Celap Celup

Amrullah Ibrahim
Chapter #21

Runtuhnya Garis Waktu di Layar Monitor

Cahaya pagi yang masuk melalui jendela kaca lantai sepuluh gedung korporat tidak lagi membawa kehangatan, melainkan kilatan cahaya merah menyala yang memantul tajam di layar komputer Alma. Tepat pukul 08.15 WIB, sebuah surel resmi dengan lambang garuda emas mendarat di kotak masuk utamanya, membawa pengumuman perubahan regulasi makroekonomi nasional yang serta-merta membekukan seluruh perizinan proyek properti skala masif. Proyek bernilai triliunan rupiah itu telah Alma susun timeline-nya secara cermat, terstruktur, dan tanpa cacat selama dua tahun terakhir. Udara di ruang kerja divisi akuntansi mendadak terasa hampa, dipenuhi keheningan mencekam saat para staf lain terpaku menatap layar monitor masing-masing. Di atas meja kerjanya yang rapi, tumpukan berkas berwarna biru tua kini tampak seperti nisan-nisan kecil yang menandai kematian sebuah babak karier yang ia banggakan. Bagi Alma, waktu tidak lagi bergerak maju; detik-detik di jam dinding kantornya mendadak terasa menghujam dada layaknya jarum es, menyadarkannya bahwa seluruh hidup yang ia tata dengan begitu rapi, terukur, dan steril ternyata bisa runtuh lebur hanya dalam kurun waktu lima menit.

"Alma, apakah kamu sudah membaca surel dari kementerian?" tanya Rini dengan suara bergetar, berdiri di sebelah meja Alma sambil memegang cangkir kertas yang hampir tumpah.

"Sudah, Rini. Aku sedang melihatnya," jawab Alma datar, suaranya terdengar hampa tanpa emosi, mencerminkan kejutan psikologis yang begitu telak hingga melumpuhkan pita suaranya.

Dua puluh empat bulan kerja keras, ratusan baris data kompleks, dan target-target presisi yang telah ia patok mati-matian hancur berkeping-keping tanpa sisa. Selama dua tahun ini, Alma mengorbankan akhir pekannya, mengabaikan kehidupan sosialnya, dan bahkan merusak benteng emosionalnya sendiri demi memastikan setiap lini masa proyek properti itu berjalan sesuai jadwal. Kini, sebuah keputusan birokratis tingkat tinggi menghapus seluruh kerja keras tersebut dengan satu ketukan tombol. Monitor komputer masih menampilkan grafik timeline yang ia buat dengan susah payah, kini diberi tanda garis merah tebal bertuliskan 'DIBEKUKAN HINGGA WAKTU YANG TIDAK DITENTUKAN'. Ia memejamkan matanya rapat-rapat, mencoba menarik napas dalam-dalam, namun rongga dadanya terasa sesak seolah dihantam beban seberat ribuan ton. Dunia profesional yang selama ini ia agung-agungkan ternyata sangat rapuh, tunduk pada angin politik dan regulasi yang bisa berubah dalam semalam.

❖ ❖ ❖

Di tengah reruntuhan garis waktu yang porak-poranda itu, tujuan hidup Alma berubah secara drastis dalam sekejap mata. Jika sebelumnya tujuan utamanya adalah mempertahankan presisi laporan dan mengamankan promosi jabatan sebagai kepala divisi audit, kini gol utamanya terasa jauh lebih mendasar dan menyedihkan: menyelamatkan sisa-sisa kewarasannya agar tidak runtuh total di hadapan rekan-rekan sekantornya. Ia ingin membuktikan kepada dirinya sendiri bahwa ia bukan sekadar mesin pencetak spreadsheet yang kehilangan fungsi saat sistemnya dimatikan, melainkan seorang manusia yang mampu bertahan di tengah badai kehancuran karier yang paling telak sekalipun.

"Aku tidak boleh menangis di sini. Tidak di depan mereka," batin Alma memperingatkan dirinya sendiri, kuku-kukunya mencengkeram erat tepi meja kerja hingga buku-buku jarinya memutih.

Target utamanya hari ini adalah mengumpulkan seluruh dokumen fisik proyek yang dibekukan, merapikannya ke dalam boks arsip tanpa membuat keributan, lalu mengajukan cuti darurat kepada Pak Hartawan sebelum siang menjelang. Ia tidak ingin dikasihani; ia ingin keluar dari ruangan itu dengan kepala tegak, meskipun hatinya sudah hancur berkeping-keping menjadi debu. Tujuan profesional yang ia bangun selama bertahun-tahun kini telah berubah menjadi abu, memaksa dirinya untuk memikirkan kembali arti dari sebuah pencapaian hidup yang selama ini ia agungkan setengah mati.

"Alma, kamu dipanggil ke ruang rapat utama oleh Pak Hartawan dan jajaran direksi sekarang," bisik Rini pelan, menyampaikan pesan dari atasannya dengan tatapan penuh rasa iba.

"Baik, aku akan ke sana," jawab Alma singkat, menegakkan punggungnya yang terasa kaku, lalu merapikan letak kemejanya yang sedikit kusut sebelum berdiri dari kursi kerjanya.

Tujuan hidupnya kini mengerucut pada satu titik: menyelesaikan pertemuan terakhir itu dengan sisa-sisa martabat profesional yang masih ia miliki, lalu melangkah keluar meninggalkan gedung korporat yang telah merenggut dua tahun usia mudanya tanpa ampun.

❖ ❖ ❖

Transisi dari ruangan kubikel kerjanya yang steril menuju ruang rapat utama lantai sepuluh terasa bagaikan berjalan di atas titian api yang membara. Setiap langkah kaki Alma di atas lantai marmer mengkilap terasa sangat berat, seolah sepatunya dibebani timah hitam yang menyeretnya jatuh ke bumi. Sepanjang koridor panjang itu, beberapa rekan kerja dari divisi lain menatapnya dengan pandangan campur aduk—ada yang penasaran, ada yang mencibir, dan banyak pula yang menatapnya dengan rasa kasihan yang justru membuat dada Alma semakin sesak. Ia merapatkan bibirnya rapat-rapat, menjaga agar ekspresi wajahnya tetap dingin dan tidak terbaca, sebuah topeng profesional terakhir yang ia kenakan untuk menutupi badai kehancuran di dalam jiwanya.

"Masuklah, Alma," ucap Pak Hartawan dengan suara berat saat Alma membuka pintu kaca ruang rapat yang besar dan dingin itu.

Di dalam ruangan tersebut, jajaran direksi duduk mengelilingi meja oval kayu jati yang megah, dikelilingi oleh layar proyektor besar yang masih menampilkan grafik proyek properti yang kini telah diberi stempel pembekuan merah. Transisi suasana dari kedisiplinan rutin harian kantor menuju pemandangan vonis mati karier ini menyadarkan Alma bahwa hidupnya telah bergeser ke fase yang sama sekali baru—fase di mana seluruh perencanaan matang yang ia banggakan tidak lagi memiliki nilai tawar di hadapan dinamika eksternal yang kejam.

Alma menarik napas panjang, melangkah masuk ke tengah ruangan, lalu menarik kursi di ujung meja untuk duduk dengan postur tegap sempurna. Ia menatap satu per satu wajah para direktur yang tampak menghindari tatapannya, sebuah pertanda jelas bahwa keputusan ini sudah bulat dan tidak bisa diganggu gugat oleh siapapun di lantai ini.

Lihat selengkapnya