Celap Celup

Amrullah Ibrahim
Chapter #6

Rutinitas yang Tak Diundang

Angin siang yang berhembus pelan membawa aroma khas biji kopi panggang yang bercampur dengan debu jalanan kota, menyelimuti kedai kopi pinggir jalan yang kini tampak jauh lebih akrab dari sebelumnya. Jam dinding besar di atas konter utama kedai baru saja menunjuk tepat pukul 14.00 siang, menandakan dimulainya paruh kedua hari yang melelahkan bagi Alma. Tempat sederhana dengan deretan kursi kayu jati tua dan meja-meja kecil beratap payung kanvas itu mendadak resmi masuk ke dalam daftar jadwal mingguan Alma, bukan lagi karena kebetulan atau insiden konyol semata, melainkan karena lokasi tersebut terbukti sangat strategis untuk mengejar ketertinggalan pekerjaannya yang menumpuk. Di dalam balutan kemeja biru langit berlengan panjang yang dilipat rapi hingga siku dan celana bahan hitam formal, Alma melangkah masuk dengan mantap. Langkah kakinya terdengar tegas di atas lantai paving block kedai, mencerminkan presisi seorang akuntan senior yang tidak pernah mau berkompromi dengan waktu.

"Selamat siang, Mbak Alma. Menu yang biasa seperti kemarin?" sapa barista muda di balik mesin espresso dengan senyuman ramah.

"Siang, Beni. Tolong secangkir teh hijau hangat tanpa gula saja, ya. Jangan lupa sediakan colokan listrik terdekat," jawab Alma singkat namun ramah, sambil memilih meja nomor empat di sudut ruangan yang menghadap langsung ke arah jendela kaca besar.

Bagi Alma, waktu pukul dua siang adalah momen krusial untuk menyusun ulang strategi keuangan perusahaan sebelum laporan bulanan ditutup akhir pekan ini. Ia meletakkan tas kerja kulit hitamnya di atas kursi, mengeluarkan laptop perak berukuran tipis, dan menyusun rapi beberapa dokumen cetak baru yang dibawanya dari kantor. Suasana kedai pada siang hari ini terasa cukup tenang; deru kendaraan di jalan raya luar sana terdengar sayup-sayup bagaikan dengung lebah yang menenangkan, memberikan latar belakang suara yang pas untuk berkonsentrasi. Tanpa ia sadari, seiring dengan jemarinya yang mulai menari di atas papan tik laptop, matanya sempat mengedar sekilas ke seluruh sudut ruangan, menyapu setiap meja untuk mencari satu sosok tertentu yang kemarin sempat mengubah alur harinya secara drastis—sosok berantakan berjaket denim usang yang hari sebelumnya tidak sengaja ia jumpai dalam insiden tumpahan kopi.

"Mencari seseorang, Mbak?" tanya Beni sambil mengantar secangkir teh hijau hangat yang mengepulkan uap tipis ke atas meja Alma.

"Ah, tidak, Beni. Hanya memastikan apakah meja favoritku ini bersih dari sisa-sisa cairan hari ini," kilah Alma cepat, merapikan letak kacamatanya dengan sedikit salah tingkah.

Ia kembali memfokuskan pandangannya pada layar monitor laptop, mencoba mengusir bayangan pria berambut ikal itu dari benaknya. Namun, kebiasaan baru ini rupanya telah menanamkan sebuah rasa penasaran yang aneh di dalam diri seorang wanita yang biasanya hidup dalam keteraturan mutlak. Kedai kopi pinggir jalan ini, yang awalnya dianggap sebagai tempat transit yang merepotkan, kini berubah menjadi sebuah ruang singgah yang diam-diam ia nantikan setiap minggunya, seolah ada magnet tak kasat mata yang menarik langkah kakinya untuk kembali ke tempat di mana kekacauan dan ketenangan berpadu dalam satu wadah yang sama.

❖ ❖ ❖

Tujuan utama Alma datang ke tempat itu siang ini sangatlah jelas dan terukur: menyelesaikan analisis arus kas triwulanan yang sempat tertunda akibat insiden tumpahan kopi beberapa hari lalu. Target hidupnya hari ini adalah merampungkan seluruh tabel proyeksi keuangan sebelum pukul 17.00 sore, tanpa ada toleransi untuk kesalahan sekecil apa pun. Ia ingin membuktikan kepada jajaran direksi bahwa dirinya tidak mudah goyah oleh gangguan eksternal, dan bahwa kariernya sebagai kepala divisi audit tetap berada di jalur yang benar menuju kursi promosi yang sudah lama diidam-idamkannya.

"Kali ini tidak boleh ada gangguan," gumam Alma tegas pada dirinya sendiri, jemarinya mengetik deretan angka dengan kecepatan tinggi yang menghasilkan suara ketukan lembut dari papan tik laptopnya.

Ia menyesap teh hijau hangat di hadapannya perlahan, menikmati rasa pahit kelat yang menenangkan tenggorokan, lalu kembali menatap layar monitor dengan tatapan tajam penuh konsentrasi. Di dalam dunianya yang serba terstruktur, setiap angka adalah kebenaran mutlak yang harus dibuktikan, dan setiap detik adalah modal berharga yang tidak boleh disia-siakan untuk hal-hal yang tidak produktif. Tujuan hidupnya hari ini menuntut fokus seratus persen, sebuah benteng pertahanan mental agar ia tidak terdistraksi oleh suasana kedai yang perlahan mulai dipadati oleh para mahasiswa dan pekerja lepas yang datang mencari inspirasi.

"Mbak Alma, laporan untuk divisi pemasaran sudah dikirim ke surel Anda," terdengar pesan suara singkat dari asistennya yang berdering pelan di ponsel pintar di samping laptop.

"Baik, segera saya periksa," balas Alma melalui pesan teks cepat, tanpa mengalihkan pandangannya dari grafik laba rugi di layar monitor.

Ia bertekad untuk menyelesaikan pekerjaannya hari ini dengan sempurna, menutup laptop tepat waktu, dan berjalan pulang dengan kepala tegak. Namun, takdir rupanya memiliki rencana lain yang jauh lebih menggelitik, karena tepat ketika ia mengira hari ini akan berjalan sesuai jadwal kaku yang telah ia susun, sebuah pemandangan di sudut ruangan mendadak membuyarkan seluruh konsentrasi yang baru saja ia bangun dengan susah payah selama satu jam terakhir.

❖ ❖ ❖

Transisi dari suasana kerja yang sunyi dan terkontrol menuju kejutan visual yang tidak terduga terjadi dalam sekejap mata ketika pandangan Alma tanpa sengaja kembali menyapu sudut ruangan kedai. Meja nomor empat—meja kayu mungil tempat insiden tumpahan kopi tempo hari terjadi—ternyata sudah diduduki oleh seseorang yang sangat ia kenal, meskipun kemarin ia bertekad untuk melupakannya. Sosok itu adalah Aldo, pria berantakan berjaket denim usang yang rambut ikalnya tampak semakin acak-acakan siang ini.

Aldo duduk dengan posisi agak membungkuk di atas kursinya, begitu khusyuk menggoreskan pensil arang di atas lembaran sketsa kertas tebal yang terbentang di hadapannya. Di samping tangan kanannya, sebuah cangkir kopi hitam pekat mengepulkan uap tipis, berjarak hanya beberapa senti dari tumpukan penghapus karet dan kuas-kuas kecil yang berserakan ke mana-mana. Waktu di mata Alma seolah melambat sejenak; ia tertegun menatap punggung pria itu, merasakan sebuah transisi perasaan yang aneh dari rasa kesal masa lalu menjadi rasa penasaran yang mendadak bangkit di dalam dadanya.

"Kenapa dia harus duduk di meja itu lagi?" batin Alma dalam hati, alisnya berkerut tipis sambil merapatkan cangkir teh hijaunya.

Ia melihat bagaimana Aldo dengan santainya mencoret-coret kertas tanpa beban, seolah dunia di sekitarnya tidak memiliki tenggat waktu atau laporan keuangan yang harus dikejar. Perbedaan kontras antara cara hidup mereka berdua terpampang begitu nyata di hadapannya: Alma dengan jas rapi dan tabel angka presisinya, berhadapan langsung dengan Aldo yang hidup di dalam dunia warna, sketsa, dan ketidakteraturan yang bebas hambatan. Transisi suasana hati Alma pun berubah drastis dari fokus yang kaku menjadi rasa ingin tahu yang terselubung malu-malu, menyadari bahwa kedai kopi ini ternyata menyimpan magnet yang sama bagi mereka berdua.

Aldo yang sepertinya merasakan kehadiran seseorang menatap ke arahnya, tiba-tiba mendongak dari buku sketsanya, dan mendapati Alma sedang memperhatikannya dari meja seberang. Pria itu menyunggingkan senyuman lebar yang khas—senyuman santai tanpa beban yang kemarin sempat membuat Alma salah tingkah—sambil melambaikan tangan kanannya pelan menyapa sang akuntan.

"Halo lagi, Nona Rapi! Wah, sepertinya meja nomor empat ini memang sudah bertuliskan nama kita berdua di bawah kakinya," sapa Aldo setengah bersuara melintasi jarak meja mereka, suaranya terdengar hangat di tengah bisingnya kedai.

Lihat selengkapnya