Celap Celup

Amrullah Ibrahim
Chapter #8

Ritual "Celap Celup" yang Mengusik Iman

Suara ketukan hujan yang menimpa kanopi kafe bergaya vintage itu terdengar seperti metronom yang konstan, mengatur tempo sore yang bergerak lambat di sudut kota. Aroma biji kopi panggang bercampur dengan wangi kue mentega yang baru matang, menciptakan atmosfer hangat yang kontras dengan udara dingin di luar. Di salah satu meja sudut yang menghadap langsung ke jendela kaca besar berembun, Alma duduk dengan postur tegak, jemarinya melingkar sempurna di atas cangkir porselen putih berukir emas yang berisi teh Earl Grey panas. Asap tipis mengepul lembut, membawa aroma bergamot yang khas ke udara. Di seberangnya, Aldo duduk dengan posisi yang jauh lebih santai, hampir merosot di kursi kayu jati, sebelah tangannya menopang dagu sementara matanya menatap keluar jendela, mengamati pejalan kaki yang berlarian menghindari gerimis.

"Kamu tahu, Alma, masalah utama dari orang-orang zaman sekarang adalah mereka terlalu terobsesi dengan aturan tak tertulis yang diciptakan oleh masyarakat sendiri," ucap Aldo tiba-tiba, memecah keheningan yang sejak tadi diisi oleh suara musik akustik latar kafe. Suaranya terdengar santai, nyaris seperti gumaman seorang filsuf jalanan yang kehabisan bahan obrolan.

Alma menghela napas pelan, meletakkan cangkirnya di atas piring kecil dengan bunyi dentingan yang sangat halus. Ia menatap Aldo dengan pandangan menilai, seolah tengah mengamati spesimen langka di balik mikroskop. "Itu bukan aturan masyarakat, Aldo. Itu namanya etika ruang publik. Ada batasan-batasan dasar yang membuat peradaban ini tidak berjalan mundur menjadi kawanan primata. Kalau semua orang bertindak seenaknya tanpa peduli norma, dunia ini akan kacau."

"Kacau karena apa? Karena seseorang memotong antrean atau karena ada orang yang menaruh garpu di sebelah kiri?" balas Aldo, terkekeh kecil. Matanya beralih menatap Alma sepenuhnya, menikmati ekspresi serius yang mulai terukir di wajah perempuan itu. "Kamu hidup dalam sangkar aturan yang kamu buat sendiri, Alma. Setiap hal diatur, dari cara kamu melipat serbet sampai cara kamu memandang masa depan."

"Bukannya hidup teratur itu efisien?" bantah Alma, nada suaranya mulai naik satu oktaf, menunjukkan ketidaksukaannya terhadap cara pandang Aldo yang dianggapnya terlalu meremehkan keteraturan. "Keteraturan adalah bentuk penghormatan kita pada waktu dan ruang yang kita bagikan dengan orang lain. Kalau kamu datang ke tempat umum, kamu harus tahu bagaimana cara menempatkan diri. Etika itu bukan penjara, melainkan peta agar kita tidak tersesat dalam kebodohan kita sendiri."

"Peta kadang-kadang justru membuat kita melewatkan jalan-jalan pintas yang indah, Alma," kata Aldo dengan senyum miring yang selalu berhasil memancing emosi Alma. "Kamu terlalu sibuk membaca peta sampai lupa menikmati pemandangan di sekitar."

❖ ❖ ❖

Di balik perdebatan filosofis tentang norma sosial tersebut, terselip sebuah tujuan yang jauh lebih mendasar dan personal bagi Alma sore ini. Ia tidak datang ke kafe ini hanya untuk menikmati secangkir teh atau berdebat kusir dengan sahabat lamanya itu. Alma membawa sebuah misi besar yang telah ia susun rapi dalam kepalanya: ia ingin merombak total cara hidup Aldo yang dianggapnya kacau, tidak berarah, dan merugikan masa depan pria itu sendiri. Bagi Alma, hidup adalah sebuah proyek besar yang harus dikelola dengan manajemen risiko yang ketat. Ia ingin memastikan bahwa dalam kurun waktu lima tahun ke depan, Aldo memiliki karier yang mapan, investasi properti yang jelas, serta gaya hidup yang terstruktur dengan baik.

"Dengar, Aldo, tujuan kita ketemu hari ini bukan untuk membahas teori estetika atau filsafat jalanan," kata Alma, menegakkan punggungnya lebih tegak lagi, memberikan gestur otoriter yang biasa ia gunakan saat memimpin rapat di kantornya. Ia membuka tas kerjanya yang terbuat dari kulit sintetis hitam, lalu mengeluarkan sebuah buku catatan bergaris dengan sampul tebal berwarna biru tua. "Aku sudah merumuskan draf rencana hidup untukmu selama tiga tahun ke depan. Ini adalah target terukur yang harus kamu capai."

Aldo melirik sekilas ke arah buku catatan tebal itu, lalu kembali menatap wajah Alma dengan ekspresi ngeri yang dibuat-buat. "Tiga tahun? Alma, bahkan ramalan cuaca BMKG pun tidak berani menjanjikan apa yang akan terjadi tiga hari ke depan, dan kamu sekarang mau memprogram hidupku seperti sistem operasi komputer?"

"Ini bukan lelucon, Aldo," sahut Alma tajam, jemarinya mengetuk-ngetuk sampul buku catatan tersebut. "Tujuan utamaku hari ini adalah membuatmu sadar bahwa usia tiga puluhan bukanlah masa untuk mencoba-coba lagi. Kamu butuh stabilitas. Target pertama dalam draf ini adalah transisi kariermu dari pekerja freelance yang tidak menentu menjadi karyawan tetap di perusahaan konsultan manajemen tempat kantorku bermitra. Dengan begitu, kamu punya jaminan kesehatan, tunjangan hari tua, dan yang paling penting: rutinitas."

"Rutinitas," ulang Aldo, mengucapkan kata itu seolah-olah itu adalah racun paling mematikan di dunia. "Rutinitas adalah kuburan perlahan bagi kreativitas, Alma. Kenapa kamu begitu terobsesi dengan kepastian? Kepastian itu membosankan."

"Kepastian itu menyelamatkanmu dari kebangkrutan, Aldo! Coba lihat dompetmu bulan lalu. Kamu hampir tidak bisa membayar sewa apartemen karena sibuk membiayai proyek seni instalasi yang bahkan tidak menghasilkan keuntungan finansial sepeser pun," sergah Alma, suaranya mulai bergetar oleh amarah yang tertahan. "Tujuan hidupku membantumu bukan karena aku ingin mengaturmu demi kepentinganku sendiri, tapi karena aku lelah melihatmu terus-menerus hidup dalam ketidakpastian. Aku ingin kamu punya tujuan yang jelas: menikah, punya rumah dengan cicilan KPR yang lancar, dan memiliki tabungan pensiun."

"Dan bagaimana kalau tujuan hidupku bukan itu?" tanya Aldo perlahan, nada suaranya mendadak kehilangan nada canda, digantikan oleh keheningan yang tajam. "Bagaimana kalau tujuanku hanya sekadar menjalani hari tanpa harus terikat pada target-target buatan birokrat sepertimu?"

Alma terdiam sejenak. Tatapan mata Aldo menyiratkan sebuah perlawanan sunyi yang sudah bertahun-tahun coba iarobohkan. Namun, tekad Alma tidak mudah goyah. Ia memiliki visi yang kokoh tentang bagaimana sebuah kehidupan yang layak harus dijalani. Bagi Alma, kegagalan merencanakan sama dengan merencanakan kegagalan. Ia bertekad, sebelum sore ini berakhir, Aldo harus menyetujui setidaknya separuh dari poin-poin krusial yang ada di dalam buku catatan biru tua itu. Tujuan hidupnya hari ini adalah menaklukkan kekacauan di kepala Aldo dengan logika baja miliknya.

❖ ❖ ❖

Perdebatan yang awalnya berkutat di sekitar ranah karier dan finansial itu perlahan-lahan mulai bergeser ke wilayah yang lebih abstrak, menandai sebuah fase transisi dalam percakapan mereka sore itu. Suasana kafe yang semula hangat tiba-tiba terasa pengap oleh ketegangan emosional yang dibangun oleh benturan dua karakter yang bertolak belakang secara ekstrem. Alma merasa posisinya sebagai suara nalar sedang diuji oleh pembangkangan sistematis yang ditunjukkan oleh sikap acuh tak acuh Aldo. Di sisi lain, Aldo merasa bahwa dirinya sedang dipojokkan ke dalam sudut ruangan yang sempit, dipaksa mengenakan pakaian yang ukurannya tidak pernah pas di tubuhnya.

"Kamu selalu bicara tentang masa depan seolah-olah masa depan itu adalah sebuah tagihan pajak yang harus dibayar tepat waktu," ucap Aldo, memecah keheningan transisi tersebut sambil mengubah posisi duduknya. Ia meraih piring kecil berisi biskuit marie yang disajikan berdampingan dengan cangkir teh Alma. Piring itu berisi sekitar lima keping biskuit bundar berwarna cokelat muda dengan ukiran klasik di permukaannya.

"Memang begitu kenyataannya, Aldo!" balas Alma cepat, jari telunjuknya menunjuk ke udara sebagai penekanan. "Hidup itu penuh dengan kewajiban. Kalau kamu mengabaikan pajak, negara akan menyita asetmu. Kalau kamu mengabaikan masa depan, waktu akan menyita masa tuamu dalam kemiskinan. Kenapa kamu tidak bisa melihat hubungan sebab akibat yang begitu sederhana ini?"

"Karena tidak semua hal di dunia ini harus dijelaskan lewat rumus sebab-akibat yang kaku, Alma," kata Aldo dengan nada rendah namun penuh keyakinan. Ia mengambil satu keping biskuit marie dari piring tersebut, memutarnya di antara dua jarinya. "Kadang-kadang, hal terbaik dalam hidup justru terjadi ketika kita melepaskan kendali. Ketika kita berhenti menghitung setiap detik dan mulai membiarkan segalanya mengalir begitu saja."

"Mengalir bagaimana? Itu cuma dalih untuk orang-orang yang malas merencanakan masa depan!" seru Alma, napasnya mulai memburu. Ia merasa frustrasi karena argumen-argumen rasionalnya dibalas dengan filosofi abstrak yang tidak bisa dipegang. "Kamu tidak bisa membangun peradaban dengan prinsip 'mengalir begitu saja'. Peradaban dibangun di atas fondasi disiplin, keteraturan, dan kepatuhan pada aturan main yang disepakati bersama."

"Aturan main siapa?" tanya Aldo menantang. Matanya menatap lurus ke dalam mata Alma, membuat perempuan itu sedikit salah tingkah. "Aturan main orang-orang kolot yang takut menghadapi ketidakpastian? Hidup ini terlalu singkat untuk dihabiskan dengan mengikuti manual instruksi yang membosankan, Alma. Coba sesekali keluar dari kotakmu."

"Kotakku ini adalah tempat yang aman, terstruktur, dan rasional!" teriak Alma setengah berbisik, berusaha menjaga agar suaranya tidak terlalu menarik perhatian pengunjung kafe lainnya yang duduk di meja sebelah. "Dan aku tidak berniat keluar dari sana hanya karena kamu menganggapnya membosankan."

Transisi dari perdebatan intelektual menuju konfrontasi personal ini menciptakan sebuah medan magnet yang berbahaya di antara mereka. Alma merasa bahwa kesabarannya telah diuji hingga batas maksimal, sementara Aldo tampak menikmati setiap detik ketegangan tersebut, seolah-olah ia sedang memancing reaksi ekstrem dari perempuan yang selama ini dikenal paling tenang dan terkontrol di lingkaran pertemanan mereka. Di atas meja, jarak antara cangkir teh mahal Alma dan piring biskuit marie itu tiba-tiba terasa seperti garis demarkasi antara dua dunia yang saling berperang: dunia penuh aturan versus dunia penuh kebebasan tanpa batas.

Lihat selengkapnya