pusing dengan tenggat waktu mereka," ucapnya pelan pada diri sendiri, menikmati gema suaranya di dalam ruangan sempit itu.

Ia tahu betul bahwa dompetnya tipis, lemari esnya kosong melompong, dan perutnya mulai berdemo meminta haknya. Tapi di kepala Aldo, ada hal-hal yang jauh lebih mendesak untuk diselesaikan daripada sekadar memikirkan makan siang apa yang bisa dibeli dengan uang kembalian receh. Ide-ide liar tentang warna, bentuk, dan cerita visual terus bergolak di benaknya, menuntut untuk segera diwujudkan ke atas permukaan kain sebelum keburu menguap. Ia mengambil sebatang arang, menggoreskannya dengan cepat membentuk siluet wajah seorang wanita tanpa mata, lalu tertawa kecil melihat betapa abstraknya goresan tangannya hari itu.

❖ ❖ ❖

Ponsel usang di atas tumpukan majalah seni tiba-tiba berdering nyaring, memecah keheningan studio yang sejak tadi hanya diisi oleh suara desau angin dari ventilasi kecil. Layar retak itu menampilkan nama 'Rian' yang berkedip-kedip tanpa henti, sebuah panggilan yang langsung membuat Aldo menghela napas panjang sebelum akhirnya mengangkat benda pipih tersebut dengan ogah-ogahan.

"Halo, Kapten Keuangan," sapa Aldo tanpa beban, menempelkan ponsel ke telinganya sambil terus mencoreng-coreng kanvas dengan cat akrilik merah tua.

"Aldo! Kamu ini benar-benar ya! Sudah jam sebelas lewat dan kamu baru angkat telepon? Di mana kamu?" suara Rian, sahabat sekaligus manajer tidak resmi yang juga mengelola galeri kecil langganannya, langsung menyerbu gendang telinga Aldo dengan nada tinggi penuh frustrasi.

"Di studio, tempat suci di mana para dewa kesenian bersemayam," jawab Aldo santai, menyunggingkan senyum lebar meskipun Rian tidak bisa melihatnya. "Ada angin apa pagi-pagi meneleponku dengan suara melengking begitu? Suaramu bisa memecahkan cat minyakku yang belum kering, Rian."

"Jangan bercanda, Do! Ini darurat. Klien dari agensi periklanan besar itu—Pak Dirga namanya—menginginkan revisi total untuk ilustrasi kampanye produk eko-pariwisata mereka. Dan tahu apa masalahnya? Tenggat waktunya adalah jam tiga sore ini! Kurang dari empat jam dari sekarang!" teriak Rian dari ujung sana, terdengar suara deru kendaraan dan klakson mobil menandakan ia sedang berada di jalan raya yang sibuk.

Aldo menghentikan goresan kuasnya sejenak. Alisnya terangkat sedikit, bukan karena terkejut, melainkan karena ia baru ingat bahwa ia memang sempat menjanjikan sketsa kasar untuk proyek itu minggu lalu, yang kemudian tertimbun oleh proyek-proyek iseng lainnya.

"Jam tiga sore? Wah, itu mepet sekali, kawan," kata Aldo tenang, sama sekali tidak menunjukkan kepanikan. "Kenapa baru bilang sekarang? Bukankah seharusnya presentasinya minggu depan?"

"Minggu depan gigimu ompong! Jadwalnya dimajukan secara mendadak karena bos besar mereka mau terbang ke luar negeri sore ini juga! Kalau kamu bisa menyelesaikan revisi itu tepat waktu dan memukau Pak Dirga, bayaran proyek ini langsung dicairkan penuh hari ini. Dan harganya cukup untuk membayar sewa studionya selama tiga bulan ke depan, Aldo! Tiga bulan!" suara Rian meninggi, mencoba menyadarkan sahabatnya tentang realitas keuangan yang sangat mendesak.

Mendengar kata 'tiga bulan sewa studio', mata Aldo sedikit berbinar. Itu adalah tawaran yang sangat menggiurkan bagi seniman kere sepertinya. Uang sebesar itu bukan hanya sekadar angka di atas kertas, melainkan kebebasan untuk terus melukis tanpa harus memikirkan pemilik kontrakan yang sering mondar-mandir menagih dengan wajah cemberut setiap tanggal lima. Tujuan hidupnya hari ini tiba-tiba menjadi sangat jelas dan terarah: menyelesaikan ilustrasi itu sebelum jam tiga sore, mengambil uangnya, lalu merayakannya dengan sepiring nasi uduk lengkap dengan gorengan hangat di warung bu Haji.

"Baiklah, Kapten. Target diterima," ujar Aldo dengan nada penuh percaya diri, meskipun dalam hati ia tahu tantangannya tidak semudah membalikkan telapak tangan. "Kirimkan detail revisinya lewat surel sekarang juga. Aku akan mengubah studionya menjadi medan perang seni dalam waktu lima menit."

"Jangan buat aku jantungan, Aldo! Pastikan jam dua siang file itu sudah ada di tanganku!" pesan Rian sebelum sambungan telepon diputus secara sepihak dengan bunyi klik yang tegas.

Aldo meletakkan ponselnya kembali ke atas tumpukan majalah. Ia menarik napas dalam-dalam, menghirup aroma terpentin dan kopi dingin yang kini terasa bersemangat. Tujuan utamanya sudah terkunci rapat di dalam benak: menyelesaikan revisi ilustrasi eko-pariwisata, mengamankan bayaran tiga bulan sewa studio, dan membuktikan pada dunia bahwa seorang pelukis jalanan sepertinya bisa bekerja di bawah tekanan tanpa harus kehilangan kewarasannya. Ia memutar bahunya ke kiri dan ke kanan, merapikan meja kerjanya dengan gerakan cepat, dan bersiap menyambut badai kecil yang akan segera menerjang hari siangnya yang tadinya tenang.

❖ ❖ ❖

Langkah pertama menuju tujuan besar itu dimulai dengan kekacauan kecil yang langsung menguji kesabaran Aldo. Ketika ia membuka laptop tuanya yang berdengung keras bagaikan lebah raksasa, layar monitor tersebut justru menampilkan warna biru legendaris dengan tulisan putih panjang yang menyatakan bahwa sistem operasi mengalami galat fatal. Aldo mengerjap, menepuk-nepuk sisi bodi laptop dengan telapak tangannya seperti seorang montir amatir memukul mesin traktor rusak, namun layar itu tetap membeku dalam kebisuan yang menyebalkan.

"Ayolah, kawan lama. Jangan ngambek di saat-saat krusial seperti ini," gerutu Aldo sambil menekan tombol daya berulang kali hingga jarinya terasa nyeri.

Waktu terus berjalan tanpa belas kasihan. Jam dinding yang mati seolah mengejek usahanya, sementara jam di sudut layar ponselnya menunjukkan pukul 11.30 siang. Waktu transisi dari santai menuju kepanikan terselubung mulai merayap masuk ke dalam dada Aldo. Ia sadar, tanpa laptop yang berfungsi, ia tidak bisa mengirimkan file digital beresolusi tinggi yang diminta oleh agensi periklanan tersebut. Satu-satunya jalan keluar adalah mengerjakannya secara manual di atas kertas besar menggunakan teknik campuran cat air dan tinta cina, lalu memotretnya dengan kamera ponsel dengan pencahayaan seadanya.

Lihat selengkapnya