Celap Celup

Amrullah Ibrahim
Chapter #4

Tumpahan Kopi dan Dokumen Berharga

Kabut tipis yang mengepul dari permukaan cangkir keramik itu berpadu dengan aroma biji kopi robusta sangrai yang pekat, memenuhi setiap sudut ruangan kedai kopi yang minimalis dan tenang. Di salah satu sudut dekat jendela kaca besar yang menghadap langsung ke jalan raya pusat kota, Alma duduk tegak dengan punggung lurus sempurna, mencerminkan sosok profesional yang sangat disiplin dan terstruktur. Jarum jam dinding kedai baru saja menunjuk pukul 08.15 pagi, menandakan awal hari kerja yang sibuk bagi sebagian besar orang, termasuk Alma yang sudah menghabiskan tiga puluh menit terakhir memeriksa ulang setiap angka di dalam dokumen laporan keuangannya. Lembaran-lembaran spreadsheet itu tersusun sangat rapi di atas meja kayu berwarna cokelat muda, ditandai dengan pembatas warna-warni dan catatan kecil yang ditulis menggunakan pena bertinta hitam. Bagi Alma, waktu adalah instrumen presisi yang tidak boleh meleset sedetik pun; setiap menit dalam hidupnya telah dijadwalkan secara ketat, mulai dari jam bangun tidur, durasi rapat pagi, hingga target penyelesaian laporan kuartalan sebelum jam makan siang tiba.

Ruangan kedai itu sendiri terasa kontras dengan kedisiplinan yang dibawa Alma. Di sekelilingnya, beberapa pengunjung tampak menikmati pagi dengan santai, membaca buku atau mengobrol ringan tanpa beban. Namun, bagi Alma, pagi ini adalah babak penentuan dalam kariernya di kantor akuntan publik tempat ia bekerja selama tiga tahun terakhir. Ia mengenakan setelan jas formal berwarna abu-abu gelap yang disetrika licin tanpa cela, dipadukan dengan kemeja putih berkerah kaku. Di hadapannya, secangkir caffe latte hangat dengan hiasan seni latte art berbentuk hati berukuran kecil mengepulkan uap tipis, menemani konsentrasinya yang sedang diuji oleh deretan tabel angka yang rumit. Ia membetulkan letak kacamatanya yang berbingkai tipis, menarik napas dalam-dalam, dan bersiap untuk mengirimkan laporan penting tersebut kepada direktur keuangannya melalui surel dalam lima menit ke depan.

"Semuanya harus sempurna," gumam Alma pelan pada dirinya sendiri, jemarinya yang lentik merapikan sudut kertas terakhir agar sejajar dengan tepi meja kayu.

Di meja sebelah yang hanya berjarak satu jengkal, seorang pria berantakan dengan jaket denim belel dan rambut ikal acak-acakan tampak sedang mencorat-coret buku sketsa kecil menggunakan pensil arang. Pria itu adalah Aldo, yang entah bagaimana caranya bisa mendarat di kedai kopi mahal ini setelah semalaman bergadang di studionya yang pengap. Meskipun penampilan mereka bagaikan bumi dan langit—satu sisi merepresentasikan keteraturan korporat yang kaku, sisi lainnya mencerminkan kekacauan artistik yang bebas—kedua dunia yang berbeda itu takdirnya akan segera bertabrakan dalam hitungan detik akibat sebuah kelalaian kecil yang sama sekali tidak terduga oleh siapapun di dalam ruangan tersebut.

❖ ❖ ❖

Tujuan utama Alma pagi ini sangatlah jelas dan tidak bisa ditawar: memastikan dokumen laporan keuangan kuartal akhir terserah kepada atasannya, Pak Hartawan, tanpa ada satupun kesalahan ketik atau selisih angka. Kariernya yang sedang berada di ambang promosi sebagai kepala divisi audit sangat bergantung pada ketepatan dan kerapian dokumen yang kini terbentang di atas meja kayu kedai kopi itu. Ia ingin membuktikan bahwa dirinya adalah aset paling berharga di kantor, seseorang yang mampu diandalkan di bawah tekanan apa pun tanpa pernah membuat kesalahan fatal.

Ponsel pintar di samping tumpukan kertas itu tiba-tiba berdering nyaring, menampilkan nama 'Pak Hartawan' di layar utamanya. Jantung Alma berdegup sedikit lebih cepat; panggilan pagi dari sang atasan besar biasanya berarti ada instruksi tambahan atau perubahan mendadak yang harus segera dieksekusi sebelum rapat pleno pukul sembilan nanti. Ia segera meraih ponsel tersebut dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya masih memegang pena, bersiap mencatat setiap patah kata penting yang akan meluncur dari mulut atasannya.

"Selamat pagi, Pak Hartawan," sapa Alma dengan nada suara yang diatur sedemikian rupa agar terdengar tenang, profesional, dan penuh percaya diri.

"Alma, dengarkan saya baik-baik," suara berat Pak Hartawan langsung memecah keheningan di telinganya dari ujung seberang. "Ada revisi mendadak untuk asumsi pertumbuhan laba di halaman tiga laporanmu. Dewan direksi ingin angka inflasi disesuaikan dengan data terbaru dari Bank Indonesia yang baru saja dirilis lima menit lalu. Apakah kamu membawa dokumen fisiknya bersama-sama denganmu?"

"Ya, Pak. Dokumen fisiknya ada tepat di hadapan saya sekarang di kedai kopi dekat kantor," jawab Alma cepat, matanya langsung melirik ke arah halaman tiga spreadsheet yang dimaksud.

"Bagus. Cek halaman tiga bagian bawah, lalu hitung ulang proyeksi kasnya secara manual sekarang juga sebelum kamu berangkat ke kantor. Saya butuh revisi itu selesai sepuluh menit dari sekarang!" perintah Pak Hartawan dengan nada tegas tanpa toleransi, sebelum sambungan telepon diputus secara sepihak.

Alma tertegun sejenak. Target hidupnya pagi ini tiba-tiba menjadi jauh lebih rumit dan mendesak. Ia harus merevisi angka-angka di atas kertas dalam hitungan menit, sebuah tantangan matematika cepat yang menguji ketelitian mentalnya di tengah suasana kedai yang mulai ramai oleh pengunjung lain yang memesan sarapan. Tujuan profesionalnya hari ini telah terkunci rapat, namun ia tidak menyadari bahwa kepanikannya sesaat setelah panggilan telepon itu akan memicu sebuah bencana fisik yang siap menghancurkan seluruh kerja kerasnya dalam sekejap mata.

❖ ❖ ❖

Transisi dari ketenangan pagi menuju pusaran kepanikan kilat itu terjadi begitu cepat, didorong oleh gerakan refleks tubuh Alma yang mendadak ingin berdiri untuk mengambil tas kerjanya di kursi sebelah. Ia merasa waktu berjalan sepuluh kali lebih cepat dari biasanya; jarum pendek jam tangan mewahnya menunjuk angka delapan lewat sembilan belas menit, menyisakan waktu yang amat tipis untuk merevisi angka, membayar kopi, dan berjalan kaki menuju gedung perkantoran di seberang jalan.

Tanpa memperhatikan lingkungan sekitar atau jarak benda-benda di atas meja kecil tempat ia duduk, tubuh Alma terdorong bangkit dengan gerakan yang agak tersentak akibat instruksi tegas dari atasannya barusan. Siku tangan kanannya yang mengenakan lengan jas formal kaku menyambar sudut cangkir keramik berisi sisa cairan hitam legam—caffe latte panas yang baru diminum setengahnya.

"Ah!" gumam Alma tertahan, matanya membelalak lebar tatkala ia melihat cangkir keramik itu terguling dengan suara benturan keras yang memecah keheningan meja kayu.

Transisi antara situasi terkontrol yang rapi dan kekacauan total terjadi dalam hitungan milidetik. Cairan hitam pekat itu tumpah seketika dengan cipratan yang bertenaga, mengalir deras membasahi lembaran-lembaran spreadsheet kerja Alma yang tadinya tersusun sangat rapi, mengubah deretan angka akuntansi yang penuh presisi itu menjadi bubur tinta hitam yang tidak dapat dibaca lagi. Tidak berhenti di situ, aliran kopi yang tumpah dari tepi meja juga meluncur bebas ke lantai, menciprati ujung sepatu loafers kulit mahal milik Aldo yang duduk tenang di meja sebelah sambil merenungkan sketsa arangnya.

Aldo terperanjat dari lamunannya, menjatuhkan pensil arangnya ke atas meja, lalu menunduk menatap sepatu kesayangannya yang kini bernoda cokelat kehitaman akibat cipratan kopi asing tersebut. Ia mengangkat wajahnya perlahan, menatap tajam ke arah wanita berjas abu-abu di sebelah mejanya yang kini berdiri mematung bagaikan patung es di tengah badai.

Lihat selengkapnya