
Minggu ketiga bulan itu datang membawa badai kesibukan yang meruntuhkan pertahanan mental dan fisik di lantai sepuluh gedung korporat tempat Alma bekerja. Jam dinding di ruangan divisi akuntansi baru saja bergeser menunjuk pukul 21.45 malam, namun puluhan lampu meja staf masih menyala terang, memancarkan cahaya putih steril yang memantul di atas layar monitor komputer. Udara di dalam ruangan terasa dingin akibat pendingin ruangan yang dipatok terlalu rendah, berpadu dengan aroma kertas arsip tua dan sisa-sisa kotak makanan cepat saji yang berserakan di sudut-sudut meja. Alma duduk membeku di depan layarnya, jemarinya terus menari di atas papan tik dengan kecepatan yang mulai melambat, sementara matanya yang memerah menatap nanar deretan angka pada laporan audit tahunan yang seolah tidak pernah ada habisnya. Tekanan dari direksi untuk merampungkan rekapitulasi laba sebelum tenggat waktu akhir bulan membuat lingkaran lembur hingga larut malam menjadi sebuah rutinitas harian yang melelahkan, menguras habis cadangan tenaga dan kewarasannya sampai ke titik nadir.
"Alma, apakah sub-bagian pajak perusahaan sudah kamu validasi ulang dengan data fiskal terbaru?" tanya Pak Hartawan, atasannya, yang muncul di sebelah meja kerjanya sambil membawa segelas air mineral dengan wajah yang tidak kalah kusut.
"Sudah separuhnya, Pak. Tapi ada selisih sekitar dua belas juta rupiah pada pos pengeluaran logistik cabang barat yang belum sinkron dengan faktur pajak masukan," jawab Alma serak, suaranya bergesek pelan di tenggorokan yang kering akibat terlalu lama berada di ruangan ber-AC tanpa seteguk air hangat.
"Selesaikan malam ini juga sebelum kamu pulang, Alma. Besok pagi pukul delapan, laporan itu harus sudah berada di meja komisaris utama," pesan Pak Hartawan singkat sebelum ia berbalik badan dan melangkah gontai menuju ruangannya sendiri.
Alma menghela napas panjang, sebuah embusan udara berat yang membawa serta beban mental bermonoton kelabu. Grafik energinya benar-benar terkuras habis; kantung mata berwarna kehitaman tampak jelas menghiasi wajah pucatnya yang kini tanpa pulasan riasan berlebih. Di tengah badai korporat yang menuntut kesempurnaan tanpa kompromi ini, pikirannya tiba-tiba melayang jauh meninggalkan tumpukan angka-angka akuntansi, membayangkan secangkir teh hijau hangat dan ketenangan kedai kopi pinggir jalan yang biasanya menjadi tempat pelarian sementaranya. Namun, malam ini tidak ada ruang untuk melarikan diri; ia terjebak di dalam lingkaran setan kantor yang menuntut seluruh sisa jiwa raganya.
❖ ❖ ❖
Tujuan utama Alma malam itu sederhana namun terasa sangat mustahil dicapai: bertahan hidup di bawah tekanan pekerjaan korporat yang kejam, menyelesaikan validasi fiskal tanpa ada satu pun selisih angka, lalu keluar dari gedung perkantoran sebelum tengah malam tiba. Target hidupnya hari ini bukanlah lagi tentang mencapai promosi jabatan atau memukau jajaran direksi, melainkan sekadar merebut kembali hak dasarnya untuk tidur selama lebih dari empat jam di atas tempat tidur yang empuk. Ia ingin membuktikan pada dirinya sendiri bahwa sistem keteraturan yang ia bangun selama bertahun-tahun tidak akan runtuh hanya karena gelombang beban kerja yang datang bertubi-tubi.
"Aku harus kuat menyelesaikan ini. Sedikit lagi, angka-angka ini akan seimbang," gumam Alma pelan pada dirinya sendiri, mencoba menyalakan kembali sisa-sisa motivasi profesionalnya yang hampir padam.
Ia menegakkan punggungnya yang terasa kaku, memijat pelipisnya yang berdenyut nyeri akibat kurang istirahat, lalu kembali memfokuskan perhatian pada layar monitor yang memancarkan cahaya menyilaukan. Di dalam dunia akuntansi yang digelutinya, tujuan adalah harga diri; setiap rupiah harus dapat dipertanggungjawabkan, dan setiap kesalahan kecil adalah noda yang mencoreng reputasi kerjanya. Meskipun sekujur tubuhnya berteriak meminta istirahat, tekad baja di dalam diri seorang akuntan senior itu memaksanya untuk terus bertahan di depan layar komputer, mengabaikan rasa lapar yang melilit perut dan rasa perih di matanya.
"Mbak Alma, kalau butuh bantuan rekap data cabang barat, saya bisa bantu sebentar sebelum pulang," tawari Rini, staf junior divisinya, dengan nada suara penuh kepedulian.
"Tidak usah, Rini. Kamu sudah lembur sejak kemarin sore. Pulanglah dan istirahat, biar bagian ini saya selesaikan sendiri," jawab Alma tegas namun lembut, menolak uluran tangan juniornya demi menjaga standar tanggung jawab yang diembannya seorang diri.
Tujuan hidupnya pada malam yang dingin itu telah dikunci rapat oleh rasa profesionalisme yang tinggi. Ia bertekad menyelesaikan seluruh kewajibannya malam ini juga, betapapun tingginya harga yang harus dibayar oleh fisik dan mentalnya, agar esok hari ia bisa kembali melangkah dengan kepala tegak di koridor kantor yang penuh persaingan.
❖ ❖ ❖
Transisi menuju akhir pekan membawa perubahan ritme yang drastis ketika sore hari tiba di hari Jumat berikutnya. Setelah melewati seminggu penuh lembur yang melelahkan dan menguras emosi, Alma akhirnya diizinkan meninggalkan kantor sedikit lebih awal pada pukul 16.00 sore. Langkah kakinya terasa ringan namun gontai saat ia berjalan menyusuri trotoar kota menuju kedai kopi pinggir jalan langganannya—tempat yang selama ini terbukti ampuh menjadi penawar racun kepenatan korporat. Suasana sore itu dihiasi oleh langit kelabu yang menggantung rendah, menebarkan aroma petrikor yang khas tatkala titik-titik hujan pertama mulai jatuh membasahi aspal jalanan. Alma mengenakan mantel wol tipis berwarna krem, merapatkan kerahnya untuk menahan embusan angin dingin yang menyelusup di sela-sela gedung tinggi.
"Sore, Mbak Alma. Tegang sekali kelihatannya minggu ini," sapa Beni ramah dari balik meja bar kedai begitu melihat sosok wanita akuntan itu mendorong pintu kaca kedai.
"Sangat melelahkan, Beni. Mingguku penuh dengan angka-angka pajak dan rapat evaluasi tanpa ujung," balas Alma sambil tersenyum tipis, merapikan helai rambutnya yang sedikit berantakan kena angin.
Transisi dari suasana kantor yang bising, penuh tekanan, dan kaku menuju ketenangan kedai kopi kecil ini selalu berhasil memberikan kelegaan instan bagi paru-parunya. Ia memesan secangkir teh hijau hangat tanpa gula seperti biasa, lalu melangkah pelan mencari tempat duduk favoritnya yang selama ini menyimpan banyak kenangan kecil tentang pertemuannya dengan sang pelukis jalanan. Di dalam benaknya, terselip sebuah harapan samar bahwa ia bisa duduk tenang sambil menikmati sore, melupakan sejenak tumpukan spreadsheet kantor yang masih menghantui pikirannya.