
Sore hari yang temaram di minggu kedua bulan Oktober menghadirkan rintik hujan halus yang mulai membasahi jendela kaca besar di lantai atas sebuah gedung tua di kawasan seni kota. Ruangan itu jauh dari kesan rapi dan steril seperti kantor divisi keuangan tempat Alma biasa menghabiskan hari-harinya. Di sini, di studio kerja pribadi milik Aldo, udara dipenuhi oleh aroma pekat minyak cat, terpentin, dan debu kayu tua yang mengendap di setiap sudut ruangan. Cahaya lampu gantung kuning temaram menggantung rendah di atas meja kerja yang dipenuhi tumpukan tabung cat akrilik yang tutupnya berserakan entah di mana. Suara dengung pelan dari kipas angin tua di sudut ruangan berpadu dengan suara ketukan rintik hujan di luar sana, menciptakan atmosfer yang asing sekaligus membingungkan bagi seorang wanita yang terbiasa hidup di bawah aturan sistematis dan barisan angka desimal yang presisi.
Alma berdiri tepat di ambang pintu studio dengan napas yang tertahan. Kemeja formal berwarna biru muda yang ia kenakan tampak kontras dengan kekacauan visual yang menyambut pandangannya begitu ia melangkah masuk. Di sebelah kanannya, tumpukan kanvas berbagai ukuran bersandar tak beraturan di dinding plester putih yang mengelupas di beberapa bagian. Ada kanvas yang sudah penuh dengan goresan cat minyak ekspresif, ada pula yang masih berupa kain putih polos yang menguning dimakan usia. Di atas meja kayu besar di tengah ruangan, kertas-kertas sketsa berserakan tumpang tindih dengan cangkir kopi bekas kemarin yang belum dicuci, kuas-kuas lukis kering yang bulunya sudah megar, serta gulungan amplop pendaftaran pameran seni yang tampak belum pernah dibuka sejak sebulan lalu.
Rasa penasaran yang teramat sangatlah yang telah membawa Alma melangkah keluar dari zona nyamannya sore ini. Setelah berbagai insiden rumit yang menyeret nama mereka beberapa waktu lalu—mulai dari tumpahan kopi di kafe bawah gedung hingga jebakan audit birokrasi—Alma merasa ada sisi dari kehidupan Aldo yang belum sepenuhnya ia pahami. Pria itu selalu tampak santai, seolah tidak punya beban hidup, namun di balik pembawaan riangnya itu, tersimpan sebuah dunia yang berjalan tanpa kendali. Dan kini, berdiri langsung di tengah sarang kekacauan sang seniman, Alma merasakan insting dasarnya sebagai pengawas operasional langsung bergolak.
Bagi Alma, melihat sebuah ruang kerja yang tidak teratur sama rasanya seperti melihat neraca keuangan yang tidak seimbang; ada rasa gatal yang luar biasa di ujung jemarinya untuk segera merapikan, mengelompokkan, dan menata ulang semuanya kembali ke tempat yang seharusnya. Ia melangkah perlahan, menyentuh ujung meja yang berdebu dengan sebelah jarinya, sementara matanya menyapu setiap jengkal sudut ruangan yang tampak seperti medan perang sisa-sisa ledakan ide kreatif yang tak beraturan.
❖ ❖ ❖
"Selamat datang di markas besar kekacauan estetika, Nona Keuangan," suara Aldo tiba-tiba terdengar dari balik tumpukan kanvas besar di sudut ruangan. Pria itu muncul mengenakan kaos polos abu-abu belel dengan noda cat warna-warni di bagian dada, tangannya memegang lap kain kotor yang tampak basah. "Aku tidak menyangka kamu benar-benar akan menepati kata-katamu untuk datang berkunjung ke kandang singa."
Alma menoleh, melipat kedua tangannya di dada dengan tatapan menyelidik. "Aku datang bukan untuk tamasya, Aldo. Aku ke sini karena aku ingin melihat dengan mata kepalaku sendiri seberapa parah kekacauan yang kamu maksud saat kita berbicara di telepon semalam."
Aldo meletakkan kain lapnya di atas tumpukan koran bekas, lalu tersenyum lebar sambil berjalan mendekat. "Dan? Bagaimana penilaian sang auditor profesional terhadap studionu ini? Apakah laporan keuangannya merah total?"
"Merah total adalah pujian, Aldo," tukas Alma tajam, menggelengkan kepalanya perlahan sambil menunjuk ke arah meja kerja yang berantakan. "Ini bukan lagi soal laporan merah, ini sudah masuk kategori bencana nasional. Bagaimana bisa kamu bertahan hidup di tengah ruangan sekacau ini? Tenggat waktu pendaftaran pameran galeri nasional tinggal menghitung hari, tapi berkas pendaftaranmu masih tergulung rapi di dalam amplop cokelat yang bahkan belum diisi formulirnya!"
"Ah, soal itu..." Aldo menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, tertawa kecil tanpa rasa bersalah. "Kurir dari galeri itu datang minggu lalu, tapi saat aku melihat formulirnya yang panjangnya mirip lembar pajak perusahaan multinasional, jiwaku langsung menolak untuk membacanya. Melukis itu butuh kebebasan jiwa, Alma. Birokrasi formulir administrasi adalah pembunuh terbesar imajinasi seorang seniman."
"Omong kosong," potong Alma cepat, nada suaranya meninggi mencerminkan kejengkelan yang tak bisa lagi ditahan. "Imajinasi tidak akan bisa menyelamatkanmu jika karya-karyamu didiskualifikasi hanya karena kamu melewatkan batas waktu pengiriman berkas administrasi! Kamu punya bakat besar, Aldo. Lukisan-lukisanmu di sudut sana luar biasa. Tapi kalau manajemen waktumu seperti ini, semua karyamu hanya akan berakhir menjadi tumpukan sampah yang membusuk di gudang."
Tujuan Alma datang ke tempat ini sebenarnya sederhana: ia hanya ingin memastikan bahwa Aldo tidak lagi membuat masalah yang bisa menyeretnya ke dalam pusaran intrik kantor. Namun, seiring ia berdiri di sana, melihat tumpukan kanvas tak terawat dan tenggat waktu pameran yang terlewat begitu saja di depan matanya, jiwa manajer proyek yang bersemayam kuat dalam diri Alma terpanggil secara otomatis. Ia tidak tahan melihat potensi besar disia-siakan hanya karena kecerobohan dan kemalasan mengurus hal-hal administratif yang sepele.
"Dengar ya, seniman ceroboh," ucap Alma melangkah maju mendekati meja kerja Aldo, matanya menyalang serius. "Kalau kamu membiarkan kesempatan pameran ini hilang begitu saja hanya karena malas mengisi formulir, aku pastikan bukan cuma karyamu yang kubuang ke tempat sampah, tapi juga seluruh koleksi kuas mahalmu."
Mendengar ancaman telak dari Alma, Aldo justru terbahak pelan. Suara tawanya menggema di dalam studio yang dipenuhi bau cat minyak tersebut, sama sekali tidak menunjukkan rasa gentar, melainkan sebuah geli batin yang tulus.
"Wah, ancaman yang sangat mematikan dari seorang manajer anggaran," komentar Aldo sambil menyandarkan pinggulnya ke tepi meja kerja yang berantakan. Ia melipat tangan di dada, memperhatikan bagaimana wanita di depannya itu mulai melepas jas kerjanya, melipatnya dengan rapi, lalu meletakkannya di atas kursi kayu terdekat. "Kamu tahu, Alma? Kalau galeri seni itu tahu ada seorang auditor keuangan bertangan besi yang siap meneror hidupku demi sebuah formulir pendaftaran, mereka pasti akan langsung mengangkatmu sebagai direktur operasional tetap di sana."
"Lucu sekali," sindir Alma datar, meskipun ia sendiri tidak bisa menahan diri untuk tidak merapikan beberapa kuas lukis yang berserakan di dekat siku Aldo agar tidak tersenggol jatuh ke lantai. "Simpan leluconmu untuk nanti, Tuan Seniman. Sekarang, ambil formulir pendaftaran itu, keluarkan dari amplopnya, dan mari kita selesaikan sebelum hari gelap."
Aldo menghela napas panjang, menyerah pada tatapan mata Alma yang tidak bisa dibantah. Ia merogoh tumpukan kertas di bawah tumpukan majalah seni lama, lalu menarik keluar selembar amplop cokelat besar yang agak kusut di bagian ujungnya. Ia menyerahkan amplop itu kepada Alma dengan gestur menyerahkan diri secara simbolis.
"Baiklah, Jenderal Keuangan. Perintah tuan putri akan segera dilaksanakan," ucap Aldo dengan nada menyerah yang dibuat-buat. "Apa instruksi selanjutnya untuk pasukannya yang tidak disiplin ini?"
Alma menyambar amplop cokelat tersebut dari tangan Aldo dengan gerakan cepat. Ia membukanya, menarik keluar formulir pendaftaran galeri yang dimaksud, lalu membentangkannya di atas meja yang baru saja ia singkirkan dari cangkir kopi kosong. Matanya langsung bergerak cepat menyusuri setiap baris instruksi, kolom isian data diri, daftar riwayat pameran sebelumnya, hingga rincian foto karya yang harus dilampirkan secara digital maupun cetak.
"Pertama-tama," kata Alma mulai mengambil alih kendali penuh atas ruangan tersebut, suaranya berubah menjadi tegas dan terstruktur seperti saat ia memimpin rapat audit di kantor. "Kita harus memilah berkas-berkas ini berdasarkan prioritas. Formulir pendaftaran ini batas akhirnya adalah hari Jumat pukul empat sore. Artinya, kita punya waktu kurang dari empat puluh delapan jam untuk merapikan portofolio, mencetak foto karya beresolusi tinggi, dan melengkapi tanda tangan kurator."
Aldo memperhatikan cara Alma bekerja dengan tatapan penuh kekaguman terselubung. Di balik kerapuhan emosional yang sempat ditunjukkan wanita itu di pantri beberapa waktu lalu, kini sosok Alma yang profesional, cekatan, dan penuh percaya diri kembali bangkit sepenuhnya. Ada aura kepemimpinan yang kuat yang terpancar dari setiap gerakannya, mengubah studio seni yang semula berantakan itu perlahan-lahan mulai tersusun dalam kendali seorang manajer proyek yang handal.
"Kamu luar biasa, tahu," bisik Aldo pelan, matanya tidak lepas dari jemari Alma yang mulai memilah-milah lembaran kertas dengan sangat teliti.
"Fokus, Aldo," balas Alma tanpa mendongakkan kepalanya. "Dan ambilkan aku sapu tangan bersih dari laci sebelah sana. Meja kerjamu ini sudah seperti sarang debu selama tiga tahun terakhir."
❖ ❖ ❖
Namun, proses penataan ulang di studio itu tidak berjalan semulus yang dibayangkan. Tantangan pertama langsung muncul ketika Alma mencoba membuka laci meja kerja Aldo untuk mencari staples dan klip kertas, namun laci tersebut ternyata macet total akibat tumpukan brosur pameran lama yang terjepit di bagian dalam.
"Laci ini terkunci atau memang sengaja direkat mati oleh jin penunggu studio?" keluh Alma sambil menarik gagang laci kayu tersebut dengan sekuat tenaga hingga napasnya sedikit tersenggol.
Aldo tertawa kecil, melangkah mendekat untuk membantu. "Ah, itu laci keramat. Jangan dibuka sembarangan, isinya adalah kumpulan sketsa gagal dari masa kuliahku dulu yang kalau kamu lihat, bisa membuatmu mempertanyakan kewarasanku sebagai seniman."
"Justru sketsa gagal itu yang harus kita singkirkan agar ada ruang untuk berkas penting!" sergah Alma tegas. Dengan bantuan dorongan siku dari Aldo yang memiliki tenaga lebih besar, laci kayu tua itu akhirnya terbuka dengan bunyi kriet yang nyaring, mengeluarkan kepulan debu tipis yang membuat Alma terbatuk kecil sambil melambaikan tangan di depan wajahnya.