Celap Celup

Amrullah Ibrahim
Chapter #10

Gengsi, Teh Hangat, dan Jejak Pertanyaan

Suara decit engsel pintu utama apartemen terdengar begitu nyaring di telinga Alma yang sejak tadi terjebak dalam keheningan panjang sepanjang perjalanan pulang menggunakan taksi daring. Ia melangkah masuk ke dalam unit studio seluas empat puluh meter persegi miliknya yang selalu tampak rapi, steril, dan hampir tanpa cela. Tidak ada satu pun barang yang diletakkan sembarangan; sepatu tersusun lurus di rak khusus berdasarkan warna, kunci mobil tergantung rapi di kait magnetik dekat pintu, dan permukaan meja dapur pualam putih bersih dari noda sekecil apa pun. Namun, malam ini, keteraturan yang biasanya memberikan rasa aman itu justru terasa menyesakkan. Alma melepas sepatu hak tingginya tanpa merapikannya ke rak—sebuah pelanggaran kecil terhadap rutinitasnya sendiri yang langsung ia abaikan karena beban pikiran yang teramat berat.

Udara malam kota Jakarta terasa lembap setelah diguyur hujan deras sepanjang sore, menyisakan suara debuman pelan kendaraan dari kejauhan yang tertahan oleh kaca jendela kedap suara. Alma berjalan gontai ke arah dapur kecilnya, menyalakan lampu gantung temaram yang memancarkan cahaya kekuningan di atas meja makan minimalis. Di atas meja tersebut, sebuah laptop kerja bermerek ternama masih terbuka dalam keadaan sleep mode, dikelilingi oleh tumpukan dokumen laporan keuangan bulanan yang harus ia selesaikan sebelum tenggat waktu hari Senin mendatang. Ia berdiri mematung di depan meja dapur, menatap pantulan wajahnya sendiri pada layar hitam laptop yang mati, mencari sisa-sisa ketegasan yang biasanya terpancar dari sorot matanya.

"Kamu terlalu keras pada dirimu sendiri, Alma," gumamnya pelan, menirukan kembali gema suara Aldo di kepalanya, sebelum ia menggelengkan kepala dengan kuat untuk mengusir bayangan pria itu.

Ia meraih cangkir porselen putih polos dari rak piring, membawanya ke dekat dispenser air, lalu menuangkan air panas bersuhu delapan puluh derajat Celsius ke dalamnya. Tidak ada daun teh Earl Grey mahal seperti di kafe tadi sore; yang ia seduh hanyalah kantong teh celup hijau celup biasa yang ia beli dalam paketan besar di supermarket langganannya. Sambil menunggu tehnya larut, Alma berjalan mondar-mandir di atas lantai kayu vinil apartemennya, melipat kedua tangannya di depan dada dengan postur defensif. Gengsi yang ia bawa sejak meninggalkan meja nomor empat kafe itu masih membentengi dirinya rapat-rapat. Ia terus meyakinkan dirinya bahwa apa yang dikatakan Aldo sore tadi hanyalah omong kosong belaka—sebuah rasionalisasi murahan dari seorang seniman gagal yang mencoba membenarkan gaya hidupnya yang berantakan dan tidak bertanggung jawab.

❖ ❖ ❖

Kendati benteng pertahanan itu ia bangun setinggi mungkin untuk menutupi celah-celah kerapuhannya, tujuan sejati Alma malam ini perlahan bergeser dari sekadar merampungkan pekerjaan kantor menjadi sebuah upaya desperasi untuk membuktikan bahwa pilihannya selama ini adalah yang paling benar. Alma kembali duduk di kursi kerjanya, menarik laptopnya mendekat, dan menekan tombol power dengan gerakan penuh tekanan. Layar menyala terang, menampilkan tabel spreadsheet yang dipenuhi angka-angka anggaran, proyeksi laba, serta manajemen risiko lima tahun ke depan. Di sinilah letak kendali penuh yang ia damba-dambakan; di dunia digital yang terukur ini, tidak ada variabel acak yang bisa merusak bentuk atau mencemari kemurnian data.

"Semuanya sudah diatur dengan presisi," bisik Alma pada dirinya sendiri, jemarinya bergerak lincah di atas papan ketik, memasukkan rumus-rumus matematika finansial untuk memastikan tidak ada pengeluaran sekecil apa pun yang luput dari pengawasan.

Bagi Alma, hidup adalah sebuah pembukuan besar di mana setiap detik, setiap keputusan, dan setiap tindakan harus mendatangkan hasil yang sepadan dengan investasi energinya. Ia tidak ingin bernasib seperti orang-orang di luar sana yang membiarkan hari-hari mereka mengalir begitu saja tanpa arah, lalu mendapati diri mereka tua tanpa tabungan dan tanpa kepastian masa depan. Target utamanya malam ini adalah menyelesaikan draf restrukturisasi divisi sebelum jam sepuluh malam, lalu tidur tepat waktu pukul sebelas agar ia bisa bangun esok hari pukul lima pagi untuk melakukan yoga rutin selama tiga puluh menit. Rutinitas itu adalah hukum besi yang menjaga kewarasannya di tengah dunia yang kerap terasa terlalu liar untuk dikendalikan.

"Kenapa kamu masih memikirkan perkataan pria itu, Alma?" tanyanya pada layar komputer, merasa jengkel karena konsentrasinya terusik oleh memori tentang biskuit marie yang dicelupkan ke dalam cangkir teh.

Ia mencoba mengalihkan perhatiannya dengan membuka dokumen proposal proyek baru, membaca setiap paragraf dengan teliti. Namun, semakin ia mencoba fokus pada angka-angka dan narasi profesional tersebut, semakin kuat pula bayangan Aldo muncul di sela-sela baris teks. Aldo, dengan segala ketidakpeduliannya pada aturan sosial, berdiri di hadapannya dalam ingatan, memegang biskuit yang hancur dan basah, tersenyum sinis seolah menertawakan seluruh usahanya untuk hidup lurus dan teratur. Alma mendengus kesal, menutup paksa dokumen proposal tersebut dengan satu klik mouse yang kasar. Ia menyadari bahwa tujuannya malam ini untuk mencari ketenangan melalui pekerjaan telah gagal total, dikalahkan oleh sebuah pertanyaan sederhana yang terus mendesak masuk ke dalam ruang sadarnya: apakah keteraturan yang ia banggakan selama ini benar-benar sebuah bentuk penyelamatan, atau justru sebuah sangkar emas yang membuatnya mati rasa terhadap rasa hidup itu sendiri?

❖ ❖ ❖

Di tengah pergulatan batin yang semakin menekan tersebut, sebuah fase transisi sunyi merayap ke dalam ruang apartemennya yang dingin. Suara dengung kulkas dua pintu di sudut dapur terdengar semakin jelas seiring dengan semakin larinya waktu malam. Alma bangkit dari kursi kerjanya, berjalan menuju jendela kaca besar yang menghadap langsung ke panorama lampu-lampu pencakar langit ibu kota yang mulai meredup. Ia melipat kedua tangannya di depan dada, menempelkan dahinya yang terasa hangat ke permukaan kaca yang dingin. Jakarta di luar sana tampak begitu tenang dari lantai dua puluh dua ini, namun di bawah sana, jutaan orang sedang berjuang melawan kekacauan hidup mereka masing-masing, persis seperti Aldo yang hidup di antara ketidakpastian proyek seni dan dompet yang sering kali menipis sebelum akhir bulan.

"Dia bilang biskuit itu terlalu keras kalau dimakan kering," gumam Alma pelan, suaranya nyaris tenggelam oleh desau angin malam yang menampar kaca luar. Ia teringat kembali pada tekstur biskuit marie yang ia kenal sejak kecil—renyah, manis sederhana, dan kaku.

Transisi pemikiran itu membawanya pada refleksi yang jauh lebih dalam tentang karakter dirinya sendiri. Selama ini, Alma selalu memposisikan dirinya sebagai biskuit marie yang utuh, kering, kokoh, dan tidak mudah hancur oleh benturan apa pun di luar. Ia bangga dengan kekerasannya, dengan kemampuannya untuk bertahan dalam situasi apa pun tanpa pernah kehilangan bentuk aslinya. Namun, kata-kata Aldo sore tadi seolah menelanjangi arti dari kekakuan tersebut: apakah menjadi kokoh dan tidak tersentuh berarti kita benar-benar hidup, atau kita hanya sekadar bertahan dalam keadaan membeku?

"Kalau kamu tidak pernah mau melunak, kamu hanya akan menjadi keras dan hancur berkeping-keping saat ada tekanan yang terlalu besar," begitu kira-kira inti dari filosofi ngawur yang sempat dilontarkan Aldo sebelum insiden cangkir teh kotor itu terjadi.

Lihat selengkapnya