Celap Celup

Amrullah Ibrahim
Chapter #16

Toko Kelontong Warisan dan Kuas yang Terbengkalai

Lampu neon berwarna putih terang di langit-langit Toko Kelontong Berkah Ibu berdengung pelan, memancarkan cahaya steril yang menyinari tumpukan karung beras karungan, botol kecap manis berdebu, dan deretan keranjang plastik berisi bumbu dapur. Di balik meja kasir kayu jati tua yang permukaannya sudah mulai mengelupas, Faris berdiri dengan bahu merosot, menatap kosong ke arah jalanan sore kota yang basah oleh sisa hujan. Jarum jam dinding yang berbentuk buah apel di atas rak rokok menunjuk tepat pukul 16.30 sore, menandakan sudah lebih dari tujuh jam ia terpaku di ruangan berukuran enam kali sepuluh meter ini tanpa sempat memegang kuas atau mencoretkan pensil di atas kertas. Udara di dalam toko itu berbau khas: campuran antara aroma karung goni tua, kapur barus pencegah serangga, dan sabun colek curah yang menguap dari ember-ember besar di dekat pintu masuk. Bagi Faris, ruangan ini bukanlah sekadar tempat mencari nafkah, melainkan sebuah sangkar beton berdindingkan rak dagangan yang perlahan-lahan mengunci rapat seluruh impian masa mudanya sebagai seorang perupa.

"Faris, jangan melamun saja! Itu timbangan gula pasirnya tolong diperiksa lagi, jangan sampai pembeli protes karena kurang lima gram," seru suara bariton berat dari arah gudang belakang, disusul oleh bunyi langkah kaki bapaknya yang mengenakan celana bahan cokelat pudar dan kaus oblong putih bernoda kopi.

"Iya, Pak. Ini sedang saya periksa ulang," jawab Faris datar, suaranya terdengar hambar, kehilangan separuh nyawa yang biasanya terpancar dari seorang pemuda lulusan seni rupa murni institut kesenian ternama.

Sebagai sarjana seni yang lulus dengan predikat memuaskan, hari-hari Faris kini tidak lagi diisi dengan eksperimen warna akrilik di atas kanvas besar atau diskusi panjang tentang sejarah seni rupa modern bersama teman-teman seangkatannya. Sebaliknya, rutinitas hariannya direduksi secara kejam menjadi kegiatan menimbang beras, mencatat sisa stok gula pasir, menghitung kembalian uang receh, dan melayani pembeli paruh baya yang menawar harga sabun mandi eceran. Tuntutan keluarga yang konservatif tidak memberikan sedikit pun ruang toleransi bagi dunia seni; bagi kedua orang tuanya, kanvas adalah barang tidak berguna, cat minyak adalah pemborosan uang yang sia-sia, dan kesenian secara keseluruhan adalah sebuah kemewahan abstrak yang sama sekali tidak bisa dimakan untuk menyambung hidup. Setiap kali Faris mencoba menyelipkan sebuah buku sketsa kecil di laci kasir, sang ayah pasti akan lewat, meliriknya dengan tatapan tajam penuh kekecewaan, lalu menyuruhnya membuang kertas-kertas "tidak produktif" itu ke tempat sampah.

Waktu bagi Faris di dalam toko kelontong ini tidak berjalan maju menuju masa depan yang dicita-citakannya, melainkan berputar mundur, menyeretnya kembali ke dalam cengkeraman ekspektasi keluarga yang kaku dan mematikan jiwa kreatifnya secara perlahan tanpa ampun. Ia merasa dirinya terjebak dalam lingkaran waktu yang hampa, di mana setiap detik dihitung berdasarkan omset penjualan harian, bukan berdasarkan sapuan kuas atau goresan emosi yang jujur.

❖ ❖ ❖

Di tengah himpitan rutinitas toko yang menyesakkan dada itu, Faris mematok satu tujuan hidup yang sangat sederhana namun terasa amat berat untuk diperjuangkan: bertahan hidup secara mental tanpa harus kehilangan kewarasan jiwanya sebagai seorang seniman. Di balik senyum ramahnya yang dipaksakan saat melayani ibu-ibu komplek yang membeli telur satu kilogram, tersimpan sebuah tekad membara untuk menyelamatkan setidaknya satu sudut kecil dari hidupnya dari cengkeraman pragmatisme keluarga. Ia ingin membuktikan kepada ayahnya—meskipun dalam diam—bahwa seorang lulusan seni rupa tidak harus menjadi pengemis kegagalan, dan bahwa jiwa kreatif tidak bisa mati hanya karena dipaksa menghitung laba rugi dagangan sembako.

"Aku harus mencari cara agar bisa kembali melukis, meskipun hanya di malam hari saat toko sudah tutup rapat," gumam Faris pelan pada dirinya sendiri, jemarinya mengetuk-ngetuk permukaan meja kasir dengan gelisah.

Target utamanya hari ini adalah menyelesaikan pembukuan keuangan toko sebelum jam sembilan malam, merapikan seluruh stok barang dagangan di rak depan, lalu menyelinap ke kamarnya di lantai dua untuk membuka kotak rahasia berisi kuas-kuas lama yang sudah lama tidak tersentuh. Bagi Faris, impian itu bagaikan api kecil di tengah badai salju; jika ia membiarkannya padam, maka ia tidak akan berbeda dari barang-barang dagangan di sekelilingnya—mati rasa, tidak berjiwa, dan hanya menunggu untuk dibeli oleh orang lain. Ia ingin membebaskan dirinya dari beban ekspektasi konservatif orang tuanya yang selalu membanding-bandingkan kesuksesannya dengan anak-anak tetangga yang bekerja sebagai pegawai bank atau PNS berpenghasilan tetap.

"Faris, nanti malam setelah toko tutup, jangan lupa susun kotak mi instan yang baru datang dari distributor di gudang," teriak Pak Hartono—ayahnya—dari balik tumpukan kardus rokok.

"Baik, Pak. Nanti saya kerjakan setelah jam sembilan," jawab Faris patuh, menelan mentah-mentah rasa sesak di dadanya.

Tujuan hidupnya hari ini telah digariskan oleh perintah sang ayah, namun di dalam benaknya, sebuah rencana perlawanan kecil mulai dirajut. Ia tidak berniat memberontak secara terbuka—ia tahu persis betapa kerasnya watak keluarganya—tetapi ia bertekad untuk mencuri waktu dari malam yang gelap demi mengembalikan kuas-kuas seninya yang terbengkalai ke atas permukaan kanvas, menjaga agar percikan api kreativitasnya tidak padam disiram oleh air dingin rutinitas kelontong.

❖ ❖ ❖

Transisi dari suasana pagi yang sibuk melayani pembeli menuju keheningan malam di toko kelontong itu terjadi perlahan seiring dengan turunnya matahari di balik deretan ruko tetangga. Pukul 20.00 malam, arus pembeli mulai mereda, menyisakan deru suara kipas angin gantung tua yang berputar lambat di langit-langit toko. Faris berdiri di balik meja kasir, merapikan lembar nota penjualan hari ini ke dalam binder biru tua, merasakan transisi ritme fisik yang melelahkan dari berdiri seharian menimbang barang. Lampu jalan di luar mulai menyala kuning temaram, memantul di kaca jendela toko yang dipenuhi stiker promosi minyak goreng dan sabun cuci piring.

"Sudah sepi, Ris. Tutup setengah saja pintunya, biar bapak bisa istirahat di dalam," suara Pak Hartono terdengar dari arah ruang belakang, menandakan akhir dari shift operasional fisik toko hari itu.

"Baik, Pak. Segera saya tutup," balas Faris patuh.

Lihat selengkapnya