
Cahaya putih dari lampu neon kantor lantai empat itu berdengung pelan, memantul tajam di atas permukaan meja kerja berbalut laminasi abu-abu. Jam digital di sudut kanan bawah layar monitor menunjukkan pukul 09.14 pagi, sebuah penanda waktu yang biasanya menjadi fase paling produktif dalam siklus mingguan divisi keuangan. Udara di dalam ruangan terasa sejuk berkat pendingin ruangan sentral yang bekerja tanpa henti, membawa aroma samar kertas baru dan sisa-sisa kopi tubruk dari pantri di ujung koridor. Di balik bilik kubikal yang dibatasi partisi kain setinggi dada, Alma duduk tegak dengan jemari yang menari di atas kibor mekanik, menciptakan suara ketukan ritmis yang berpadu dengan hiruk-pikuk obrolan rendah rekan kerja di seberang ruangan.
Pagi ini, Alma mengenakan kemeja biru muda berlengan panjang yang dilipat rapi hingga siku, menyimbolkan ketegasan dan kesiapannya menghadapi setumpuk angka yang menuntut ketelitian tingkat tinggi. Matanya yang dibingkai kacamata berbingkai tipis menatap lekat-lekat pada baris dan kolom data yang membentang luas di layar monitor. Spreadsheet itu adalah medan pertempuran utamanya hari ini, sebuah lembar kerja raksasa yang berisi rekonsiliasi anggaran triwulan terakhir. Ia tahu betul bahwa setiap kesalahan kecil dalam pengetikan angka desimal dapat berakibat fatal pada laporan keuangan yang akan disajikan kepada jajaran direksi esok laku.
Namun, konsentrasi yang telah ia bangun dengan susah payah selama satu jam terakhir mendadak buyar ketika sebuah gerakan mencolok tertangkap di sudut pandang matanya. Dari balik sekat pembatas kubikal, sesosok tubuh jangkung dengan kemeja flanel kotak-kotak lengan digulung acak muncul begitu saja. Itu adalah Aldo. Pria itu berdiri di dekat lorong utama antarkubikal, tampak sama sekali tidak memiliki beban hidup. Tanpa rasa bersalah atau sedikit pun rasa canggung akibat insiden tumpahan kopi di kafe bawah gedung tempo hari, Aldo langsung melambaikan tangan kanannya ke arah Alma dengan senyum lebar yang entah mengapa terlihat begitu menyebalkan di mata wanita itu.
Alma tertegun sejenak, tangannya yang semula aktif mengetik mendadak terhenti di atas tombol spacebar. Darahnya mendesir naik, bukan karena rasa senang atau rindu, melainkan gelombang iritasi murni yang langsung menghantam rongga dadanya. Kejadian tempo hari di mana kemeja putihnya hampir basah kuyup karena kecerobohan pria itu masih membekas jelas di ingatannya. Dan sekarang, tanpa ada angin atau hujan, pria yang sama muncul kembali di lingkungan kerjanya, seolah-olah dunia ini adalah taman bermain pribadi miliknya. Alma merasakan rahangnya mengatup rapat. Ia tidak punya waktu untuk drama pagi hari seperti ini. Tenggat waktu laporan audit tinggal menghitung jam, dan setiap detik yang terbuang untuk meladeni kehadiran makhluk menyebalkan itu adalah sebuah kerugian besar bagi progres pekerjaannya.
❖ ❖ ❖
Menyadari lambaian tangan itu, Alma mengambil keputusan cepat. Ia menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya perlahan lewat hidung untuk meredam gejolak emosi, lalu dengan sengaja memalingkan wajahnya kembali ke arah monitor. Dalam hati, Alma berkata pada dirinya sendiri bahwa prioritas utamanya saat ini adalah menyelesaikan kolom pengeluaran operasional sebelum jam istirahat siang tiba. Ia bertekad bulat untuk mengabaikan keberadaan Aldo sepenuhnya. Jika ia tidak merespons, pria itu pasti akan merasa risih sendiri dan pergi mencari mangsa lain untuk diganggu. Alma kembali menempelkan jemarinya pada kibor, memaksa otaknya untuk fokus kembali pada rumus matematika keuangan yang rumit, mencoba mengejar waktu yang sempat terbuang akibat insiden kopi tempo hari yang hampir membuat laporan ini terlambat dikirim ke meja manajer.
"Ayolah, Alma. Jangan jadikan aku batu karang tak bernyawa di pagi yang cerah ini," suara bariton yang santai itu tiba-tiba meluncur begitu dekat, memotong suara dengungan pendingin ruangan.
Alma terlonjak kecil di kursi kerjanya. Pria itu ternyata tidak pergi. Malahan, langkah kakinya telah membawanya melewati partisi kubikal dan kini berdiri tepat di samping meja kerja Alma. Tak hanya berdiri, Aldo dengan sangat santainya menarik kursi plastik kosong dari kubikal sebelah—milik Rina yang sedang izin cuti—lalu menyeretnya mendekat dan mendudukinya tepat di depan meja Alma. Gerakan itu begitu natural, tanpa sedikit pun rasa sungkan atau meminta izin terlebih dahulu kepada pemilik meja.
"Apa yang kamu lakukan di sini, Aldo?" tanya Alma dengan suara tertahan, berusaha agar tidak menarik perhatian rekan-rekan sekantor yang duduk di sekitar mereka. Ia menatap tajam ke arah pria di depannya.
Aldo tidak langsung menjawab. Ia justru meletakkan sebuah piring kecil berwarna putih porselen di atas tumpukan dokumen laporan milik Alma. Di atas piring kecil itu, tersusun rapi tiga buah biskuit marie susu bundar berwarna kecoklatan dengan aroma vanila yang manis.
"Aku membawakanmu sarapan," jawab Aldo dengan nada ringan, menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi plastik sambil melipat tangan di dada. "Kamu kelihatan sangat tegang sejak dari lobi tadi. Wajahmu tadi pagi bahkan lebih pucat dari kertas HVS ini. Sebagai sesama umat manusia yang pernah terlibat insiden kecelakaan cairan berkafein, sudah kewajibanku untuk memastikan lambungmu tidak kosong dan asam lambungmu tidak naik."
Alma menatap piring kecil berisi biskuit marie susu itu dengan sebelah alis terangkat tinggi. "Aku tidak butuh sarapanmu, Aldo. Dan aku jauh lebih tidak butuh kehadiranmu di area kerja divisi keuangan. Ini area terbatas untuk staf internal, bukan tempat bersantai atau kafe tempatmu bisa nongkrong sembarangan."
"Ah, birokrat kantor mulai beraksi," tukas Aldo sambil terkekeh pelan, sama sekali tidak merasa tersinggung dengan sambutan dingin tersebut. "Santai saja, Mbak Alma. Aku cuma mampir sebentar untuk menyerahkan dokumen kerja sama proyek baru dari departemen pemasaran, kebetulan bos kalian meminta tandatangan verifikasi awal. Tapi karena aku melihatmu sedang berjuang sendirian melawan ribuan baris angka, aku berbaik hati mampir untuk mendinginkan kepalamu."
Alma mendengus kasar. Waktu kerjanya yang sangat berharga dan telah dihitung per menit kini benar-benar terbuang sia-sia hanya untuk melototi tindakan lancang pria di depannya ini. Ia melirik sekilas ke arah pojok kanan bawah layarnya; waktu terus berjalan, sementara target penyelesaian pekerjaannya masih jauh panggang dari api.
❖ ❖ ❖
Suasana di sekitar kubikal Alma mendadak terasa semakin sesak, bukan karena ruangan yang menyempit, melainkan karena kehadiran fisik Aldo yang mendominasi ruang gerak di dekat mejanya. Pria itu tampak sangat nyaman duduk di kursi pinjaman, bahkan kini ia mulai mengulurkan tangan untuk mengambil salah satu biskuit marie susu dari piring kecil yang dibawanya tadi, lalu mematahkannya menjadi dua bagian kecil dengan santai. Remahan biskuit halus berjatuhan tipis di dekat pinggiran meja Alma, membuat wanita itu harus menahan diri agar tidak meledakkan amarahnya saat itu juga.
"Kamu tahu, Alma," ucap Aldo di sela-sela kunyahannya, "kalau kamu terus-menerus memasang ekspresi wajah seperti itu—mengerutkan kening sambil menatap layar seolah-olah monitor itu adalah musuh bebuyutanmu—garis-garis halus di dahi sebelah kirimu itu akan menetap permanen sebelum kamu berumur tiga puluh tahun."
Alma menutup dokumen di hadapannya dengan gerakan agak bertenaga, menciptakan bunyi gedebuk pelan yang cukup untuk menunjukkan rasa kekesalannya. Ia menatap Aldo dengan tatapan menusuk, seolah ingin menembus tengkorak kepala pria itu untuk melihat apakah ada isi otak yang berfungsi secara normal di dalamnya.
"Dengar ya, Aldo," kata Alma dengan nada suara berbisik namun penuh penekanan di setiap suku katanya. "Pertama, urusanku dengan garis-garis di dahiku adalah urusanku pribadi. Kedua, kalau kamu datang ke sini hanya untuk memberikan dokumen verifikasi proyek pemasaran, silakan letakkan dokumen itu di atas tumpukan map biru di sebelah kiri, lalu segera kembali ke lantai sembilan tempat asalmu. Dan ketiga, singkirkan piring biskuit bayi ini dari hadapanku sebelum aku membuangnya ke tempat sampah di bawah meja."
Aldo menghentikan kunyahannya. Ia menelan potongan biskuit di mulutnya, lalu menatap Alma dengan tatapan menyelidik yang dihiasi senyum tipis penuh misteri. Alih-alih merasa takut atau terintimidasi oleh nada bicara Alma yang dingin, Aldo justru memiringkan kepalanya sedikit, mengamati bagaimana jemari wanita itu mengetuk-ngetuk permukaan meja dengan tidak sabar.
"Kamu ini galak sekali, ya," komentar Aldo tanpa rasa bersalah. "Padahal, kalau sesekali kamu mau menarik napas, menikmati secangkir teh hijau hangat, atau bahkan memakan biskuit marie susu ini, dunia keuangan tidak akan serta-merta runtuh. Angka-angka itu tidak akan lari ke mana-mana, Alma. Mereka akan tetap di sana, menunggu untuk dihitung ulang sampai matamu berkunang-kunang."
"Justru karena angka-angka itu tidak bisa lari ke mana-mana, aku harus menyelesaikannya sekarang sebelum tenggat waktu pukul dua siang!" balas Alma dengan suara mendesis. Ia merasa frustrasi karena pria di depannya ini sama sekali tidak memahami urgensi dari pekerjaannya. Bagi Aldo yang mungkin bekerja di divisi kreatif atau pemasaran—divisi yang sering kali dianggap santai dan fleksibel oleh staf keuangan—tenggat waktu hanyalah sebuah saran. Namun bagi Alma, tenggat waktu adalah hukum besi yang menentukan reputasi profesionalismenya di kantor ini.
"Baiklah, baiklah, nyonya manajer waktu," ucap Aldo sambil mengangkat kedua tangannya ke udara tanda menyerah secara simbolis. Namun, senyum di sudut bibirnya sama sekali tidak surut. Ia kemudian merogoh kantong celana bahan bagian depannya, mengeluarkan sebuah ponsel pintar berwarna hitam, lalu meletakkannya tepat di samping piring biskuit marie susu. "Tapi sebelum aku pergi memenuhi permintaanmu untuk kembali ke lantai sembilan, ada satu hal kecil yang harus kita selesaikan."
Alma mengernyitkan dahi, merasa curiga. "Apa lagi?"
"Nomor ponselmu," jawab Aldo singkat dengan nada tanpa dosa. "Waktu insiden tumpahan kopi di kafe itu, kita tidak sempat bertukar kontak karena kamu keburu ngomel-ngomel sambil membersihkan noda di kemejamu. Dan berhubung dokumen verifikasi proyek pemasaran ini membutuhkan koordinasi intensif antara divisi kita dan divisimu selama sebulan ke depan, kepemilikan nomor kontarmu adalah sebuah keharusan birokratis. Bukan atas dasar keinginan pribadi, demi Tuhan."
Alma terdiam. Alasan yang diberikan oleh Aldo memang masuk akal dari sudut pandang prosedur kantor, tetapi insting kewaspadaan Alma langsung berteriak keras. Berbagi nomor ponsel dengan pria menyebalkan ini sama saja dengan membuka pintu bagi gangguan-gangguan tidak penting di luar jam kerja.
❖ ❖ ❖
Belum sempat Alma merumuskan penolakan yang telak untuk mengusir permintaan konyol tersebut, situasi di sekitar kubikal mereka tiba-tiba berubah. Dari arah koridor utama divisi keuangan, terdengar suara langkah kaki yang mantap dan berwibawa. Suara sepatu pantofel berhak rendah yang menghantam lantai keramik dengan ritme tegas itu langsung membuat seluruh staf di ruangan tersebut menegakkan punggung secara otomatis. Pak Hendra, kepala divisi keuangan yang terkenal sangat disiplin, perfeksionis, dan tidak pernah mentolerir adanya interupsi atau obrolan santai di jam-jam sibuk, sedang berjalan mendekat ke arah area kubikal Alma.
Jantung Alma seolah berhenti berdetak selama sedetik. Jika Pak Hendra melihat ada pegawai dari divisi lain—terlebih lagi seorang pria dengan kemeja flanel santai dan piring biskuit bayi di mejanya—duduk-duduk santai mengobrol di jam kerja tanpa urusan mendesak, habislah riwayat reputasinya sebagai salah satu staf teladan.