
Pukul 12.15 siang, terik matahari kota metropolitan menembus kaca jendela gedung-gedung tinggi, memaksa Alma meninggalkan zona nyaman ruang kerjanya yang berpendingin ruangan steril. Ia berjalan keluar menuju sebuah kedai kopi independen bernuansa kayu hangat di sudut jalan bisnis yang tenang, tempat ia biasa merapikan catatan kerja dan menyusun strategi logistik. Di tangannya, sebuah map kulit sintetis berwarna hitam berisi dokumen timeline proyek bernilai miliaran rupiah digenggam erat. Bagi Alma, map itu adalah kitab suci efisiensi; setiap halaman di dalamnya dipenuhi garis waktu, tenggat waktu tegas, dan target yang harus dicapai tanpa kompromi. Ia memilih meja sudut yang menghadap langsung ke jalan raya luar, memastikan posisinya strategis untuk mengawasi waktu sekaligus menghindari gangguan dari kebisingan pengunjung lain. "Satu americano panas, tanpa gula, tepat pukul dua belas lewat dua puluh," pesannya kepada pelayan kedai tanpa melirik buku menu, karena ia sudah menghafal seluruh daftar pesanan itu di luar kepala sejak tiga tahun lalu. Di meja seberangnya, tumpukan dokumen proyek disusun berjajar rapi berdasarkan prioritas abjad dan angka, mencerminkan isi kepalanya yang terstruktur rapat. Tidak ada ruang bagi kekacauan, tidak ada tempat untuk jeda yang tidak direncanakan. Alma menatap layar ponselnya sejenak, memastikan detik demi detik berjalan sesuai proyeksi yang ia buat tadi pagi sebelum meninggalkan rumah sakit tempat ayahnya dirawat.
"Pesan Anda datang tepat sepuluh detik lebih cepat dari biasanya, Nona," ucap pelayan muda itu sambil meletakkan cangkir keramik hitam berisi kopi panas di atas meja Alma.
"Waktu adalah aset yang tidak boleh disia-siakan, Mas," jawab Alma singkat tanpa mengangkat wajahnya dari lembar timeline proyek bernilai besar di depannya. "Jika operasional kedai ini meleset satu menit saja, maka seluruh jadwal siangku akan berantakan."
"Wah, hidup Anda pasti sangat melelahkan jika diatur seketat itu setiap hari," timpal pelayan itu sambil tersenyum geli, terbiasa menghadapi pelanggan korporat yang tegang.
Alma hanya terdiam, mengabaikan komentar tersebut. Jemarinya yang berbalut cincin perak tipis membuka halaman demi halaman dokumen, memeriksa setiap poin dengan ketelitian tinggi. Di sudut ruangan yang sama, di meja bundar kecil berjarak tiga meter dari tempat Alma duduk, seorang pria berambut sedikit berantakan mengenakan jaket denim pudar sedang duduk melamun. Pria itu adalah Aldo, seorang ilustrator lepas yang hidup tanpa alarm dan tanpa jadwal pasti. Di hadapannya tergeletak cangkir caffe latte yang sudah mendingin, sementara kedua tangannya sibuk mencoret-coret serbet kertas putih dengan sketsa arang yang menggambarkan bentuk-bentuk abstrak awan dan burung terbang. Aldo sedang menikmati jeda waktu luangnya yang panjang, sebuah kemewahan yang tidak pernah dipahami oleh Alma. Bagi Aldo, waktu bukanlah musuh yang harus dikejar, melainkan aliran air yang dinikmati ke mana pun ia membawa pergi pikiran kreatifnya. Dua manusia dengan garis waktu yang bertolak belakang ini duduk dalam satu ruangan yang sama, tidak menyadari bahwa semesta sedang bersiap mempertemukan mereka dalam sebuah benturan tak terelakkan yang akan mengubah definisi waktu bagi keduanya untuk selamanya.
❖ ❖ ❖
Tujuan utama Alma berada di kedai kopi tersebut bukan sekadar menikmati kafein, melainkan menyelesaikan revisi akhir timeline proyek logistik regional sebelum tenggat waktu pukul 14.00 siang. Tujuannya sangat spesifik: memastikan tidak ada satu pun celah kesalahan dalam jadwal pengiriman barang lintas pulau yang bisa dimanfaatkan oleh pihak pesaing. Ia mengambil pulpen gel hitamnya, mencoret sebuah tanggal pengiriman yang dianggapnya terlalu longgar, lalu menuliskan jadwal baru yang lebih ketat di sampingnya. "Tiga hari lebih cepat dari jadwal semula," gumamnya pelan pada dirinya sendiri, merasa puas dengan angka-angka baru yang ia ciptakan. Target itu harus dicapai oleh seluruh tim operasional cabang jika mereka ingin mempertahankan kontrak eksklusif dengan perusahaan multinasional asal Jepang. Alma percaya bahwa dengan mengendalikan setiap detik dalam rantai pasok, ia bisa mengendalikan takdir profesionalnya agar tidak pernah jatuh pada kegagalan yang sama seperti masa lalu. Ia kembali meneguk kopinya yang kini mulai hangat, matanya memindai ulang setiap baris kalimat dalam dokumen dengan tingkat konsentrasi setara dengan seorang ahli bedah di ruang operasi.
"Apakah kau benar-benar menikmati hidup di dalam kotak angka-angka itu, Nona Jadwal?" sebuah suara tiba-tiba memecah keheningan di sekitar meja Alma.
Alma terperanjat kecil, mendongakkan kepalanya dengan cepat. Di hadapannya, berdiri seorang pria asing berjaket denim—Aldo—yang memegang serbet kertas penuh coretan arang di tangan kanannya, tersenyum ramah tanpa rasa bersalah.
"Maaf? Apakah kita saling kenal?" tanya Alma dingin, alisnya bertaut tajam menunjukkan ketidaksukaan atas interupsi yang tidak terjadwal itu. "Dan apa urusanmu mengomentari cara hidupku?"
"Kita tidak saling kenal, setidaknya belum," jawab Aldo santai sambil menarik kursi kosong di sebelah meja Alma lalu duduk begitu saja tanpa diundang. "Tapi tadi, tanpa sengaja, aku melihatmu mencoret jadwal pengiriman itu dengan kemarahan yang luar biasa. Kau memperlakukan kertas itu seperti musuh bebuyutan yang harus ditaklukkan."
"Itu adalah dokumen rahasia perusahaan, dan kau tidak sopan mengamati pekerjaanku," tegas Alma, segera menutup map hitamnya dengan gerakan cepat. "Silakan kembali ke meja Anda sebelum aku memanggil pihak keamanan kedai."
"Wah, galak sekali," tawa Aldo pelan, sama sekali tidak merasa terintimidasi oleh tatapan tajam Alma. "Aku hanya ingin bilang, hidupmu terlihat sangat berat. Kau membawa beban satu pabrik besar di pundakmu hanya karena takut terlambat beberapa menit. Padahal di luar sana, hujan tidak pernah peduli apakah jadwalmu tepat waktu atau tidak."
"Hujan memang tidak peduli, tapi manusia yang profesional peduli," balas Alma sengit, napasnya sedikit memburu akibat emosi yang mendadak naik. "Ketidakdisiplinan adalah awal dari kehancuran. Kalau kau tidak punya hal penting untuk dibicarakan, silakan pergi." Aldo mengangguk perlahan, berdiri dari kursinya sambil meletakkan selembar serbet kertas bergambar sketsa jam pasir yang meleleh di atas meja Alma. "Pikirkan lagi, Nona. Terkadang waktu yang kita kejar mati-matian justru adalah hal pertama yang meninggalkan kita." Setelah berkata demikian, Aldo berlalu begitu saja meninggalkan Alma yang tertegun menatap serbet bergambar aneh tersebut.