Celap Celup

Amrullah Ibrahim
Chapter #5

Percikan Pertama di Meja Nomor Empat

Pukul 15.15 sore, suasana di dalam sudut kafe yang temaram berubah drastis menjadi medan pertempuran verbal ketika ketegangan meletup di meja nomor empat. Alma langsung meluapkan kekesalannya dengan nada bicara yang tajam dan menusuk, menuduh pria berantakan di depannya tidak awas setelah cangkir caffe latte milik Aldo tanpa sengaja tersenggol dan menumpahkan sedikit cairan putih susu di atas sudut map kulit sintetis hitam miliknya. Bagi Alma, noda sekecil apa pun di atas dokumen fisik adalah bencana besar yang merusak keindahan kerapian data yang telah ia susun berdasarkan kalkulasi waktu berhari-hari tanpa tidur nyenyak. "Kau lihat apa yang kau perbuat?!" seru Alma dengan napas memburu, matanya menatap tajam ke arah noda kecokelatan yang meresap perlahan ke atas lembar timeline proyek logistik bernilai miliaran rupiah. "Dokumen ini membutuhkan waktu tiga hari penuh untuk disusun secara presisi, dan kau dengan cerobohnya menghancurkan semua kerja kerasku hanya karena duduk melamun di tempat umum!" Suara kerasnya membuat beberapa pengunjung lain di meja terdekat menoleh kaget, sementara Alma tetap berdiri kaku di sisi meja dengan tangan mengepal kuat menahan amarah yang hampir meluap ke ubun-ubun.

"Tenanglah, Nona Manajer. Itu hanya setetes susu, bukan kiamat kecil," jawab Aldo santai sambil menatap noda tersebut tanpa sedikit pun rasa bersalah di wajahnya.

"Hanya setetes susu bagimu, tapi itu adalah representasi dari kedisiplinan dan waktu kerja yang berharga bagiku!" balas Alma sengit, suaranya bergetar karena emosi yang tidak mampu lagi ia bendung di dalam dada.

"Kalau hidupmu hanya diukur dari tetesan susu dan lembar kertas, kau pasti melewatkan banyak hal indah di luar sana," timpal Aldo tenang, membuat dada Alma semakin sesak karena merasa diremehkan di tengah situasi krisis personal yang sedang dihadapinya hari ini.

❖ ❖ ❖

Tujuan utama Alma di balik ledakan emosi tersebut sebenarnya sederhana namun sangat krusial bagi harga dirinya: menegaskan batas mutlak antara dunianya yang teratur dengan dunia orang-orang sembrono seperti pria di hadapannya. Tujuannya adalah membuat Aldo meminta maaf secara formal, mengakui kesalahannya, dan segera pergi dari meja nomor empat agar ia bisa kembali fokus menyelamatkan dokumen proyek yang ternoda sebelum batas waktu sore hari tiba. Alma mengambil selembar tisu kering dari wadahnya dengan gerakan cepat, menyeka noda susu itu dengan hati-hati seolah sedang merawat luka bedah yang sensitif. "Aku tidak butuh ceramah filosofismu tentang hidup," ucap Alma dingin tanpa menatap mata lawan bicaranya. "Yang aku butuhkan sekarang adalah kau membereskan mejamu, berhenti mengganggu ruang kerjaku, dan membiarkan aku memperbaiki kekacauan yang kau timbulkan." Targetnya sore ini jelas: mengembalikan kesempurnaan dokumen tersebut dalam waktu kurang dari sepuluh menit, lalu melupakan insiden memalukan ini selamanya dari ingatan kepalanya.

"Kau tahu, orang yang paling takut pada kekacauan biasanya adalah orang yang paling rapuh di dalam," ucap Aldo tiba-tiba, suaranya berubah sedikit lebih serius meskipun senyum tipis masih menghiasi bibirnya.

"Cukup, Tuan! Jangan mencoba menganalisis kehidupanku yang sama sekali tidak kau kenal," potong Alma tajam, jemarinya yang memegang pulpen menunjuk tepat ke arah dada Aldo.

"Aku hanya ingin meluruskan sesuatu, Nona," kata Aldo pelan, mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan meja marmer. "Tujuanku datang ke kedai ini bukan untuk mencari masalah denganmu, melainkan mencari inspirasi. Tapi pertemuan kita di meja nomor empat ini justru menunjukkan betapa tersiksanya kau hidup di dalam sangkar waktu buatanmu sendiri." Alma tertegun sejenak mendengar kalimat itu, namun egonya yang tinggi langsung menolak segala bentuk empati palsu dari seorang asing yang baru ia kenal beberapa menit lalu.

❖ ❖ ❖

Transisi suasana di meja nomor empat bergeser dari amarah yang meletup-letup menjadi keheningan yang janggal dan penuh teka-teki. Alih-alih marah atau meminta maaf dengan panik seperti yang biasa dilakukan oleh orang-orang ketika ditegur oleh Alma, Aldo justru merespons dengan senyum santai yang membuat Alma semakin kehabisan akal. Pria itu dengan tenang mengambil selembar tisu kain bersih dari tas selempangnya, lalu mengulurkannya kepada Alma sambil berkomentar ringan bahwa hidup memang tidak akan pernah berjalan sesuai spreadsheet yang kaku. Pergeseran sikap Aldo yang tak terduga ini meruntuhkan benteng pertahanan argumentasi Alma; ia merasa seperti sedang meninju dinding kapas yang menyerap seluruh tenaga pukulannya tanpa perlawanan berarti. Di luar jendela kedai, rintik hujan sore mulai turun kembali membasahi kaca, membawa aroma tanah basah yang berpadu dengan harumnya biji kopi panggang di dalam ruangan. Transisi waktu dari siang yang terik menuju sore yang kelabu seolah mencerminkan perubahan batin yang sedang dialami Alma—dari seorang diktator waktu yang keras kepala menjadi wanita kebingungan yang mulai meragukan prinsip hidupnya sendiri.

"Gunakan tisu kain ini, ini lebih efektif menyerap noda cair dibanding tisu kertas tipis kedai," ujar Aldo sambil meletakkan tisu kain tersebut di samping map hitam Alma.

Lihat selengkapnya